
Devan masih terpaku di depan kafe, kakinya belum juga beranjak dari tempat itu seolah-olah tertancap di atas tanah.
Pikirannya melanglang buana mengingat awal pertemuannya dengan Amora, wanita yang tidak pernah tersenyum dan kalau bicara hanya singkat-singkat saja.
Sikapnya yang tegas dan polos, seperti daya tarik tersendiri dalam diri wanita itu. Akan tetapi, sampai saat ini semua yang Amora ucapkan selalu mengguncang jiwanya. Apalagi saat wanita itu memintanya untuk menjadi kekasih yang sesungguhnya, dia merasa sedang mendapat jackpot luar biasa.
"Apa dia benar-benar ingin menjadi kekasihku yang sesungguhnya? Tapi, kenapa seperti itu? Apa mungkin untuk membalas dendam pada Lidya? Tapi, kalau Ayah dan Ibu tau bagaimana? Apa yang harus aku katakan?"
Kepala Devan terasa mau pecah, otaknya berasap dan tidak sanggup lagi untuk memikirkan semuanya. Tanpa dia sadari, saat ini sudah ada seorang wanita yang berdiri di sampingnya.
"Ekhem!"
Devan sedikit terkejut mendengar deheman seseorang, dia lalu melihat ke arah samping dan menaikkan sebelah alisnya melihat keberadaan Lidya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Lidya terdiam, baru beberapa hari saja sudah banyak perubahan dalam diri Devan. Laki-laki itu biasanya selalu tersenyum cerah dan menyambut kedatangannya, tapi sekarang, Devan menyambutnya dengan wajah sinis dan sorot mata tajam.
"aku ingin bicara soal yang tadi pagi!"
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan! Bulan depan aku akan menceraikanmu, sampai saat itu, kau masih berstatus sebagai istriku!"
Devan langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam kafe. Akan tetapi, siapa sangka kalau Lidya mengikuti langkah kakinya sampai masuk ke kafe tersebut.
"Mbak Lidya? Sudah lama sekali tidak kemari!"
Salah satu pelayan dikafe itu mendekati Lidya, sementara Devan menggertakkan giginya melihat sikap wanita itu.
"Iya yah, udah lama juga aku enggak ke sini!"
Lidya langsung duduk dikursi yang ada di sampingnya, dia melirik ke arah Devan yang sama sekali tidak memperdulikannya dan berjalan ke arah tangga.
"Ada apa, Mbak? Apa Mbak dan kak Devan sedang bertengkar?"
Pelayan itu kepo, karna memang biasanya Devan akan selalu menemani dan tersenyum cerah kepada wanita itu.
"Tidak kok, hanya ngambek biasa saja!"
Lidya lalu beranjak dari sana dan berniat untuk ke ruangan Devan, entah kenapa dia merasa tidak nyaman dengan sikap laki-laki itu padanya.
Jegrek, jegrek!
Lidya berusaha untuk membuka ruangan itu, tetapi Devan menguncinya dari dalam.
__ADS_1
"Si*al! Kenapa aku seperti ini sih?"
Lidya merasa kesal sendiri, semua yang laki-laki itu lakukan benar-benar mengganggu pikirannya. Tidak mau ambil pusing, dia lalu mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
"halo, Sayang! Aku merindukanmu!" ucapnya setelah panggilan telpon itu dijawab oleh seseorang.
"benarkah?"
"Tentu saja, sayang! Bisakah kita bertemu hari ini? Aku ingin dipuaskan olehmu!"
Lelaki yang ada disebrang telpon lalu menyuruh Lidya untuk menunggu diapartemennya, karna saat ini lelaki itu masih berada di kantor.
Devan yang ternyata berdiri dibalik pintu tentu saja mendengar semuanya, tangannya terkepal kuat dengan rahang mengeras saat mendengar ucapan-ucapan yang dikatakan oleh istrinya.
Kemudian, dia mendengar langkah kaki yang menjauh dari depan ruangannya. Itu berarti, Lidya sudah pergi dari tempat itu.
"Kau benar-benar wanita licik, Lidya! Apa kau sengaja datang ke sini cuma untuk menambah luka dihatiku? Kau lihat saja, aku pasti akan membalasnya!"
Devan sudah benar-benar membulatkan tekat, apapun yang terjadi, dia akan membalas wanita itu. Dia harus membuat Lidya merasakan rasa sakit yang saat ini dia rasakan.
Sementara itu, Amora saat ini sudah berada di rumah. Dia menghabiskan waktu dengan latihan menembak, tetapi, pikirannya sama sekali tidak bisa fokus membuat tembakan-tembakannya meleset.
"Sh*it!"
Untuk sekilas, Amora memejamkan kedua matanya. Saat ini dia sengat merindukan kedua orangtuanya, tapi sesaat kemudian, sebuah senyum sinis dibibirnya terbit saat bayangan sang Ibu bercinta dengan laki-laki lain melintas dalam ingatan.
"Dasar *******!"
Justin yang tetap setia berada di samping Amora melihat ke arah wanita itu, dia lalu meletakkan laptop yang sejak tadi berada di atas pangkuannya dan beranjak mendekati Amora.
Dia mengambil handuk yang ada dirak, lalu mengusapkan handuk itu ke kening Nona mudanya yang berkeringat membuat Amora membuka kedua mata.
"Aku merindukan Ayah!"
Justin tersenyum tipis, dia lalu ikut duduk di samping Amora sembari mengambil bantal untuk alas kepala gadis itu.
"Apa Nona mau saya antar ke makam Tuan Besar?"
Amora menggelengkan kepalanya, dia tidak mau kembali menangis saat berada dipusara sang Ayah. Dia tidak mau terlihat lemah, karna dia harus kuat untuk membalaskan dendam.
Untuk beberapa saat, mereka saling diam. Seolah-olah sedang larut dalam pikiran masing-masing, yang tentu saja memikirkan tentang semua masa lalu.
Sampai dering ponsel Amora memutuskan keheningan yang terjadi, Justin segera bangun dan mengambil ponsel gadis itu yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Devan?"
Kening Justin mengerut, sejak kapan pula Nona mudanya itu punya nomor ponsel laki-laki itu? dan kenapa Devan menelpon Amora?
"siapa?"
"Devan, Nona!"
Walau beribu pertanyaan memenuhi isi kepalanya, Justin tetap menyerahkan ponsel itu pada Amora.
"ada apa?"
"Maaf kalau saya mengganggu, Nona! Apa, apa nanti malam Nona sibuk?"
Amora diam sesaat, dia lalu melihat ke arah Justin yang berdiri di sampingnya. "Apa nanti malam kita ada urusan?"
"ada, Nona! Kita harus memeriksa barang yang dikirim oleh Tuan-"
"Aku tidak sibuk!"
Amora langsung saja memotong ucapan Justin membuat laki-laki itu terdiam, tentu saja dengan pandangan tajam dan pikiran bingung.
"apa Nona bisa menemani saya ke acara pesta? Ada salah satu pelanggan tetap dikafe yang mengundang saya ke acara pernikahan anaknya!"
"ya!" Amora langsung mengiyakan ajakan Devan tanpa berpikir lebih dulu.
"Ba-baiklah, nanti malam saya akan menjemput Nona!"
Tut, Amora langsung mematikan panggilan itu saat Devan selesai bicara. Ada senyum tipis yang terbit dibibirnya walau nyaris tidak terlihat sama sekali.
"Apa Nona akan pergi dengan Devan?"
Amora mengangguk. "Benar, bantu aku bersiap!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1