
Lidya langsung berlari ke arah kamarnya lalu mengambil koper dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper itu, sementara yang lain juga ikut melangkahkan kaki mereka ke kamarnya.
"Lidya, kau mau ke mana?"
Ibu Lisa menahan tangan Lidya yang sedang sibuk memasukkan semua pakaian ke dalam koper, tetapi dengan cepat wanita itu menghempaskan tangan sang Ibu dan melanjutkan apa yang sedang dia lakukan.
"Lidya, tolong dengarkan Ibu!"
Lidya sama sekali tidak peduli, dia lalu menyambar ponselnya yang ada di atas ranjang, dan menarik kopernya untuk beranjak keluar dari sana.
"Lidya, dengarkan Ibu! Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan, kami menyayangimu, Nak! Kami-"
"Lepas!"
Lidya menarik paksa kopernya yang ditahan oleh Ibu Lisa membuat tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang, tetapi untung saja dia masih bisa menahannya dan berlalu keluar dari kamar.
Ibu Lisa dan Ayah Pian mencoba untuk menahan kepergian Lidya, sementara Devan hanya diam saja karna yakin kalau wanita itu akan pergi ke rumah kekasihnya.
"lepaskan koperku, aku tidak mau lagi di sini dan berhubungan dengan kalian!" teriak Lidya.
Bukannya melepaskan koper itu, kedua orangtua Lidya semakian menguatkan tarikan mereka karna tidak ingin wanita itu pergi.
"Maafkan kami, maafkan semua yang sudah kami lakukan, Lidya! Sungguh Ibu dan Ayah tidak bermaksud untuk menyakitimu, kami benar-benar menyayangimu!"
Lidya tetap bersikukuh untuk pergi dan tidak menghiraukan semua ucapan mereka, hatinya sudah terlanjur sakit dengan apa yang sudah terjadi.
"setidaknya pikirkan suamimu, Nak! Kalian tidak bisa-"
"Aku dan dia akan segera bercerai, jadi aku tidak ada hubungan lagi dengannya! Dan perlu kalian tau, kalau selama ini aku sudah punya kekasih!"
Deg, kedua orang tua Lidya membeku saat mendengar kata-kata yang dia ucapkan. Sangking terkejutnya, mereka bahkan tidak mampu untuk mengucapkan apa-apa.
Melihat kedua orangtuanya diam, Lidya langsung menarik kopernya dan segera berlalu pergi dari tempat itu tanpa melihat ke belakang.
__ADS_1
Setelah kepergian wanita itu, suasana menjadi hening. Devan tidak tau harus mengatakan apa pada kedua mertuanya yang sudah dianggap sebagai orangtua sendiri, dia yakin kalau mereka pasti sangat syok dengan apa yang Lidya katakan.
"Ke-kekasih? Apa, apa maksudnya dia selingkuh dengan laki-laki lain?"
Ibu Lisa melihat ke arah Devan seolah-olah meminta penjelasan darinya, sementara Devan hanya menundukkan kepalanya karna merasa tidak enak hati jika menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.
"Katakan, Devan! Apa selama ini Lidya berselingkuh di belakangmu?"
Ibu Lidya mendekati Devan dan mencengkram lengan lelaki itu, tetapi Devan tetap bungkam seolah-olah membenarkan apa yang dia tanyakan.
"Jawab Ibu, Devan! Apa selama ini kau sudah tau mengenai hal itu?"
Akhirnya mau tidak mau Devan terpaksa menganggukkan kepalanya, membuat tangisan Ibu Lisa pecah tak terkendali.
"Ya Tuhan!"
Bruk, tubuh wanita itu langsung terjatuh ke atas lantai tanpa sempat ditahan oleh Devan.
"Ya ampun, Bu!"
"Kenapa, Yah? Kenapa putri kita seperti itu, hiks, huhuhu!"
Tangisan Ibu Lisa terdengar sangat menyayat hati membuat kedua mata Devan ikut basah, sementara Ayah Pian hanya bisa menguatkan sang istri dalam keadaan seperti ini.
