Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 65. Perhatiannya Membuat Luluh.


__ADS_3

Lucas tersenyum lebar saat kembali menginjakkan kakinya ke tanah kelahirannya, sudah lama juga dia tidak kembali ke tempat itu.


Mobil yang membawanya sudah sampai kesebuah tempat, terlihat sudah banyak orang yang memyambut kedatangannya.


"Selamat datang, Tuan!"


Lucas melambaikan tangannya untuk mereka semua, dia lalu menatap bangunan yang masih berdiri kokoh di hadapannya.


Dengan langkah lebar, Lucas masuk ke dalam rumah peninggalan kedua orangtuanya yang sudah lama tidak dia tinggali. Namun, rumah itu tetap terjaga karna dia menugaskan banyak orang untuk merawat rumah tersebut.


"kami sudah menyiapkan makanan untuk anda, Tuan! Apa anda ingin makan sekarang?" tawar pelayan yang ada di rumah itu.


Lucas lalu menggelengkan kepalanya. "Aku akan menunggu putraku!" Dia lalu melangkahkan kakinya ke lantai 2, di mana kamarnya berada.


Semua masih terlihat sama saat terakhir kali dia datang ke rumah itu, baik bangunan, tata letak dan semua barang-barang yang ada di rumahnya.


Senyum indah terbit saat Lucas masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya, yang menyimpan banyak kenangan tentang semua masa kecilnya.


Setelah menghabiskan beberapa saat di kamar itu, dia lalu beranjak ke kamarnya sendiri. Dia membuka gorden jendela untuk melihat pemandangan, lalu senyum dibibirnya pudar saat mengingat kenangan lama bersama wanita yang dia cintai.


"Kenapa kau melakukan ini padaku, Alice? Kenapa kau tidak membiarkan aku melupakanmu?"


Lucas mendessah frustasi, dia lalu memutuskan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Lucas lalu turun kelantai bawah untuk melihat taman.  Bunga-bunga yang ada di taman itu tumbuh subur, dengan wangi yang menyeruak masuk ke dalam hidung.


"Maaf sudah mengganggu, Tuan! Saya ingin memberitahu, kalau Tuan muda sudah sampai!"


Lucas langsung berbalik dan berjalan cepat untuk menemui Samy, terlihat putranya itu sedang duduk di ruang keluarga.


"Bagaimana kabarmu, Samy?"


Samy yang sedang melihat-lihat keadaan rumah itu langsung mengalihkan pandangannya, dia lalu menganggukkan kepalanya pada Lucas.


"kau datang sendiri?" tanya Lucas sambil celingukan melihat ke sana kemari.


"Aku mohon hentikan semua ini, Pa! Jangan memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan!"


Samy menatap Papanya dengan tajam, ini kedua kalinya dia datang ke rumah laki-laki paruh baya itu. Walaupun dia tidak ingat bagaimana bentuk rumah ini dulu.


"papa tidak memaksamu, Sam! Papa cuma minta pengertian darimu,"


"Pengertian? Pengertian dengan cara seperti ini?"

__ADS_1


Lucas menghembuskan napas kasar, dia hanya ingin bersama dengan Samy, itu saja. Lalu, di mana letak kesalahannya?


"Aku harap Papa mengerti. Amora sangat berarti untukku, dan aku tidak akan pernah memilih Papa jika dia yang menjadi taruhannya!"


Sampai kapanpun, keputusan Samy tetap sama. Dia berharap kalau mereka bisa hidup dengan tenang, tentunya ditempat masing-masing.


"Bukan papa yang memulai semua ini, tapi adikmu! Dia bahkan menyerang perusahaan papa, dan sampai saat ini, papa tetap diam kan?"


Samy menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah, bukan hanya tubuh saja. Bahkan jiwanya juga sangat-sangat lelah. Ingin sekali dia mengangkat tangan dan melambaikannya pada kamera.


"selama ini papa sudah diam, Sam! Tapi adikmu tetap ingin menghancurkanku. Jadi, lebih baik kau katakan semua ini padanya!"


"Apa?"


Samy menatap Lucas dengan tajam, dia tidak percaya kalau Papanya akan menyuruhnya melakukan hal seperti itu.


