Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 83. Terlalu Banyak Kejutan.


__ADS_3

"Dan laki-laki licik itu akan menjadi mertuamu."


Amora langsung memutar tubuhnya saat mendengar suara Devan, sementara Justin bergegas pergi dari tempat itu karena tau kalau mereka pasti ingin bicara 4 mata tanpa ada mata ke 5 dan enam.


"Amora. "Devan langsung memeluk tubuh Amora dari belakang, karena saat ini posisi gadis itu sedang membelakanginya. "Sayang, apa kau marah padaku?"


"Ya, aku marah padamu!" jawab Amora dengan cepat membuat Devan tersenyum, dia lalu memutar tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya. "Maaf, aku pasti sudah sangat keterlaluan." Dia memegang kedua tangan Amora dan saling bersitatap mata dengannya.


"Kau memang keterlaluan. Dari sekian banyak manusia, kenapa harus kau yang menjadi anak laki-laki itu?"


Devan tercengang saat mendengar ucapan Amora. Jika itu masalahnya, ya dia sendiri juga tidak menyangka kalau ternyata ayah kandungnya adalah Lucas.


"Dan dari mana datangnya kau ini? Apa kau juga dilahirkan oleh Ibuku?"


Suara Amora terdengar tajam, tetapi ada getaran yang terasa disetiap kata yang dia ucapkan menandakan kalau hatinya benar-benar tidak terima saat ini.


"Tidak, Amora. Ibumu tidak melahirkanku, dan aku juga bukan anak dari Ibumu." Devan menggelengkan kepalanya. Setelah itu, dia menceritakan semua yang sudah terjadi antara Ibunya dan juga Lucas sampai akhirnya hadirlah dia ke dunia ini.


Amora tercengang saat mendengar semua cerita Devan, ada rasa tidak terima yang dia rasakan karena ternyara ayahnya lah yang telah menjebak Lucas bersama dengan wanita lain.


"Ibuku ternyata diam-diam menyukai Lucas, itu sebabnya dia tidak menolak saat mendapat tawaran untuk tidur dengan laki-laki itu," ucap Devan setelah selesai menceritakan asal mula keberadaan dirinya.


Amora hanya diam dengan pandangan kosong lurus ke depan. Semua yang terjadi ini sungguh diluar akal sehatnya, di mana semua orang yang ada di sekelilingnya ternyata masih saling berkaitan satu sama lain.


Devan yang tau kalau Amora pasti sangat terkejut langsung membawanya untuk duduk dikursi yang ada di tempat itu. Tangannya tetap menggenggam kedua tangan Amora, dan membiarkannya untuk tetap seperti itu untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Papa, kenapa semua ini terjadi? Haruskah aku percaya dan menerima semua kenyataan ini?" Ada suatu gejolak dalam diri Amora yang terasa ingin meledak. Pikiran dan hatinya saat ini tidak berjalan sama, di mana pikiran tidak bisa menerima semua hal tidak masuk akal ini tetapi dalam hati merasa sesak dan sedih.


Tiba-tiba mata Amora berkaca-kaca membuat kepalanya refleks menunduk, hatinya yang sekeras batu tiba-tiba melelah dengan apa yang sedang terjadi ini.


"Menangislah, Amora. Aku tau semua ini pasti sangat mengejutkanmu." Devan menarik tubuh Amora dan kembali memeluknya dengan erat.


Devan tau bagaimana perasaan wanita itu saat ini. Sekuat apapun hati Amora, tetap akan melemah jika dihadapkan dengan kenyataan sekejam ini. Di mana gadis itu mati-matian membalaskan dendam untuk kematian orangtuanya, tetapi malah harus menerima kenyataan pahit bahwa orangtuanya sendiri yang ternyata menyalakan api dalam dirinya.


Lucas yang hendak memanggil Devan dan Amora terdiam di kejauhan karena Justin melarangnya untuk mendekati mereka. "Amora pasti sangat terkejut, dia benar-benar sedang berada di titik terbawah saat ini."


Justin terdiam mendengar ucapan Lucas karena dia sendiri tau bagaimana rasa sakit yang nonanya rasakan saat ini. "Nona, aku tau kalau saat ini Anda pasti merasa hancur. Tapi anda tidak perlu khawatir, karna aku akan tetap berada di samping nona apapun yang terjadi." Dia memandang ke arah Amora dengan sendu.


"Kau anaknya Jessy bukan?"


Lucas mengangguk. "Tentu saja, dulu dia sering pergi bersama dengan Alica saat ingin menemuiku."


Entah kejutan seperti apa lagi yang kali ini diberikan oleh Lucas. "Apa itu artinya Ibuku mengenal Anda?"


"Tentu saja. Bukan hanya kenal, tapi dia tau semua cerita tentang kami. Mungkin dia satu-satunya orang yang mengetahuinya, walaupun sejak dulu dia sangat pendiam."


Justin tau kalau dulu Ibunya sempat bekerja menjadi asisten pribadi Ibu Amora, tetapi dia tidak menyangka ternyata Ibunya juga menyimpan semua rahasia ini.


"Aku akan kembali menemui Samy, bawa mereka masuk jika Amora sudah merasa lebih baik." Justin menepuk pundak Justin yang masih diam di sampingnya. "Kau seorang tangan kanan yang sangat setia, wanita itu beruntung memilikimu." Dia lalu berbalik dan kembali masuk menuju ruangan Samy.


Justin mengusap wajahnya dengan kasar. Entah bagaimana dia harus menghadapi semua kenyataan ini, apa lagi jika Amora tau kalau Ibunya juga menyimpan rahasia tentang Lucas. "Tapi, kenapa Ibu melakukannya?"

__ADS_1


Lamunan Justin terhenti saat mendengar derap langkah mendekat, dia langsung menganggukkan kepala begitu Amora berdiri di hadapannya.


"Apa Samy sudah sadar?"


Justin mengangguk. "Sudah, Nona. Lucas meminta saya untuk membawa Anda dan Devan ke ruangan Tuan Samy."


Amora langsung berjalan ke ruangan Samy dengan diikuti kedua laki-laki itu, perasaannya terasa jauh lebih baik setelah menangis dalam pelukan Devan.


Samy yang masih terbaring di atas ranjang langsung membangunkan tubuhnya saat melihat Amora, perasaan senang dan sedih sedang campur aduk dalam hatinya sekarang. "Kau, kau baik-baik saja kan, Amora?"


Amora tersenyum tipis mendengar pertanyaan Samy. Laki-laki itu yang nyaris mati, tetapi malah menanyakan kabarnya. "Tentu saja aku baik, karena aku masih harus mendengar sesuatu darimu bukan?" Dia melirik ke arah Lucas yang sedang duduk di sofa.


Samy tau kalau saat ini Amora sedang menyinggung hubungannya dengan Lucas, dia juga tau kalau semua ini pasti membuat hati adiknya itu menjadi sakit.


"Aku akan menerima semuanya, asal berjanjilah untuk tidak meninggalkanku!"


Semua orang terkejut saat mendengar ucapan Amora, terutama Lucas yang langsung beranjak dari sofa.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2