Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 43. Ucapan Tegas Justin.


__ADS_3

Amora menatap tajam ke arah 2 orang lelaki yang terlihat sedang membicarakan sesuatu, kini dia mulai bertanya-tanya kenapa lelaki bernama Lucas itu bisa ada di tempat ini.


"Aku yakin ini bukan suatu kebetulan! Si*al, sepertinya ada sesuatu yang aku lewatkan!"


Ya, Amora baru ingat kalau dia sempat meletakkan sebuah alat perekam di kamar hotel yang di tempati Lucas. Namun, ke mana alat perekam itu sekarang?


"Kak, ikut aku!"


Amora berbalik setelah memberi perintah pada Justin, sementara Devan hanya melihat kepergian mereka berdua dengan bingung.


"Terus, apa yang harus aku lakukan di sini?"


Devan memilih untuk ikut keluar, tetapi matanya tidak sengaja melihat Lucas sedang berjalan menuruni anak tangga.


"Tunggu, bukannya itu Lucas?"


Dia lalu mengikuti gerak tubuh lelaki itu dengan kedua matanya, terlihat Lucas masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di bawah tangga dengan seorang pria.


Devan berpikir sejenak, haruskah dia menyelediki lelaki itu, atau membiarkannya begitu saja? Tetapi, dia tidak boleh bertindak ceroboh yang nantinya akan membahayakan nyawa Amora dan tentu nyawanya sendiri.


Setelah berpikir beberapa saat, dia memutuskan untuk mendekati ruangan itu selagi ada kesempatan, dan kesempatan seperti ini tidak mungkin datang untuk yang kedua kalinya.


Sementara itu, Amora dan Justin yang sudah berada di luar klub berkumpul dengan beberapa anak buah mereka.


"Aku ingat kalau aku memasang alat perekam di kamar Lucas, tapi, ke mana alat itu sekarang?"


Semua orang terdiam mendengar pertanyaan Amora, jujur saja mereka sama sekali tidak tau mengenai hal itu. Anehnya lagi, kan Amora sendiri yang memasangnya, kenapa sekarang malah bertanya pada mereka?


"Maaf Nona, apa Nona benar-benar sudah memasang alat itu dengan baik?"


Salah satu anak buah Amora angkat bicara, dia adalah garda terdepan yang selalu menyerang lawan-lawan Amora tanpa ampun. Dia juga dipercaya memegang kendali atas bisnis-bisnis gelap yang wanita itu jalankan, walaupun masih dalam pantauan Justin.


Amora berpikir sejenak, mengingat-ingat apakah dia sudah memasang alat itu dengan benar atau tidak. Kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Aku sudah memasang dengan benar!"

__ADS_1


Lelaki itu kemudian mengambil ponselnya dan mengotak-atik benda pipih itu, entah apa yang sedang dia lakukan. Namun, Amora dan yang lainnya terlihat sedang menunggu apa yang sedang dia kerjakan.


"Ini aktif, Nona!"


Lelaki berparas seram itu memberikan ponselnya pada Amora, dan langsung diterima oleh wanita itu.


Berputarlah suara-suara dari ponsel itu yang ternyata sudah tersambung dengan alat perekam, dan senyum tipis terbit dibibir Amora saat mendengar semuanya.


"Ternyata tidak mudah untuk menghancurkan Lucas, bahkan sejak awal lelaki itu sudah mencurigaiku!"


Setelah rekaman itu selesai, Amora mengembalikannya ke tangan anak buahnya. Kemudian dia memberi perintah pada mereka untuk memeriksa sekitar klub ini. Dari rekaman yang tadi berpurar, di sebutkan kalau Lucas lah yang memberi pasokan minuman pada Roberto.


"Apa Lucas sudah tau siapa aku?"


Amora melihat ke arah Justin seolah-oleh sedang bertanya pada laki-laki itu, kini hanya tinggal mereka berdua di tempat itu.


"Belum, Nona! Tapi anggotanya terus memeriksa semua identitas Nona, bahkan ada anak buahnya yang turun langsung untuk menyelidiki Nona!"


Amora menganggukkan kepalanya, memang tidak banyak yang tau kalau dia adalah adik Samy, sekaligus putri dari seorang pengusaha besar. Hanya beberapa orang diperusahaan yang mengetahuinya, karna memang dia menyembunyikan semua itu.


Amora baru ingat kalau Devan tidak bersama dengan mereka, dan seketika rasa panik menghampirinya.


"Kita harus mencarinya!"


Amora yang sudah akan masuk ke dalam klub ditahan oleh Justin, dia lalu melihat ke arah laki-laki itu dengan heran.


"Nona, dia sedang bersama Lucas!"


"Apa?"


Amora terlonjak kaget mendengar apa yang Justin katakan, kenapa pula Devan bisa bersama dengan Lucas?


Justin lalu memperlihatkan pesan singkat dari Devan yang mengatakan kalau dia sedang mengikuti Lucas, dan meminta mereka untuk tidak khawatir.

__ADS_1


"Tidak, dia bisa saja berada dalam bahaya sekarang!"


Amora menjadi gusar, dia tidak bisa membiarkan Devan seorang diri. Dia tau betul bagaimana kemampuan laki-itu itu, yang jelas masih jauh di bawahnya dan juga Justin.


"Nona, bukannya anda mempekerjakan dia untuk hal seperti ini?"


Amora yang semula berjalan ke sana-kemari dengan gelisah mendadak jadi kaku saat mendengar pertanyaan Justin, matanya menatap laki-laki itu dengan tajam seolah-olah mengatakan memang apa urusannya denganmu.


"dia harus terbiasa, dan harus bisa menghadapinya!" ucap Justin dengan tajam.


Amora mengatupkan rahangnya yang mengeras, kenapa sekarang Justin terlihat sangat berbeda? Dan kenapa pula seperti tidak menyukai Devan?


"Aku tau, hanya saja ini belum waktunya!"


Amora menghela napas berat, entah kenapa dia merasa sangat khawatir. Apalagi saat ini Devan langsung berhadapan dengan Lucas, jika dengan yang lain maka dia tidak akan sekhawatir ini.


"Tidak akan ada waktu yang tepat untuk semua ini Nona, kapanpun itu dia harus selalu siap!"


Amora memicingkan matanya menatap curiga pada Justin. "Kenapa Kakak terlihat sangat tidak menyukai Devan?" Ternyata dia baru sadar sekarang, dan entah ke mana saja dia selama ini.


Justin menatap Amora lekat-lekat, dia bukan hanya mengaggap gadis itu sebagai majikannya, tetapi juga sebagai adik yang harus dia jaga dengan nyawanya.


"Dari awal, saya memang tidak menyukainya. Saya tidak suka dengan lelaki yang tidak punya kemampuan, karna sudah jelas dia tidak bisa melindungi Nona. Jangankan melindungi Nona, melindungi diri sendiri saja dia tidak bisa. Hatinya terlalu rapuh dan lembut, sangat tidak sesuai untuk menjaga Nona!"


Justin menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, sementara Amora tercengang mendengar penjelasan panjang lebar darinya, karna memang ini kali pertama dia mengatakannya.


"Seorang laki-laki yang bersama Nona harus kuat, harus punya prinsip yang tegas, dan tidak terpengaruh oleh apapun. Siap siaga dalam segala hal, di manapun dan kapanpun. Kalau dia tidak bisa menjadi kuat, bagaimana mungkin saya membiarkan dia begitu saja?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2