"Itu salah satu jalan agar kami tidak bertemu, Sam! Karna kalau kami bertemu di medan perang, maka aku tidak akan lagi menjadi orangtuamu!"


Deg, Samy tau apa yang Lucas katakan adalah sebuah ancaman untuknya. Namun, ancaman itu bukan hanya isapan jempol saja, karna Lucas akan berubah menjadi binatang buas saat mengalahkan musuh-musuhnya.


"Apa yang harus aku katakan pada Amora? Apa aku akan mengatakan kalau kau adalah ayahku? Lalu, bukan kau yang salah dalam semua ini. Tapi ayahnya, begitu?"


Samy mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh dia tidak akan bisa mengatakan semua itu pada Amora.


"Baiklah, lupakan semua itu! Papa minta maaf!"


Samy mendongakkan kepalanya, dan disambut dengan senyuman manis Lucas. "Papa sangat lapar, maukah kau menemani papa makan?"


Samy menganggukkan kepalanya lalu memalingkan wajah ke arah lain, matanya terasa panas karna ingin mengeluarkan sesuatu.


Kemudian mereka menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja, dengan telaten Lucas menyendokkan nasi dan lauk pauk kepiring Samy.


"Makanlah yang banyak, kau terlihat sangat kurus, Sam!"


Lucas meletakkan piring yang sudah terisi makanan ke hadapan Samy, dia lalu mengisi piring lain untuknya sendiri.


Air mata yang sejak tadi berusaha untuk ditahan, akhirnya tumpah juga. Pertahanan Samy runtuh melihat perhatian yang diberikan sang Papa, jujur saja hatinya terasa sakit dengan keadaan yang membelit mereka saat ini.


"Tunggu, kenapa kau menangis? Apa makanannya tidak enak? Terlalu pedas?"


Samy langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Lucas. "Ini enak, aku menyukainya!" Dia segera menyantap makanan itu sambil menahan tangisannya.


Lucas merasa bahagia mendengar jawaban Samy, dia lalu kembali menikmati menu makanannya dengan sangat lahap.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka menghabiskan waktu dengan ngobrol santai di taman. Samy sudah mulai menerima kehadiran Lucas dalam hidupnya, walaupun sejak dulu dia sudah menerimanya. Namun, dia tidak pernah menunjukkan semua itu karna takut Amora mengetahuinya.


Beberapa jam kemudian, terlihat keramaian di  rooftop apartemen Valdo. Semua orang ternyata sudah berkumpul di sana, mereka sedang menyiapkan pesta barbeque dengan ditemani minuman yang memabukkan tentunya.


"Apa kau sudah menelpon Amora?"


Devan menganggukkan kepalanya. "Dia sudah dijalan, tapi, kenapa kau bicara non-formal padanya?" Dia menatap Valdo dengan bingung.


"kami kan sudah berteman, tentu harus bicara seperti itu. Apalagi dia masih di bawah kita, sudah pastilah kalau kita bicara santai padanya!"


"Memang tidak salah, tapi kalau sampai Justin mendengarnya, bisa habis kau!"


Valdo mencebikkan bibirnya saat mendengar nama laki-laki itu, dia merasa tidak peduli dan memilih untuk mendekati Niki.


Tidak berselang lama, ponsel Devan berdering dan menunjukkan kalau Amora sedang menelpon.


"halo, apa kau sudah sampai?"


"ya, aku baru saja sampai!" jawab Amora.


"Oke, tunggu disitu!"


Tut, Devan langsung mematikan panggilan itu dan segera turun ke lantai bawah untuk menjemput Amora.


"Ayo, kita masuk!"


Devan langsung menggenggam tangan Amora dan hendak membawanya masuk ke dalam, tapi tiba-tiba ada seorang wanita yang juga baru sampai di tempat itu.


Devan dan Amora terdiam melihat Lidya, begitu juga dengan Lidya. Dia tidak tau kalau yang sedang berdiri di depan pintu adalah Devan dan Amora.


"Ma-maaf, aku ingin masuk!"


Amora sedikit menggeser tubuhnya agar Lidya bisa masuk, lalu wanita itu langsung pergi meninggalkan mereka.


"Si*alan! Kenapa Valdo mengundang Lidya juga sih? Apa dia tidak memikirkan perasaan Amora?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2