
Amora dan Devan segera berangkat menuju bandara, karna memang waktu penerbangan mereka sudah tinggal setengah jam lagi.
"Maaf, Nona! Apa saya boleh menanyakan sesuatu?"
Amora mendongakkan kepalanya dari ponsel. "Hem!" Dia berdehem untuk mempersilahkan laki-laki itu.
"untuk apa kita ke Jepang, Nona?"
"untuk menemui musuhku!"
"Apa?"
Hampir saja Devan menginjak rem sangking kagetnya, dia langsung melirik ke arah Amora yang malah bersikap biasa saja.
"Mu-musuh? Untuk apa, Nona? Apa kita akan berperang?"
Tiba-tiba Devan merasa khawatir, memang sih dia bisa ilmu bela diri. Namun, jika untuk berperang tidak mungkin dia sanggup melindungi Amora seorang diri.
"apa kau sanggup melawan mereka semua?"
"Hah? Ti-tidak!"
Devan mengibas-ngibaskan tangannya membuat Amora tersenyum tipis. "Ya sudah!"
Devan mengernyitkan keningnya, dia tidak mengerti dengan apa yang Amora katakan saat ini.
"Ya sudah katanya? Jadi, sebenarnya kami mau melakukan apa sih?"
Ingin sekali Devan mengatakan semua itu, tapi dia hanya bisa mengatakannya di dalam hati saja.
Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di bandara dan segera melakukan cek-in. Untung saja tidak terlambat, karna begitu sampai, mereka langsung dipersilahkan untuk menaiki pesawat.
Perjalanan mereka akan memakan waktu berjam-jam lamanya, dan ini adalah perjalanan pertama Devan ke luar negeri.
"apa Nona butuh sesuatu?"
"Tidak!"
Devan kembali diam, dia memilih untuk menyandarkan tubuhnya sembari memperhatikan apa yang sedang Amora lakukan.
__ADS_1
"Bagaimana hubunganmu dengan wanita itu?"
Tiba-tiba Amora menanyakan hubungannya dengan Lidya, membuat Devan mendessah frustasi.
"Tidak bisa diselematkan lagi, Nona! Saya memilih untuk berpisah saja, saya tidak mau berurusan lagi dengannya!"
Ya, keputusan Devan sudah bulat sekarang. Lebih baik diakhiri semua sebelum terjadi sesuatu, dan lebih baik dia melupakan balas dendamnya.
"Apa Nona akan memecatnya saya, kalau sudah bercerai dengan Lidya?"
Amora melihat sekilas ke arah Devan. "Kenapa kau bertanya?"
"Itu, itu karna perjanjian awal kita, Nona! Nona kan mengatakan untuk balas dendam, dan kalau aku sudah cerai. Tentu saja balas dendam itu tidak ada lagi!"
Amora terdiam, benar juga yang dikatakan oleh laki-laki itu. Namun, sampai saat ini tidak ada sedikitpun niat untuk memecat Devan.
"Kau kekasihku, untuk apa aku memecatmu!"
Devan tercengang saat mendengarnya, tapi tunggu dulu. Sepertinya dia harus meluruskan sesuatu.
"maksudnya seperti apa, Nona? Apa Nona ingin menjadi kekasih saya, terlepas dari segala balas dendam?" tanya Devan, dia ingin memastikan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Amora.
"Aku tidak tau!"
"Aku hanya merasa nyaman denganmu, makanya ingin menjadi kekasih!"
Deg, jantung Devan berdebar sangat kencang mendengar kalimat terakhir yang Amora ucapkan.
"Apa, apa dia jatuh cinta padaku?"
Devan harus memastikannya sendiri, persetan dengan segala ancaman Justin. Kalaupun dia harus mati, setidaknya semua kebingungannya selama ini terjawab.
Dengan cepat, Justin menarik tangan Amora dan menabrakkan bibirnya tepat ke bibir wanita itu membuat Amora terlonjak kaget. Devan segera menahan tengkuk wanita itu agar ciuman mereka tidak terlepas.
Deg, deg, deg. Tidak tau itu suara jantung siapa, yang pasti debarannya terdengar sangat kuat.
Devan lalu melepaskan ciuman itu, dia sengaja tidak melummat bibir Amora karna ingin tau bagaimana reaksi wakita itu setelah ini.
Amora tercengang, matanya melotot dengan tubuh tegang seperti tersengat listrik saat bibirnya dikecup oleh Devan. Dia terdiam cukup lama dengan kepala yang sedang berpikir keras, mencoba untuk mencerna apa yang sedang lelaki itu lakukan.
__ADS_1
Melihat Amora diam, Devan menjadi salah tingkah. Dia bingung harus mengatakan apa jika wanita itu meminta penjelasan, atau bahkan memenggal kepalanya.
"lakukan lagi!"
"Maafkan saya- hah? Apa?"
Devan sampai memundurkan tubuhnya karna terkejut dengan apa yang Amora katakan, beberapa kali dia mengedipkan matanya seolah-olah tidak percaya kalau kata-kata itu keluar dari mulut Amora.
"Lakukan lagi, cium aku!"
Suara Amora memenuhi pesawat itu membuat orang-orang beralih melihat ke arah mereka, bahkan ada beberapa orang yang bersemu merah seakan-akan malu mendengar ucapannya.
Devan yang sadar menjadi pusat perhatian segera meminta maaf pada semua orang, tapi bukannya marah. Mereka malah memberi semangat padanya untuk kembali mencium Amora.
"Sa-saya mengantuk Nona, saya izin tidur sebentar!"
Devan langsung mengambil selimut yang ada di tempat itu untuk menutupi seluruh tubuhnya, dia merasa sangat malu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Tidurlah, kita lanjutkan nanti!"
Devan memilih untuk pura-pura tidak mendengar ucapan Amora, bisa-bisanya wanita itu membuatnya malu sampai ingin tenggelam ke dasar bumi.
"Ya Tuhan, sebenarnya ada apa dengan gadis ini? Kenapa dia terus-terusan mengusik hidupku? Terus mengejutkanku dengan semua tingkahnya yang polos itu, aku benar-benar tidak tahan untuk memakannya!"
Devan yang berniat untuk pura-pura tidur malah tidur beneran, sementara Amora masih terdiam sambil memegangi bibirnya.
Sampai saat ini, jantungnya masih berdebar-debar dengan aksi yang Devan lakukan. Dia bertanya-tanya perasaan apa yang sedang dia rasakan ini, kenapa seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.
"Tunggu, aku pernah membacanya diinternet. Bukankah ini yang di namakan cinta? Kak Justin juga pernah mengatakannya!"
Amora teringat dengan ucapan Justin, tentang seseorang yang akan mencium orang lain kalau mereka merasa jatuh cinta. Dia juga ingat kalau pernah membaca sebuah artikel tentang cinta, di mana jantung akan berdebar-debar saat berciuman dengan seseorang yang dicintai.
"Jadi, Devan mencintaiku? Tapi kenapa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.