Sementara itu, Lidya yang sudah keluar dari rumahnya segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu menuju apartmene Melano.
Kesedihan dan sakit hati yang dia rasakan membuat air matanya kembali keluar, tetapi tidak ada sedikit pun penyesalan dihatinya memilih untuk pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
"Jagalah mereka, Devan! Karna aku tidak akan pernah kembali lagi!"
Sekilas Lidya memejamkan kedua matanya, lalu kembali fokus kejalanan dan menekan semua perasaan untuk orang-orang yang sudah menyakitinya.
Dulu sekali, dia benar-benar mencintai dan menyayangi Devan setulus hati. Kebaikan, ketulusan dan kehangatan laki-laki itu benar-benar menyentuh hatinya. Apalagi Devan adalah laki-laki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
__ADS_1
Kebahagiaan semakin menyelimuti hati Lidya saat kedua orangtuanya mendukung hubungannya dengan Devan, mereka bahkan menerima dan menyayangi laki-laki itu walaupun Devan hanya seorang yatim piatu.
Namun, perlahan-lahan kebahagian itu mulai menyesakkan hatinya. Sedikit demi sedikit perhatian kedua orangtuanya beralih pada Devan, tetapi dia tetap menerima semua itu dan merasa bahagia karna melihat kebahagiaan dimata laki-laki itu.
Setelahnya, kejadian demi kejadian pun terjadi. Setiap hari dia mulai dibanding-bandingkan oleh Devan, dia bahkan selalu disuruh untuk melakukan sesuatu yang laki-laki itu sukai walaupun dia sendiri tidak menyukainya.
Perlakuan kedua orangtuanya kian hari kian menjadi-jadi, membuat rasa benci tumbuh dihatinya untuk Devan. Bahkan dia tidak lagi bisa merasakan cinta yang dulu dia miliki, hari-harinya penuh dengan siksaan batin yang berasal dari kedua orangtuanya sendiri.
Di tengah rasa sakit itu, hadirlah sebuah perhatian dari atasannya yaitu lelaki bernama Melano. Hubungan mereka selama ini memang terjalin cukup baik sebagai pimpinan dan sekretaris, tetapi lambat laun keduanya semakin dekat hingga muncullah percikan cinta dihati mereka.
Apalagi saat Lidya menceritakan segala keluh kesahnya selama ini, dan mendapat respon baik dari Melano membuat hatinya semakin jatuh dalam perhatian laki-laki itu.
Awalnya, Lidya menolak pernikahannya dengan Devan karna sudah mencintai Melano, dan berniat untuk mengakhiri hubungannya dengan Devan.
Akan tetapi, kedua orangtuanya terus memaksa dan tidak akan lagi menganggapnya sebagai anak jika tidak menikah dengan Devan. Mau tidak mau dia terpaksa menikahi laki-laki itu, tetapi tetap menjalin hubungan dengan Melano.
Sesampainya di apartemen, Lidya segera turun dari mobil dan bergegas masuk untuk menemui Melano. Dia yang memang tau password apartemen itu langsung saja masuk, dan mencari laki-laki itu ke dalam kamar.
Wajah yang murung seketika kembali berseri-seri saat melihat sang pujaan hati tertidur pulas di bawah selimut, dengan cepat Lidya membuka semua pakaiannya tanpa meninggalkan sehelai benang pun lalu masuk dalam pelukan lelaki itu.
"Eerrgh!"
Melano mengerrang saat merasa bibirnya sedang dilummat oleh seseorang, dia lalu mengerjapkan matanya saat merasa ada seseorang yang sedang berada di atas tubuhnya.
"Lidya?"
"Sayang, aku merindukanmu!"
Akhirnya mereka berdua menghabiskan malam itu dengan bergulat di atas ranjang, membuat suara dessahan dan errangan terus menggema di kamar itu.
•
•
__ADS_1
•
Tbc.