
Lidya benar-benar murka, siapa saja juga pasti akan marah jika dikatai seperti itu. Walau apa yang Amora katakan adalah suatu kebenaran.
Dia yang akan kembali menyerang Amora langsung ditahan oleh Devan, dia mencengkram kuat tangan Lidya membuat istrinya itu meringis kesakitan.
"Pergilah, Lidya! Aku tidak ingin berbuat kasar padamu!"
Devan melepaskan tangan Lidya dengan tetap melihatnya tajam, bagaimana pun dia masih sangat mencintai wanita terkutuk itu.
"aku tidak menyangka kalau kau seperti ini, Devan! Tapi baguslah, setidaknya kau tidak lagi mengemis cinta padaku!"
"jangan menyalahkan orang lain, tapi berkacalah, Lidya! Kau yang bermain api, aku hanya menghembuskan angin di api itu supaya semakin membesar, dan bisa membakar dirimu sendiri!"
"Cih!"
Lidya membuang muka kesal, dia lalu berbalik dan melangkah pergi dari tempat itu.
"Dan satu lagi!"
Langkah Lidya terhenti saat mendengar suara Devan, dia memalingkan wajahnya walaupun tubuhnya masih membelakangi laki-laki itu.
"selama ini aku memang mengemis cinta padamu, dan sekarang aku baru sadar kalau kau sama sekali tidak mencintaiku! Percayalah Lidya, kalau suatu saat nanti kau juga akan melakukan hal seperti itu!"
"Cih, itu hanya terjadi pada orang bod*oh sepertimu! Sementara aku? Aku sudah melabuhkan cinta pada orang yang tepat!"
Lidya lalu tersenyum sinis dan berlalu dari tempat itu, walaupun masih ada rasa kesal dalam hatinya pada mereka semua.
"Si*al! Gara-gara mereka aku jadi bertengkar dengan Lano, awas saja kalian! Suatu saat nanti aku akan membalasnya!"
Dia lalu memanggil taksi dan segera pulang ke rumah, dia tidak bisa menghabiskam malam bersama kekasihnya karna saat ini kedua orangtuanya masih berada di rumah.
Setelah kepergian Lidya, Devan dan Amora juga langsung pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan, tidak ada dari mereka berdua yang mengeluarkan suara. Sampai, tiba-tiba Amora bersuara ...
"Apa kau benar-benar mencintai wanita itu?"
Devan melihat ke arah Amora sekilas, untuk memastikan bahwa yang baru saja bertanya benar-benar wanita itu.
"i-iya, Nona!" jawabnya dengan tergagap, entah kenapa dia merasa berat hati untuk mengatakan kata iya.
__ADS_1
"Setelah dia selingkuh, kau masih mencintainya?"
Kali ini, Devan terdiam. Dia merasa masih mencintai Lidya, tapi terkadang perasaannya berubah menjadi benci.
"saya tidak tau, Nona! Mungkin saja masih, karna cinta tidak bisa hilang dalam sekejap mata!"
"Benarkah?"
Devan menganggukkan kepalanya, dia kembali melihat sekilas ke arah wanita itu dengan senyum tipis.
"Kalau tidak bisa hilang dalam sekejap, kenapa banyak orang yang selingkuh? Bukannya mereka juga saling cinta?"
Devan tersenyum dengan apa yang Amora tanyakan, kini dia yakin kalau wanita yang sedang bersamanya ini benar-benar sangat polos dan tidak tau apapun mengenai dunia orang dewasa.
"Itu pilihan masing-masing, Nona! Cinta itu seperti roller coaster, kadang berada diketinggian yang membuat kita seakan melayang penuh kebahagiaan. Tapi, kadang juga berada di bawah yang membuat kita jenuh dan bosan. Hingga muncullah pikiran untuk mencari cinta yang lain, dan tentu saja tidak semua orang seperti itu. Mencintai seseorang itu mudah, tapi bertahan untuk tetap mencintainya sampai akhir, itulah yang sangat susah!"
Amora terdiam mendengar segala penjelasan Devan, sedikit demi sedikit dia mencoba untuk memahami setiap kata yang laki-laki itu ucapkan.
"Apa wanita itu sudah bosan dengan Papa? Sampai dia tega selingkuh dengan bajing*an itu! Tapi kenapa? Apa kurang nya Papa sampai dia melakukan semua itu?"
Amora memejamkan kedua matanya, amarah dan kebencian mulai merasuki hati dan pikiran hingga ingin sekali dia menghancurkan seisi dunia ini.
Devan terlonjak kaget saat mendengar kata-kata umpatan yang Amora lontarkan, sekilas dia melihat ke arah wanita itu yang saat ini sedang memalingkan wajah ke arah samping.
"Apa Nona tidak senang dengan apa yang aku katakan? Sampai-sampai dia mengumpatku sekejam itu?"
Sepertinya Devan salah paham, tapi biarlah terus seperti itu karna Amora pun tidak berniat untuk mengatakan apa-apa.
Sesampainya di rumah, Amora langsung berjalan masuk melewati Justin dan Samy yang masih setia berada di ruang tamu. Kedua laki-laki itu memperhatikan raut wajah gadis itu yang jelas menunjukkan kalau dia sedang marah.
"selamat Malam, Tuan! Terima kasih karna sudah mengizinkan saya untuk membawa Nona, kalau gitu-
"Duduk!"
Belum sempat Devan menyelesaikan ucapannya, suara Justin langsung menusuk jantungnya membuat dia segera duduk di hadapan kedua laki-laki itu.
"Apa yang terjadi pada adikku? Apa kau membuatnya marah?"
__ADS_1
Devan terdiam, lalu sesaat kemudian dia menganggukkan kepala membuat Justin langsung murka.
"Beraninya kau membuat Nona marah? Apa kau mau kehilangan nyawamu?"
Justin langsung mencengkram kerah kemeja Devan membuat laki-laki terkejut, sementara Samy berusaha untuk menarik tangan Justin agar menghentikan aksinya.
"Ma-maaf, Tuan! Saya tidak sengaja, saya hanya menjawab pertanyaan Nona!"
Justin langsung menghempaskan tubuh Devan begitu saja, tetapi dia masih berdiri dan menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"Coba kau ceritakan semuanya!"
Devan langsung saja menceritakan sesuatu yang terjadi pada saat perjalanan pulang, tidak ketinggalan semua umpatan yang Amora ucapkan juga di ceritakan.
"Tunggu, Nona bukan marah karna jawabannya. Tapi karna ...."
Justin langsung berbalik dan segera berjalan menuju kamar Amora, dia yakin kalau saat ini Nonanya itu pasti sedang melampiaskan segala amarahnya.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kau pulang!"
Samy juga beranjak dari tempat itu, dan ingin melihat keadaan Amora. Walaupun dia hanya bisa mendengar dari luar kamar saja.
"Maaf Tuan, apa saya sudah melakukan kesalahan besar?"
Devan merasa sangat khawatir, apalagi melihat reaksi yang Justin dan Samy berikan saat dia menceritakan semuanya.
Samy yang sudah akan melangkahkan kaki terpaksa mengurungkan niatnya. "Tidak, kau tidak melakukan kesalahan. Dan Amora tidak marah padamu, dia hanya teringat dengan masa lalu!" Dia lalu meninggalkan Devan di tempat itu.
"Masa lalu? Sebenarnya apa yang sudah terjadi di masa lalu?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1