
Jantung Niki berdegup kencang saat mendengar ucapan Valdo, bahkan wajahnya sudah sangat merah seperti akan meledak saat ini.
"A-apa yang Kakak katakan? Aku tidak, tidak-"
"Sudah diam. Kau pikir aku dan Devan tidak tau apa?"
Niki terlonjak kaget mendengar nama Devan ikut terseret-seret. "Ja-jangan katakan apapun pada Kak Devan, Kak."
"Tanpa dikatakan pun, dia juga sudah tau," ucap Valdo, "tapi aku merasa sedih karna kau menyukai Justin. Bisa-bisanya kau menyukai laki-laki kaku dan menyeramkan seperti itu. Apa mentalmu itu sekuat baja?" teriak Valdo.
"Memangnya apa yang salah dengan itu?"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang membuat Valdo dan Niki langsung memutar tubuh mereka. "Devan?"
"Kak Devan?"
Mereka sama-sama terkejut saat melihat keberadaan Devan di tempat itu. Mereka lalu saling lirik seolah-olah saling bertanya apakah laki-laki itu mendengar obrolan mereka atau tidak.
"Enggak usah lirik-lirikan seperti itu. Aku sudah mendengar semuanya."
Sudah bisa diduga kalau Devan pasti mendengar semuanya, tetapi tanpa semua ini pun laki-laki itu memang sudah mengetahui bagaimana perasaan mereka masing-masing.
"Aku senang kalau kalian udah sama-sama saling terbuka seperti ini. Apapun yang terjadi, dan siapa pun pasangan siapa di masa depan. Aku harap hubungan ini akan tetap berjalan baik seperti sebelumnya,"
"Tentu saja." Valdo merangkul bahu Devan dan juga Niki. "Aku bukan orang yang akan menghancurkan semuanya hanya karna patah hati. Lebih dari itu, kalian sangatlah berarti untukku."
Akhirnya ketiga sahabat itu saling memeluk dengan erat. Rasa sayang yang ada dihati mereka memang sudah tidak bisa di ragukan lagi. Bukan hanya karena hubungan persahabatan mereka sudah terjalin lama, tetapi lebih kepada kedewasaan mereka dalam menyikapi setiap masalah yang terjadi.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Amora dan yang lainnya sudah berada di rumah. Saat ini mereka semua tinggal bersama Samy dan Amora, tentu saja karena paksaan dari Amora yang tidak ingin jika Lucas membawa kakakknya.
Saat ini, Amora sedang duduk di balkon kamarnya. Dia terlihat melamun dengan pikiran yang menjalar ke mana-mana, tentu saja memikirkan kehidupan yang selama ini dia alami.
__ADS_1
"Hidupku sudah seperti sebuah film sinetron." Dia menghela napas berat.
Setelah semua yang terjadi, dia tidak menyangka kalau hubungannya dan Lucas akan menjadi dekat seperti ini. Dia yang dulu hidup hanya demi membunuh laki-laki paruh baya itu, sekarang malah selalu saling tertawa dengan bahagia.
Akhir-akhir ini, Amora memang merasa jika hidupnya berjalan seperti roaler coaster membuat dia pusing dengan apa yang sedang terjadi.
Di tambah dengan kebenaran-kebenaran yang jauh berbeda dari apa yang dia sangka, tentu membuat jiwanya sangat terguncang.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Amora tersentak kaget saat mendengar suara baritone seseorang, tetapi dia tidak membalikkan tubuhnya karena tau siapa yang saat ini sedang mendekatinya.
Devan langsung memeluk tubuh Amora dari belakang dengan erat, entah kenapa dia merasa sangat rindu dengan gadis itu padahal setiap hari mereka bertemu.
"Apa kau tadi datang kepersidanganku?" tanya Devan sambil meletakkan kepalanya di bahu Amora.
Amora mengangguk. "Ya, dan aku melihat betapa akrabnya kau dengan mantan istrimu itu."
"Setiap orang memang menjadi teman dulu, setelah itu baru timbullah dag dig dug yang membuatmu ingin bersamanya," ucap Amora dengan kesal. Dari sekian banyak wanita, dia paling cemburu dengan Lidya. Ah, tidak. Dia cemburu pada semua makhluk ciptaan Tuhan yang berjenis kelamin perempuan.
"Benarkah? Apa seperti dag dig dug yang aku rasakan seperti saat bersama mu?" tanya Devan membuat Amora langsung diam.
"Oh ya, aku dengar dari Kak Samy kalau kau ingin cepat-cepat menikah denganku. Memangnya ada apa? Apa kau takut, kalau aku berpaling pada wanita lain?"
"Tentu saja!" Amora langsung melepaskan pelukan Devan dan berbalik menghadap laki-laki itu. "Apa kau tidak pernah dengar, kalau pelakor di mana-mana sudah merajalela?"
"Ppfftt." Devan menutup mulutnya yang sudah hampir kelepasan tertawa.
"Aku sedang tidak bercanda." Amora merasa semakin kesal. "Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari mereka, seharusnya kau berterima kasih! Cih, kau beruntung punya kekasih yang sangat peduli padamu."
Devan menganggukkan kepala dengan tawa yang masih tertahan di mulutnya. "Kau benar. Aku memang sangat beruntung punya kekasih yang sangat perhatian padaku. Jadi, kapan kita akan menikah?" Dia berusaha keras untuk tetap menahan tawanya atau Amora akan semakin murka. Bisa-bisanya wanita itu sampai berpikir tentang pelakor segala.
__ADS_1
"Me-memangnya kau benar-benar mau menikah?" tanya Amora dengan ragu.
"Tentu saja. Apa kau pikir, selama ini aku menjadi kekasihmu itu bukan untuk menikahimu?"
Amora mengendikkan bahunya. "Ya mana tau kan, kau sama sekali tidak kepikiran."
Devan langsung tersenyum lebar sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Itu tidak mungkin, Amora. Aku mengurus perceraian ku dengan cepat karna memikirkanmu, memikirkan pernikahan kita."
"Benarkah?"
Devan mengangguk. "Kau juga tau kalau aku mencintaimu, aku bahkan sangat mencintaimu."
"A-aku juga mencintaimu. Cintaku itu lebih besar dari cintamu,"
"Apa?" Devan semakin gemas saja dengan apa yang gadis itu ucapkan. Bagaimana mungkin Amora bisa tau kalau cintanya itu lebih rendah dari cinta Amora? "Jadi maksudmu, cintamu itu sangat besar untukku? Dan lebih besar dari cintaku untukmu?"
Amora langsung menganggukkan kepalanya sampai beberapa kali. "Ya, itu kan memang benar. Jadi, kapan kau akan menikahiku?" Dia melihat Devan dengan puppy eyesnya membuat laki-laki itu langsung meleleh.
"Sekarang. Aku akan menikahimu sekarang juga,"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1