
Devan keluar dari ruangan Amora dan beralih mengikuti langkah Justin, mereka berdua masuk ke ruangan yang berada tepat di depan ruangan Amora.
"duduk!" ucap Justin saat melihat Devan masuk ke dalam ruangannya.
Kini mereka duduk saling berhadapan dengan Justin yang menatap tajam ke arah Devan, sementara Devan sendiri tidak mau kalah, dia juga membalas tatapan itu dengan tak kalah tajam.
"Saya tidak tau kenapa Nona muda melakukan semua ini, tapi satu yang perlu kau tau, saya sangat tidak menyukaimu!"
Devan mengernyitkan keningnya, dia tidak menyangka kalau lelaki itu akan langsung mengibarkan bendera ketidak senangan padanya.
"Cih, memangnya siapa yang menyukaimu? Kau pikir aku laki-laki tidak normal!"
Dia membuang muka sebal, dan itu berhasil membuat sudut mata Justin sedikit berkedut.
"saya tidak peduli apa yang kau pikirkan, sekarang keluar dari ruangan saya!"
"Apa? Kenapa anda menyuruh saya keluar, Tuan? Bukannya Tuan harus menjelaskan apa pekerjaan saya?"
Andai yang ada di hadapannya ini adalah orang lain, sudah pasti Devan akan memukul wajahnya yang sombong itu.
"pekerjaanmu bukan di sini, dan saya akan menghubungimu kalau ada pekerjaan yang harus kau lakukan!" ucap Justin dengan kesal, dia lalu beralih membuka berkas-berkas yang ada di atas mejanya dan mengabaikan lelaki itu.
Devan mengepalkan kedua tangannya dengan kesal, dia lalu berdiri dan segera keluar dari ruangan itu sebelum dia lepas kendali.
Brak! Dia menutup pintu ruangan Justin dengan keras membuat beberapa orang yang melintas di depan ruangan itu melihatnya dengan bingung.
"Cih, sombong sekali dia! Awas saja kalau suatu saat nanti dia membutuhkanku!"
Devan mulai merasa menyesal karna sudah menerima tawaran dari wanita itu, padahal dia baru tau bagian luarnya saja, dan belum menjelajah kedunia mereka yang pasti akan membuat dia semakin gila.
Sementara itu, Amora yang ada di ruangannya melihat apa yang Devan lakukan melalui cctv yang terhubung ke dalam ponselnya. Dia sedikit mengulas senyum saat mendengar omelan lelaki itu.
"Sepertinya aku tidak salah memberi penawaran padanya, aku yakin dia pasti akan mengguncang dunia kak Justin!"
Sepertinya Amora senang sekali mengganggu sekretarisnya itu, setidaknya ada sesuatu hal yang bisa menghiburnya di tengah kegelapan hidup yang saat ini dia rasakan.
Tidak berselang lama, ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman tangannya berdering. Dia segera mengangkat panggilan masuk dari seseorang.
"selamat pagi, Nona! Maaf jika saya mengganggu waktu Nona," ucap seorang lelaki yang ada di sebrang telpon.
"ada apa?" tanya Amora, tidak biasanya anak buahnya itu menelponnya.
"Begini Nona, barang kita sudah sampai di pelabuhan. Tetapi ada dua orang polisi yang menahannya."
Amora terdiam, matanya berkilat marah dengan raut wajah yang langsung berubah 180 derajat. Jauh berbeda dengan dengan beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
"apa Kak Justin tau?"
"Maaf Nona, saya langsung menghubungi Nona saat nomor ponsel Tuan Justin sedang sibuk!"
Yah, Amora tau kalau Justin pasti sibuk menelpon di sana sini sehingga nomornya selalu sibuk kalau sedang dihubungi. Akan tetapi, jika dia yang menghubungi pasti nomor lelaki itu tidak pernah sibuk.
"Baiklah, kalian tunggu di sana! Aku dan Kak Justin akan datang!"
Amora segera mematikan panggilan itu saat sudah selesai memberi perintah, kemudian dia beranjak keluar dan berlalu ke ruangan Justin.
