
Devan tercengang saat mendengar ucapan Samy, sementara lelaki itu hanya tersenyum tipis saja saat melihat keterkejutan diwajahnya.
"Kau tau, kalau kau adalah satu-satunya laki-laki yang di bawa ke rumah dengan alasan sebagai anak buahnya!"
Devan terdiam, dia mencoba untuk menerka-nerka ke mana arah pembicaraan Samy saat ini.
"Tapi kenyataannya ...."
Samy menatap Devan lekat-lekat, seolah-olah sedang menilai sikap dan karakter lelaki itu.
"Sudahlah, aku tidak berhak untuk mengatakannya!"
Samy bangun, dan berlalu keluar dari kamar itu meninggalkan Devan yang masih mematung di tempat.
Sebenarnya Devan merasa sangat kesal dengan apa yang Samy lakukan, dia penasaran dengan apa yang ingin lelaki itu katakan. Akan tetapi, Samy malah menyudahinya begitu saja.
"Dasar! Ini seperti lagi menonton film yang menampilkan bagian inti cerita, tapi tiba-tiba malah bersambung!"
Dia menghembuskan napas kasar, lalu beranjak keluar dari kamar itu karna memang tidak ada yang harus dia lakukan.
Sementara itu, Amora dan Justin sedang berada di rooftop. Justin membersihkan pecahan kaca yang tertancap ditangan Amora, sementara Amora hanya melihat lurus ke depan tanpa bereaksi apa-apa.
"Jangan pernah melukai diri Nona sendiri!"
Amora tersenyum tipis, entah sudah berapa kali dia melakukan hal seperti itu. Bahkan dia pernah melakukan percobaan bunuh diri, yang hampir saja merenggut nyawanya jika Justin tidak segera datang menyelamatkan.
"Bagaimana perkembangan bisnis kita?"
Amora memilih untuk mengalihkan pembicaraan, dia bosan jika harus terus membahas sesuatu yang sangat susah untuk tidak dilakukan.
"Kita sudah hampir menguasai daratan Timur, Nona! Sebentar lagi kita akan mencapai kekuasaan mereka!"
Amora memejamkan kedua matanya sekilas, bukan karna rasa sakit yang sedang dia rasakan, tapi karna dendam yang sebentar lagi bisa tersalurkan.
"Kau tunggu saja kedatanganku, Lucas! Akan kupastikan bahwa kau hancur di bawah telapak kakiku!"
Itulah tujuan hidup Amora, selama ini dia terus memperluas daerah kekuasaannya untuk menghancurkan seorang lelaki bernama Lucas. Lelaki itu adalah pemimpin dari kelompok Mafia besar yang mendanai segala politik didaratan Utara sampai Selatan.
__ADS_1
Dia harus mengusai banyak wilayah agar bisa mencapai kekuasaan lelaki itu, dan menghancurkan Lucas sama seperti saat lelaki itu menghancurkan keluarganya.
***
Devan yang baru sampai di depan rumahnya segera turun dari mobil, dia lalu masuk ke dalam rumah yang ternyata sedang tidak dikunci.
Begitu dia kembali menutup pintu, tiba-tiba lampu yang ada di ruangan itu menyala terang, dan menampakkan Lidya beserta orangtuanya sedang duduk dikursi ruang tamu.
"Ibu, Ayah? Kenapa belum tidur?"
Devan mendekati kedua mertuanya dan duduk di hadapan mereka, dia melirik ke arah Lidya yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
"Kami tadi sudah tidur, Devan! Tapi terbangun saat mendengar istrimu pulang!"
Devan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau gitu tidur lagi saja, Bu! Sekarang masih jam 2 pagi!"
Kedua mertuanya menganggukkan kepala. "Tapi sebelum itu, Kenapa jam segini baru pulang?"
Devan tersenyum tipis, benar dugaannya kalau wanita itu sepertinya habis mengadukan sesuatu yang tidak-tidak pada mertunya.
"Tentu saja habis bercinta dengan selingkuhannya, Bu! Selama ini kita semua telah dibohongi!"
"Aku baru pulang dari pesta, dan mengantar partner kerjaku! Bukannya aku sudah pamit pada Ayah dan Ibu?"
Benar, Devan sempat pamit pada mereka berdua sebelum berangkat. Akan tetapi putri mereka malah mengadu yang tidak-tidak, membuat mereka panik sendiri.
"Benar, kau sudah pamit pada kami. Tapi kenapa istrimu ini mengatakan kalau kau bersenang-senang dengan wanita lain?"
Devan semakin melebarkan senyumnya, ternyata Lidya mengadu seperti itu pada mereka, dan sekarang. Jangan salah kan dia kalau membalas apa yang wanita itu lakukan.
"tentu saja aku bersenang-senang, Bu! Partner bisnisku memuji semua pekerjaan yang aku lakukan, dia bahkan memberi bonus padaku. Aku senang, dan dia pun puas!"
"Bohong!"
Lidya bangkit dan menunjuk ke arah Devan, dia ingin membalas rasa sakit yang dia alami tadi. Dia ingin kedua orangtuanya tau kalau Devan sudah berselingkuh.
"Bohong bagaimana, Sayang? Bukannya tadi kau juga ada dipesta itu?"
__ADS_1
Kini kedua orangtua Lidya beralih menatap wanita itu dengan tajam. "Kau pergi ke pesta itu juga, Lidya?"
"Si*al!"
Sangking tidak sabarnya untuk mengadukan Devan, dia lupa kalau tidak menceritakan keberadaannya di pesta yang sama dengan laki-laki itu.
"Iya, Yah! Lidya dipesta itu dengan atasannya!"
Belum sempat Lidya menjawab, mulut Devan sudah bersuara membuat wanita itu langsung pucat.
"Kamu ini gimana sih, Lidya! Kau mengatakan yang tidak-tidak tentang suamimu, tapi kau sendiri juga ada di sana. Jangan-jangan kau yang sudah berselingkuh dengan atasanmu itu!"
Lidya tersentak mendengar ucapan sang Ibu, sementara Devan tersenyum puas walaupun sedikit kaget dengan reaksi mertuanya.
"a-aku tidak seperti itu, aku tidak ada hubungan apapun dengan atasanku!"
"Terserah, Ibu tidak perduli! Kalau kau memang tidak bisa menjadi istri yang baik, jangan harap kami akan menganggapmu anak lagi!"
Kedua orangtua Lidya langsung berjalan ke kamar, meninggalkan putri mereka yang sedang mengepalkan kedua tangannya.
"Puas kau? Puas kau sudah melihatku seperti ini?"
Lidya mendorong tubuh Devan dengan mata berkaca-kaca, dia tidak menyangka kalau laki-laki yang selama ini diam dan selalu baik padanya, kini berubah menjadi seperti itu.
"Apa maksudmu, Lidya? Bukannya semua ini karna ulahmu sendiri?"
Devan tersenyum sinis dan melangkahkan kakinya meninggalkan wanita itu, dia merasa lelah dan ingin segera terlelap.
Lidya sendiri terus menatap punggung Devan dengan tajam, dia mengepalkan kedua tangannya dengan amarah yang memenuhi hati dan pikiran.
"Kau lihat saja, Devan! Setelah kita bercerai, aku akan mengusirmu dari sini dan membuatmu jadi gelandangan! Kau akan hidup di jalanan, tanpa ada satu orangpun yang peduli!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.