Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 16. Kerja Sama Dimulai.


__ADS_3

Amora tersentak mendengar suara teriakan Devan, membuat lelaki itu langsung menutup mulutnya dengan tangan.


"Ma-maaf, Nona! Ka-kalau gitu saya permisi untuk melihat Niki dulu!"


Devan harus segera melihat keadaan Niki, Amora mengatakan kalau Justin tidak akan membunuh wanita. Berarti bisa saja lelaki itu menyakiti Niki, walaupun tidak sampai menghilangkan nyawanya.


Amora menatap Devan dengan tajam membuat lelaki itu tidak berani bergerak. "Aku lapar!"


Kening Devan langsung berkerut, dia lalu melihat ke arah meja di mana makanan dan minuman sudah tersaji dengan lengkap. Tapi kenapa pula Amora masih berkata lapar?


"tunggu, apa dia tidak menyukai pasta juga?"


"maaf Nona, saya akan mengambilkan makanan yang lain untuk Nona!"


"Temani aku makan!"


Tubuh Devan langsung membeku, ternyata Amora minta ditemani makan. Tapi, bagaimana dengan nasib Niki? Devan benar-benar merasa sangat bingung.


"Nona, bagaimana nasib-"


"duduk atau kududuki kau?"


"Hah?"


Devan langsung duduk di hadapan Amora dengan kaku, pikirannya sedang melanglang buana tentang kata-kata yang baru saja Amora ucapkan.


"Kududuki? Maksudnya apa?"


Sepanjang menemani Amora makan, pikirannya terus terpusat pada kata-kata diduduki membuat dia tidak bisa fokus sama sekali.


Sementara itu, di lantai 2 tepatnya di ruangan Devan. Terlihat Justin berdiri dengan sorot tajam ke arah wanita berseragam pelayan, dia merasa sangat kesal dengan ulah pelayan itu. Harga dirinya terasa tercabik-cabik karna wanita itu dengan lancang meremmas asetnya yang berharga.


"Kau!"


Tubuh Niki semakin bergetar, kedua tangannya sibuk mencengkram celemek yang sedang dia pakai.


"Kau tau seberapa besar kesalahanmu?"


Entah kenapa Justin bertambah kesal saja melihat wajah imut nan menjengkelkan wanita itu, andai yang ada di hadapannya adalah lelaki, dia pasti sudah menghajarnya sampai menghadap Tuhan.


"Jawab aku!"


Tubuh Niki terjingkat ke atas karna suara bentakan Justin, dengan takut-takut dia mulai mengangkat pandangannya untuk melihat lelaki itu.


"Ma-maafkan saya, Tuan! Saya benar-benar tidak sengaja, sumpah!"

__ADS_1


Niki mengangkat tangannya dan membentuk angka 2 untuk meyakinkan lelaki itu, bahwa apa yang dia lakukan tadi bukan kehendaknya.


"Kalau Tuan mau, saya bisa mengulangi adegan tadi! Pasti Tuan bisa tau kalau saya enggak sengaja!"


Justin semakin menajamkan pandangannya, sudut matanya tampak berkedut dengan apa yang wanita itu ucapkan.


"Dasar sinting! Apa maksudnya dia mau kembali meremmas aset negaraku?"


Tanpa menanggapi ucapan wanita itu, Justin langsung saja membuka jas dan kemejanya membuat Niki membulatkan mata.


Justin langsung melempar jas dan kemejanya itu tepat kewajah Niki, membuat wanita itu terkesiap.


"Bersihkan itu sekarang juga! Jika tidak, aku akan melakukan seperti apa yang kau lakukan!"


Niki tercengang, bagaimana mungkin laki-laki itu akan meremmas sesuatu yang dia jaga seumur hidupnya? Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sa-saya akan membersihkannya sekarang juga, Tuan!"


Niki langsung berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu, dia harus segera membersihkannya sebelum sesuatu terjadi pada mahkota hidupnya.


Brak!


Suara benturan pintu yang ditutup dengan kuat menggema di ruangan itu, membuat Justin menghela napas kasar. Dia lalu mendudukkan tubuhnya ke sofa yang ada di sampingnya.


"Cih, merepotkan saja!"


Pada saat yang sama, Devan sedang menyusun piring bekas makan Amora. Dia yang ingin menyuruh pelayan mengurungkan niatnya itu, dia takut terjadi masalah lagi dan lebih baik dia yang melakukannya.


"Niki!"


Niki yang sedang berlari langsung mengerem kakinya saat mendengar panggilan Devan, dia lalu menghadap lelaki itu dengan napas tersengal-sengal.


"Kau enggak apa-apa kan?"


Devan memegang kedua bahu Niki dan memiringkan tubuhnya untuk melihat apakah tubuh wanita itu terluka, dia bernapas lega karna tubuh Niki masih lengkap seperti sebelumnya.


"aku enggak Papa Kak, tapi sebentar lagi aku kenapa-kenapa!"


"Hah?"


Devan mengernyitkan keningnya, dia tidak mengerti dengan apa yang Niki katakan. "Ada apa?"


"Aku akan ceritakan nanti, sekarang aku sedang buru-buru!"


Niki berbalik dan langsung berlari keluar, dia harus segera ke loundry untuk membersihkan baju laki-laki menyeramkan itu.

__ADS_1


"Dasar wanita itu!" Devan menggerutu dan kembali melihat ke arah Amora yang sejak tadi memperhatikannya.


"Apa Nona ingin sesuatu yang lain?"


Amora menggeleng, dia lalu menyuruh Devan untuk kembali duduk melalui sorot matanya dan langsung dilaksanakan oleh lelaki itu.


"Adikmu banyak yah?"


Entah setan dari mana yang merasuki Amora hingga membuatnya melontarkan kata-kata itu, sementara Devan hanya tersenyum tipis saja membuat dadanya kembali berdebar.


"Lihatkan, jantungku berdebar lagi! Sepertinya aku harus tidur selama 2 hari!"


"mereka satu panti asuhan dengan saya, Nona! Saya sudah menganggap mereka adik saya sendiri!" jawab Devan, dia lalu melihat Amora dengan tajam karna ada sesuatu yang ingin dia katakan pada wanita itu.


"Jangan melihat seperti itu! Jantungku seperti akan meledak!"


Devan tercengang saat mendengarnya, matanya berkedip beberapa kali seakan-akan sedang berpikir keras apa maksud ucapan Amora.


"Lupakan!"


Devan benar-benar terus dibuat bingung, tapi lupakan sajalah dan dia tidak mau juga ambil pusing.


"Nona, ada sesuatu yang ingin saya katakan pada anda!"


"Apa?"


Devan menarik napas sejenak sebelum mengatakannya pada Amora. "Saya masih tidak mengerti kenapa Nona membantu saya, tapi saya akan menerima bantuan Nona! Saya mohon, bantulah saya untuk membalas dendam pada wanita itu!"


Amora tersenyum tipis, dia mengerti ke mana arah pembicaraan lelaki itu saat ini. "Jadi, kau sudah siap?"


Devan mengangguk. "Ya, Nona! Saya benar-benar sudah mati rasa, dan saya ingin membalas semua sakit hati saya pada mereka!"


"Baiklah, aku mengerti!"


Amora bangun dari duduknya membuat Devan ikut bangun, mereka lalu saling berhadapan dan bertatapan saat ini.


"mulai sekarang, perlakukan aku seperti kekasihmu yang sesungguhnya!"


"Hah?"




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2