
Wajah Devan memerah bak kepiting rebus saat Amora menunjuk tepat ke adik kecilnya, sementara wanita itu menatapnya dengan bingung seperti bertanya-tanya kenapa asetnya menjadi tegak berdiri.
Dengan cepat Devan berbalik dan langsung meninggalkan Amora begitu saja, dia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
Brak!
Amora tetap melihat ke arah Devan sampai lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi. "Apa yang terjadi? Kenapa itunya menonjol kayak gitu?"
Takut terjadi sesuatu dengan pusakanya Devan, Amora segera menelpon Justin dan menyuruh laki-laki itu untuk datang ke kamarnya saat ini juga.
"Ada apa, Nona? Kenapa Nona terlihat panik sekali?"
Justin berjalan cepat ke arah Amora yang sedang berdiri di samping ranjang, dengan tetap memakai jubah handuk yang tadi diberi oleh Devan.
"Ada keadaan darurat, lebih baik panggil Dokter sekarang juga!"
Justin mengernyitkan keningnya, matanya melihat kesekeliling kamar tetapi tidak melihat keberadaan Devan.
"Apa yang terjadi, Nona?"
Untuk sekali lagi Justin bertanya apa yang terjadi sembari mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya, dia lalu mencari nomor ponsel seorang Dokter yang ada di Kota itu.
"Bu*ru*ngnya Devan berdiri!"
Justin yang sudah menelpon Dokter langsung kaku saat mendengar apa yang Amora katakan, dia lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah wanita itu dengan bingung.
"Halo, Tuan Justin?"
Tut, panggilan telpon sudah tersambung dan langsung dimatikan begitu saja oleh Justin. Matanya masih menatap Amora lekat-lekat, untuk memastikan kalau telinganya masih berfungsi dengan baik.
"kenapa telponnya dimatikan? Kakak belum menyuruh Dokter itu datang!"
"Maaf Nona, apa maksud ucapan Nona tadi?"
Amora menghela napas berat, baru kali ini Justin meminta penjelasan tentang sesuatu padanya. Lalu dia langsung saja menceritakan apa yang sedang terjadi, bersamaan dengan Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Justin yang mendengar cerita Amora langsung mengepalkan kedua tangannya, apalagi saat melihat Devan berjalan santai ke arah mereka. Ingin sekali rasanya dia mengkuliti laki-laki itu hidup-hidup.
"dia tidak butuh Dokter, Nona! Saya sendiri bisa menyembuhkannya!"
"Benarkah?"
__ADS_1
Justin menganggukkan kepalanya membuat Amora tersenyum senang, sementara Devan yang tidak tau apa-apa memperhatikan mereka dengan bingung.
"kalau gitu, cepat lakukan! Dan kau Devan, buka celanamu sekarang juga!"
"Apa?"
Sontak Devan langsung memegangi celananya saat mendengar ucapan Amora. "Apa-apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau menyuruhku buka celana?" Reaksi Devan persis seperti seorang peraw*an yang akan diperko*sa.
"Kau mau diobati oleh Kak Justin!"
Devan langsung memalingkan wajahnya ke arah Justin, terlihat laki-laki itu memasang smirik iblis membuat dia langsung merinding.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih? Kenapa pula dia mau mengobati aku? Memangnya aku sakit apa?"
Ingin rasanya Devan berteriak dan menghentikan kegilaan ini, tapi tentu saja dia tidak berani untuk melakukannya.
"Saya akan mengobatinya jika anda keluar, Nona! Karna obatnya bisa tidak akan berhasil kalau ada wanita yang melihat!"
Justin terpaksa berbohong agar Amora meninggalkan dia dan Devan, tangannya sudah sangat gatal ingin menghajar laki-laki itu atas apa yang sudah dia lakukan pada Nonanya.
"Baiklah, aku beri waktu 10 menit!"
"Enggak usah takut, kau pasti akan disembuhkan oleh Kak Justin!"
"Tunggu, sebenarnya apa yang terjadi sih? Dan aku tidak sakit apapun!"
Brak!
Pintu kamar itu tertutup dengan kepergian Amora, tentu saja Justin langsung mendekati Devan yang berdiri membelakanginya.
Brak!
Betapa terkejutnya Devan saat tubuhnya dicengkram dan langsung dihantam kedinding, tentu saja yang melakukannya adalah Justin.
"Beraninya kau melakukan itu pada Nona! Apa mau kupatah-patahkan bu*r*ungmu itu?"
Devan meringis mendengar ucapan yang Justin layangkan, tetapi tunggu dulu. Sepertinya ada yang salah di sini.
"apa yang anda lakukan? Kenapa anda marah pada aset saya yang tidak berdosa ini?"
"Tutup mulutmu! Kau telah bernapsu pada Nona sampai pusakamu itu berdiri tegak, aku yakin kalau kau pasti akan berbuat sesuatu pada Nona!"
__ADS_1
Devan mengheningkan cipta sejenak dengan apa yang Justin katakan, dan benar saja, sepertinya sudah terjadi kesalahpahaman di sini.
"aku tidak ada niat untuk melakukan apapun, dan tentu saja asetku ini tegak menantang karna dia masih normal! Laki-laki mana yang tidak bernapsu saat melihat seorang wanita memakai bikini saja!"
"Apa?"
Justin tercengang saat mendengar ucapan Devan, sementara Devan sendiri langsung melepaskan cengkraman laki-laki itu dikerah kemejanya.
"Anda pun pasti akan bernapsu saat melihatnya!"
Justin menghembuskan napas berat saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sepertinya dia harus menjelaskan pada Amora bahwa wanita itu harus tau apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan saat berduaan dengan seorang laki-laki.
"Apa sudah selesai?"
Tubuh Justin dan Devan sama-sama terlonjak kaget saat mendengar suara Amora, sementara wanita itu menatap mereka tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Hah!"
Devan dan Justin sama-sama kembali menghela bapas berat. "Sudah, Nona!" Hanya itulah yang bisa Justin katakan pada wanita polos nan bod*oh itu.
"Kalau gitu kita bisa siap-siap sekarang!"
Devan dan Justin menganggukkan kepala, mereka lalu bubar barisan dan kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.
Tepat pukul 10 malam, Amora dan yang lainnya sudah sampai diparkiran klub malam terbesar di Kota Y. Mereka segera turun dari mobil dan segera masuk ke tempat itu.
Dentuman musik menggema diseluruh penjuru klub dengan banyaknya pengunjung yang ada di sana, mereka asik bergoyang sambil menikmati minuman yang memabukkan.
"Arah jam 9, Nona!"
Amora segera melihat ke arah yang dibisikkan oleh Justin, sontak matanya langsung membulat sempurna saat melihat Roberto sedang berdiri dengan seorang laki-laki yang sangat dia kenal.
"Lucas?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1