
Niki menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar. Dia merasa menyesal karena sudah mengungkapkan perasaannya pada Justin, sementara laki-laki itu malah langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa.
"Awas saja, dia. Aku akan memukulnya sampai mati jika bertemu dengannya." Niki mengepalkan tangannya dengan erat dan penuh emosi.
Sementara itu, Justin terus tersenyum sepanjang jalan kenangan. Dia benar-benar merasa bahagia dengan apa yang Niki ucapkan, dan tidak menyangka kalau wanita itu mencintainya.
"Aku tidak menyangka kalau Niki ternyata mencintaiku. Dan aku lebih tidak menyangka kalau ternyata aku juga mencintainya." Dia merasa menjadi manusia paling bod*oh dimuka bumi ini. Apa jadinya jika Niki benar-benar jatuh ke tangan Valdo? Sudah pasti hatinya akan menjadi hancur.
Justin mengemudikan mobilnya menuju rumah Amora untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting, dia semakin menekan pedal gasnya agar bisa cepat sampai.
Sementara itu, semua orang terlihat sedang berkumpul di rumah Amora termasuk Devan juga.
"Besok kalian akan menikah, apa kalian benar-benar sudah siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga?" tanya Lucas layaknya seorang ayah, dia melihat ke arah Amora dan Devan secara bergantian.
"Aku siap, Pa. Mohon bimbingan dari papa, dan ingatkan kami jika berada dijalan yang salah,"
"Apa kau sedang mengejek papa?" ucap Lucas dengan emosi membuat semua orang menjadi bingung. "Kau minta bimbingan pada papa, sementara papa sendiri belum pernah menikah."
Deg.
Mereka semua melupakan fakta yang sangat penting itu. Walaupun Lucas punya 2 anak, tetapi laki-laki itu sangat menyedihkan karena belum pernah merasakan sebuah pernikahan.
"Apa Anda sedih, Tuan?" tanya Jessy yang juga ada di tempat itu.
"Aku tidak sedih, hanya merasa nyesek saja,"
"Itu kan sama aja, Pa," ucap Samy sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika Anda juga menikah, Tuan. Jadi bisa dijadikan satu dengan tuan Devan dan juga Nona," ucap Jessy mencoba untuk memulai peperangan.
"Cih. Dasar tidak berkaca, memangnya kau punya suami apa?" balas Lucas membuat semua yang ada di tempat itu memutar bola mata dengan jengah, mereka yakin kalau dua orang sama generasi itu pasti akan segera bertengkar.
__ADS_1
"Setidaknya saya sudah pernah memiliki suami, Tuan. Bagaimana dengan Anda?" ucap Jessy lagi membuat Lucas menatapnya dengan tajam. "Itu sebabnya saya menyuruh Anda untuk menikah agar bisa barengan dengan tuan Devan dan juga nona Amora."
"Aku juga akan menikah, Bu."
Tiba-tiba semua orang tersentak kaget saat mendengar suara Justin.
"Hah, menikah?" tanya Jessy yang dibalas dengan anggukkan kepala Justin, sementara yang lain tercengang dengan apa yang laki-laki itu katakan.
"Menikah dengan siapa?" tanya Samy kemudian, yang lainnya juga ikut penasaran walaupun sudah tahu siapa wanita itu.
"Saya akan menikah dengan Niki, Tuan,"
"Waah, apa kakak serius?" Amora langsung beranjak dari sofa dan mendekati laki-laki itu.
"Iya, Nona."
Semua orang langsung heboh dengan apa yang Justin katakan. Mendadak mereka menjadi seorang wartawan yang mengajukan banyak sekali pertanyaan pada Justin.
"Gila. Hebat sekali wanita itu, dia langsung mengungkapkannya tanpa takut dan juga malu," Seru Lucas saat Justin sudah selesai menceritakan semuanya.
"Iya benar. Ternyata Niki gadis yang sangat berani, apalagi laki-laki yang dia sukai bentuknya seperti itu," cibir Samy membuat yang lainnya tergelak.
"Berhenti mengejek kak Justin," ucap Amora yang saat ini tersenyum lebar ke arah Justin. "Jadi, sekarang kakak sudah sadar?"
Justin menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum tipis membuat yang lainnya langsung merinding. "Iya, Nona. Maaf karena saya tidak mendengarkan ucapan Anda waktu itu."
"Tidak apa-apa. Aku senang jika kakak sadar dengan perasaan kakak sendiri." Dia menepuk lengan Justin.
"Tapi, apa Niki sudah tahu dengan rencana pernikahan ini?" tanya Devan dengan khawatir. Bukannya dia merasa tidak setuju dengan pernikahan itu, hanya saja Niki belum mengatakan apapun padanya.
Justin menggelengkan kepalanya. "Saya belum memberitahukannya. Mungkin setelah ini akan saya beritahu."
__ADS_1
Semua orang menganggukkan kepala mereka dan ikut senang dengan apa yang Justin katakan, walaupun rasanya sangat mengganjal sekali.
"Baiklah. Setelah pernikahan Nona, kita akan langsung menyiapkan pernikahanmu," ucap Jessy dengan semangat 45. Dia benar-benar bahagia dengan apa yang Justin katakan, walaupun putranya itu belum pernah mengenalkan calon istrinya.
"Tidak, Bu. Besok aku dan Niki akan menikah setelah Nona dan tuan Devan,"
"Apa?" Semua orang sangat terkejut dengan apa yang Justin katakan.
"Kau tidak salah, Justin?" tanya Jessy yang langsung dijawab oleh anggukan kepala laki-laki itu.
"Kami tau kalau cintamu itu sudah sangat menggebu-gebu, Justin. Tapi pernikahan itu tidak bisa asal cap cip cup saja. Memangnya calon istrimu hanya akan memakai baju tidur saja, saat menikah?" Lucas benar-benar sangat kagum sekali dengan Justin.
"Yang pa-pa katakan itu benar, Kak. Kita butuh persiapan untuk semuanya, Niki juga pasti akan sangat terkejut jika mengetahui kalau dia akan menikah besok tanpa persiapan apapun." Amora melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya, bahkan saat ini sudah jam 10 pagi. Mereka tidak akan sempat menyiapkan pernikahan itu.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Saya sudah menyiapkan semuanya,"
"Benarkah?" tanya mereka semua secara bersamaan.
Justin menganggukkan kepalanya. Dia sudah menghubungi pihak WO untuk menyiapkan acara pernikahannya besok, dan akan diadakan di sebuah aula yang berada tepat di samping aula pesta Amora dan Devan.
Pada saat yang sama, Niki dikejutkan oleh beberapa orang yang mendatanginya di panti asuhan. "Maaf, kalian siapa ya?" tanya Niki.
"Maaf, Nona. Kami adalah seorang desainer yang diperintah oleh Nona Amora untuk mengukur tubuh Anda. Mari Nona, kami harus membawa Anda ke butik."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1