Brak! Justin yang saat itu sedang menelpon seseorang langsung melihat ke arah pintu, dia bergegas mematikan panggilan telponnya saat Nona mudanya mendekatinya.
"ada apa, Nona?" tanyanya sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kita harus ke pelabuhan!"
Justin menganggukkan kepalanya dan segera berjalan di belakang Amora, dia sedikit bingung kenapa Nona mudanya mengajak ke pelabuhan saat ini.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya mereka sampai di pelabuhan. Terlihat beberapa orang anak buah Amora sudah menunggu kedatangan mereka, dan Justin segera membukakan pintu mobil untuknya.
"selamat datang, Nona!" ucap semua anak buah Amora secara bersamaan, dan dia hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan mereka.
"di mana mereka?" dia bertanya di mana keberadaan dua polisi itu dan juga barang-barangnya.
"Mari saya antar, Nona!"
"Jadi, barang-barang ini milik anda, Nona Amora Charlene?"
Amora segera duduk di hadapan kedua polisi itu dengan senyum manis di wajahnya. "Benar! Untuk itulah aku ada di sini!"
Kedua polisi itu menyeringai, kemudian mereka kembali duduk di hadapan wanita itu.
"jadi, apa yang kalian inginkan?" tanya Amora secara langsung, dia adalah tipekal orang yang tidak suka berbasa-basi.
"Begini Nona Amora, anda telah melanggar peraturan negara ini dengan membeli senjata api dalam jumlah banyak. Jadi, kami harus-"
Brak! Kedua polisi itu terkejut saat tiba-tiba Justin meletakkan beberapa tumpuk uang di atas meja membuat mereka terbelalak.
"cukup?" tanya Amora.
Kedua polisi itu saling lirik dengan menelan salive mereka, kemudian kembali melihat ke arah uang dan Amora secara bergantian.
"Nona, ini-"
Brak! Lagi, Justin kembali meletakkan uang ke atas meja membuat kedua lelaki itu langsung tersenyum cerah.
__ADS_1
"lain kali, anda bisa langsung menghubungi saya jika memesan barang, Nona!" ucap salah satu polisi tersebut.
Amora bangkit dan melihat mereka dengan nanar. "Tidak perlu!" Dia kemudian berbalik dan keluar dengan diikuti oleh Justin.
"urus mereka!" perintah Amora saat sudah berada di luar.
"Baik, Nona!"
Amora berjalan ke arah mobilnya berada, sementara Justin kembali berbalik dan masuk ke dalam ruangan itu.
"loh, ada apa, Tuan!" tanya polisi itu dengan bingung, mereka sedang asyik menghitung uang dan merasa terganggu dengan kehadiran Justin.
Tanpa berkata apa-apa, Justin langsung menodongkan dua buah pistol tepat ke kepala dua polisi tersebut membuat mereka terpaku menatapnya.
"Tutup mulut, dan menghilanglah seperti debu. Jika aku mendengar kejadian ini sampai ke orang lain, bisa kupastikan dihari itu juga, kalian sudah mati ditanganku!"
Glek, kedua polisi itu langsung panas dingin mendengar ancaman Justin. Mereka tau betul siapa pria yang saat ini sedang menodongkan pistol pada mereka.
"ka-kami adalah polisi, Tuan! Tidak sepantasnya anda-"
"Siapa pun kalian, aku tidak peduli! Ingat semua ucapanku, atau aku akan benar-benar memusnahkan kalian!"
Justin mendorong pistolnya sampai kepala kedua lelaki itu ikut terdorong, dengan cepat mereka menganggukkan kepala dan berjanji tidak akan mengatakan apapun pada orang lain.
Setelah selesai, Justin keluar dari ruangan itu dan berjalan mendekati anak buahnya.
"siapa yang telah menelpon Nona?" tanyanya kemudian.
"Saya, Tuan!"
Seorang lelaki maju karna dia yang telah melaporkan kejadian ini pada Amora, dan sedetik kemudian ....
Plak! Sebuah tamparan melayang tepat ke wajahnya. "Sudah ku katakan untuk melaporkan semuanya padaku, dan bukan menyusahkan Nona!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
Jangan lupa mampir ke karya temen aku ya 😘 dijamin keren dan seru 🥰
__ADS_1