
Beberapa hari telah berlalu sejak Devan mengetahui semua tentang kedua orangtuanya, tetapi hatinya tetap menolak dan tidak ingin mengakui bahwa mereka adalah kedua orangtuanya.
Saat ini, dia sedang duduk dipinggir danau. Dia menginap disebuah penginapan dan mengasingkan diri, dia juga mematikan ponselnya dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Devan memperhatikan air yang tenang di hadapannya, tidak bisakah dia hidup tenang seperti air itu? Kenapa takdir seolah-olah sedang mempermainkan hidupnya?
Helaan napas kasar terus terdengar dari hidung dan mulutnya, sungguh dia tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi padanya.
Devan membaringkan tubuhnya di atas rerumputan, membiarkan semilir air menerpa seluruh kulitnya. Dia berharap semua yang terjadi padanya ini hanya lah mimpi, apa yang akan dia katakan pada Amora tentang semua ini?
Tidak, tidak ada yang boleh tau siapa dia sebenarnya. Akan tetapi, sebuah bangkai akan tetap tercium baunya. Walaupun disembunyikan dalam waktu yang cukup lama.
"Aaarggh!" Devan berteriak dengan sangat kencang. "Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku? Tidak bisakah aku hidup bahagia?"
"Bisa, tentu saja bisa!"
Devan langsung memutar tubuhnya saat mendengar suara baritone seseorang, betapa terkejutnya dia saat melihat Samy ada di belakangnya.
"Tu-Tuan Samy?"
Dengan cepat Devan berdiri di hadapan laki-laki itu, terlihat ada dua orang lelaki lagi yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
"Ya, Devan! Aku sudah mencarimu ke mana-mana, ternyata kau ada di sini!"
Devan mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Samy, untuk apa pula laki-laki itu mencarinya, pikirnya.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
Dia langsung menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan ucapan Samy, mereka lalu duduk disebuah bangku yang ada di tempat itu.
"Sebelumnya, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan dulu padamu!"
Samy melihat lurus ke arah danau, sementara Devan menyampingkan tubuhnya agar bisa melihat ke arah laki-laki itu.
"Bagaimana hubunganmu dengan Amora? Apa berjalan lancar?"
__ADS_1
Ah, dada Devan kembali sesak saat mendengar nama Amora. Dia bahkan sudah berhari-hari tidak menghubungi gadis itu, jangankan hubungan mereka, kabar Amora pun dia tidak tau.
Samy melirik ke arah Devan yang terdengar menggembuskan napas berat, kedua tangan laki-laki itu juga saling bertautan dengan mata yang menggantung mendung.
"Ada apa? Apa kalian sedang bertengkar?"
Devan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan! Kami baik-baik saja!" Dia mencoba untuk mengulas senyum, tapi si*alnya mulutnya tidak bisa untuk digerakkan.
Samy mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku senang mendengarnya, aku harap kalian juga akan tetap selalu baik-baik saja sampai kapanpun!"
Walau tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Samy, tetapi Devan mengaminkan ucapan baik itu. Namun, dia masih tetap saja heran. Dari begitu banyak manusia, kenapa harus Samy yang menemuinya disaat-saat seperti ini? Dan kenapa pula laki-laki itu bisa tau keberadaannya?
"Devan! Kenapa kau melamun?"
Devan terkesiap saat tangan Samy mendarat dibahunya. "Ma-maaf Tuan, saya tidak-"
"kakak!"
"Hah?"
"Panggil aku Kakak!"
Devan semakin melongo, otak pintarnya berputar-putar untuk memproses ucapan dari Samy.
"Kau adalah kekasih adikku, sudah pasti kau akan memanggilku kakak. Semua orang akan tertawa kalau kau memanggilku Tuan!"
Ah, Devan baru paham dengan apa yang Samy inginkan. Akan tetapi, kenapa laki-laki itu tiba-tiba seperti ini?
"Tapi, kenapa? Kenapa tiba-tiba anda ingin dipanggil kakak?"
Tentu Devan merasa bingung, kenapa tidak dari dulu saja laki-laki itu menyuruhnya untuk memanggil kakak. Kemana saja? Ingin sekali dia berkata itu.
"Tidak tiba-tiba kok, tapi ya baru terpikirkan sekarang saja!"
Devan nyengir kuda untuk menanggapi ucapan Samy, memang orang-orang yang bersama Amora selalu saja aneh. Termasuk wanita itu juga, dan tiba-tiba dia jadi sangat merindukan Amora.
__ADS_1
"Jadi Devan, bisakah aku meminta satu hal darimu?"
Samy menatap Devan dengan tajam, sudah cukup basa-basinya dan sekarang saatnya untuk mengatakan semuanya.
Glek, entah kenapa Devan malah merasa gelisah. "Ten-tentu saja, Tu- eh Kak!" Kegugupan melanda jiwa dan raganya.
"Aku cuma ingin, tetaplah disisi Amora sampai kapanpun! Jangan pernah meninggalkannya, dan jangan pula berpaling darinya. Sayangilah dia, lindungi dia, dan, dan-"
Samy tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya, dia lalu memalingkan wajah ke arah samping agar Devan tidak melihat air matanya yang menerobos keluar.
Devan sendiri menatap Samy dengan bingung, dia merasa seperti ada sesuatu yang laki-laki itu sembunyikan. Juga semua kata-kata yang laki-laki itu ucapkan, kenapa seperti kata-kata perpisahan karna Samy ingin pergi untuk selama-lamanya?
"aku harap kau bisa melakukannya, Devan! Cukup temani dia, dan jangan meninggalkannya!"
"Kenapa? Kenapa anda meminta hal seperti itu, apa anda ingin meninggalkan Amora?"
Deg, Samy terdiam. Dia sebenarnya tidak ingin meninggalkan Amora, atau bahkan menjauh dari adiknya. Hanya saja, dia sudah mendapat peringatan dari Lucas. Bahwa laki-laki itu akan datang dan memaksanya untuk ikut.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkannya! Hanya saja aku ingin mengatakan hal tersebut padamu, dia sudah terlalu banyak terluka, dan aku tidak mau dia kembali merasakan luka itu. Jadi, bisakah kau berjanji untuk tidak meninggalkannya?"
Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan, kepala mereka sama-sama dipenuhi oleh Amora sekarang. Bukan karna saingan, tapi karna besarnya cinta pada wanita itu.
"Aku berjanji, aku berjanji tidak akan meninggalkan Amora!"
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Devan, padahal dia sendiri masih terpuruk dengan kenyataan yang sedang menghantamnya.
"Terima kasih, terima kasih banyak, Devan!"
Samy langsung memeluk tubuh Devan dengan erat, dada mereka sama-sama berdegup kencang karna pelukan itu.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.