
Keesokan harinya, tepat pukul 7 pagi Justin sudah pergi dari rumah Amora. Dia mengendarai mobilnya dengan kencang untuk menuju ke markas, dia harus memastikan bahwa apa yang anak buahnya katakan semalam adalah benar.
Jalanan pagi yang masih cukup sunyi membuat mobilnya melaju dengan sangat kencang, hingga beberapa menit saja dia sudah sampai di tempat tujuan.
"Selama datang, Tuan!"
Justin menganggukkan kepalanya untuk membalas sapaan anak buahnya, dia lalu berjalan masuk ke dalam markas mereka.
"Tunjukkan padaku di mana posisi Lucas saat ini!"
Dengan sigap salah satu anak buah Justin langsung memberikan ponselnya yang sudah terhubung dengan seseorang, dan ponsel itu langsung menunjukkan sebuah rumah berwarna putih dengan ukuran yang cukup besar.
"rumah itu ada di jalan Bunga nomor 12, Tuan! Ada 4 orang anak buah kita yang berjaga di sana!"
"Apa kaliam yakin kalau Lucas ada di sana?"
Lelaki itu menganggukkan kepalanya. "Ya, Tuan! Saya sendiri sudah melihatnya."
Justin terdiam dengan sorot mata yang sangat tajam, tetapi tiba-tiba ponsel yang ada ditangannya langsung padam dengan diiringi suara teriakan.
"Sepertinya mereka tau kalau anak buah kita ada di sana, Tuan!"
Ya, Justin sempat mendengar suara teriakan dari anak buahnya. "Kita ke sana sekarang juga!"
Mereka lalu segera pergi untuk menemui Lucas, Justin sudah membulatkan tekat kalau hari ini dia harus menemui laki-laki itu.
Sementara itu, di rumah Amora terlihat Devan sudah membuka kedua matanya. Dia memegangi kepalanya yang terasa berat, lalu mencoba untuk bangun walau harus perlahan-lahan.
"Jam berapa ini?"
Dia celingukan ke sana-kemari untuk mencari ponselnya, dan benda pipih itu ternyata ada di atas meja.
Matanya membulat sempurna saat melihat kalau sekarang sudah pukul 8 pagi, dengan cepat dia bangun dan bergegas ke kamar mandi.
Namun, langkahnya terhenti saat menyadari sesuatu. "Tunggu, aku ada di mana ini?" Dia lalu memperhatikan kesekitar kamar, dan langsung bernapas lega saat tau kalau ini adalah rumah Amora.
Setelah selesai membersihkan tubuh, Devan langsung memakai pakaian yang ada di dalam lemari. Sebenarnya dia merasa aneh karna ada banyak pakaian yang ukurannya sama dengan tubuhnya, seolah-olah memang sudah disiapkan untuknya.
__ADS_1
Tidak mau ambil pusing, dia langsung keluar dari kamar dan berpapasan langsung dengan Amora.
"Kau sudah bangun?"
Amora menganggukkan kepalanya. "Ya, ayo kita sarapan!" Dia tersenyum lalu menggandeng lengan Devan membuat laki-laki itu langsung tersenyum lebar.
"Aaargh!"
Tiba-tiba mereka berdua terlonjak kaget saat mendengar suara teriakan seseorang, sontak Devan dan Amora berbalik dan masuk ke dalam kamar tamu yang ada di samping kamar Justin.
Brak!
Niki yang ternyata ada di dalam kamar itu langsung melihat ke arah pintu, dia lalu berlari dan menubruk tubuh Devan sampai laki-laki itu hampir terjungkal ke belakang.
"Kakak, huhuhu!"
Semua orang sangat terkejut saat melihat Niki menangis dengan tersedu-sedu, bahkan Samy yang ada di kamarnya juga berlari untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa, Niki? Kenapa kau menangis seperti ini?"
Devan berusaha untuk merenggangkan pelukan Niki, tetapi wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
Wanita mana yang tidak terkejut saat bangun sudah berada di dalam kamar, bahkan dia tidak tau siapa yang membawanya ke kamar itu.
Apalagi saat Niki ingin turun dari ranjang, dia sadar kalau pakaiannya sudah berganti dengan pakaian lain. Tentu dia sangat kaget dan juga takut, pikiran negatif berlarian dalam kepalanya.
"Kenapa kau takut? Kita sekarang ada di rumah Amora, dan kakak juga ada di sini!"
Devan menghembuskan napas kasar, tapi tidak salah juga jika Niki sampai takut seperti itu. Lalu dia melirik ke arah Amora yang berdiri di sampingnya, dan dia langsung menelan salive dengan kasar saat melihat kemarahan diwajah wanita itu.
"mana aku tau kalau ini di rumah Nona Amora!" cibir Niki, siapapun pasti akan bereaksi sama sepertinya.
"Lepaskan tanganmu!"
Tiba-tiba Amora bersuara, sejak tadi dia sudah menahan amarah saat melihat Niki memeluk tubuh Devan
"No-Nona, maafkan saya karna sudah membuat keributan!" Niki menundukkan kepalanya, tetapi tangannya masih melingkar dipinggang Devan.
__ADS_1
Amora yang sudah tidak tahan lagi langsung menarik tangan Niki membuat wanita itu tersentak, dia lalu melingkarkan tangan Niki dipinggangnya.
"Kalau kau mau memeluk, peluk aku! Tapi jangan pernah memeluk kekasihku!"
Glek. Niki menelan salivenya dengan kasar, sementara Devan berusaha menahan senyumnya melihat apa yang Amora lakukan.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Samy berdiri di tangga. Dia menyaksikan semua yang Amora lakukan, dan sikap posesifnya itu sama persis dengan mendiang sang Papa.
Samy menarik napas panjang dan menghembuskannya, dia belum ada waktu untuk bicara dengan Amora. Lucas terus memberi tekanan agar dia meninggalkan wanita itu, dan ikut bersama lelaki patuh baya itu ke negaranya.
"Amora, apa yang harus kakak lakukan?" Samy lalu berbalik dan hendak kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kau sudah sarapan?"
Langkah Samy terhenti saat mendengar suara Amora, tetapi dia berpikir kalau adiknya itu sedang bicara dengan Devan.
"Samy!"
Deg. Samy yang akan melangkahkan kakinya mendadak jadi kaku, dia lalu berbalik dan melihat Amora sedang berdiri di ujung tangga.
"Ayo, sarapan!"
Amora lalu pergi ke dapur saat sudah mengajak Samy untuk sarapan, membuat tubuh laki-laki itu menjadi tegang.
"Di-dia mengajakku sarapan?" Untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun lalu Amora mengajaknya untuk makan bersama, sungguh hatinya merasa sangat senang sampai dadanya terasa sesak.
Devan dan Niki yang masih ada di tempat itu terus melihat ke arah Samy, terutama Niki yang tidak mengerti dengan reaksi laki-laki itu.
"Kak, kenapa Tuan itu langsung sedih saat di ajak sarapan? Apa dia tidak suka makan kalau pagi?" bisiknya tepat ditelinga Devan.
"Sstt, kau anak kecil tidak boleh ikut campur!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.