Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 44. Benih-benih Cemburu.


__ADS_3

Amora diam saat mendengar semua ucapan Justin, kini dia paham kalau laki-laki itu sangat mengkhawatirkan keselamatannya.


"Kakak tetap akan bersamaku, dan menjagaku seperti biasanya!"


Justin tersenyum tipis, tentu saja dia akan menjaga Nona mudanya. Akan tetapi, ada masa di mana Amora pasti akan berdua saja dengan Devan, karna tidak mungkin dia jadi obat nyamuk di antara mereka berdua.


"Kenapa? Apa Kakak akan meninggalkanku karna bola-bola itu?"


Justin mengernyitkan keningnya, dia mencoba untuk memahami apa yang sedang Amora bicarakan saat ini.


"bola-bola? Tunggu, apa Nona sedang membicarakan soal Niki?"


"Ya, wanita itu yang aku maksud!"


Amora langsung menjawab seolah tau apa yang sedang Justin pikirkan saat ini, sementara Justin hanya menghela napas berat saja saat kembali mengingat wanita yang selalu membuatnya kesal setengah mati.


"dia kekasih Kakak?"


"tidak!"


"lalu, kenapa dia ada di rumah Bibi?"


"karna dia membuat kesalahan!"


"kesalahan apa?"


"dia membuatku kesal!"


"membuat kesal lalu langsung di bawa pulang?"


"Hah!"


Justin menghela napas kasar, kalau sudah seperti ini, Amora pasti akan terus menanyai semua hal padanya. Sesuatu yang selalu gadis itu lakukan beberapa tahun lalu, saat dia berkunjung ke rumah mereka untuk bertemu dengan Samy.


Pada saat yang sama, Devan sudah berada di depan pintu ruangan Lucas. Sekarang dia tidak tah harus melakukan apa, tidak mungkinkan kalau dia masuk ke dalam? Itu sama saja dengan bunuh diri.


"Permisi, Tuan!"


Tiba-tiba ada seorang pelayan yang berdiri di hadapan Devan, dan sepertinya wanita itu sedang membawakan minuman untuk Lucas dan temannya.


"Apa Nona mau masuk?"


Wanita itu mengangguk dengan senyum lebar, dia sangat terpesona dengan wajah tampan yang terpahat sempurna di depan matanya.


Devan sendiri langsung tersenyum saat melihat anggukan kepala wanita itu. "Bisakah Nona menungguku 5 menit saja, aku ingin meminta bantuan anda!"

__ADS_1


Wanita itu menatap bingung, tapi kemudian dia menganggukkan kapalanya membuat Devan langsung berlari keluar dari tempat itu.


"Amora!"


Amora dan Justin yang masih mengobrol langsung mengalihkan pandangan mereka, terlihat Devan sedang berlari ke arah mereka saat ini.


"Apa kau tidak apa-apa?"


Amora langsung memperhatikan tubuh Devan, mungkin saja ada bagian tubuh laki-laki itu yang sudah hilang.


"Aku tidak apa-apa, tapi sekarang aku ingin minta alat perekam!"


Devan bicara dengan tersengal-sengal akibat berlari, tangannya terulur untuk meminta apa yang tadi dia sebutkan.


Amora dan Justin menatapnya dengan bingung. "Untuk apa?"


"Tidak ada waktu untuk bertanya, sekarang serahkan saja barang itu padaku!"


Walaupun masih merasa bingung, tetapi Amora memerintahkan Justin untuk memberikan apa yang laki-laki itu inginkan.


Setelah mendapat alat perekam, Devan kembali berbalik dan berlari masuk ke dalam klub, meninggalkan Amora dan Justin yang melihatnya dengan bingung.


"apa yang terjadi padanya?"


Amora menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berjalan ke arah klub untuk kembali masuk ke dalam tempat itu.


Devan yang sudah sampai di tempat semula langsung menyerahkan alat perekam itu pada wanita yang sedang menunggunya, dan membuat wanita itu melihatnya dengan bingung.


"Tolong pasangkan benda ini di bawah meja mereka, apa anda bisa?"


Wanita itu terdiam, lebih tepatnya sedang berpikir apa yang laki-laki itu perintahkan padanya.


"Maaf Tuan, aku tidak berani!"


Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia tidak berani macam-macam dengan Roberto atau laki-laki itu akan langsung memecatnya.


"Anda hanya tinggal menempelkannya saja, pastikan tidak terlihat oleh siapapun! Aku akan memberi imbalan untuk itu!"


Wanita itu berpikir sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya membuat Devan tersenyum lebar. "Baiklah, tapi anda harus memberi uang padaku!"


Devan setuju, dia lalu mengambil dompetnya dan menarik beberapa lembar uang ratusan untuk wanita itu.


Setelah mendapat uang, wanita itu lalu masuk ke dalam ruangan bosnya sementara Devan beranjak dari tempat itu dan memperhatikan dari kejauhan.


Wanita itu menyajikan minuman yang dia bawa, kemudian tangannya yang sedikit bergetar menyelinap ke bawah meja dan menempelkan benda yang diberi oleh Devan tadi.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?"


Seketika wanita itu terdiam, wajahnya menjadi pucat dan gugup saat mendengar salah satu dari laki-laki yang ada di depannya bicara.


"sa-saya, saya-"


"Minumannya sudah penuh!"


Sontak wanita itu langsung menghentikan kerja tangannya yang sedang menuang minuman, sangking gugupnya dia sampai tidak ingat dengan apa yang sedang dia lakukan.


"keluar!"


"Ba-baik, Tuan! Maafkan saya."


Wanita itu beranjak keluar dari tempat itu dengan jantung berdebar keras, untung saja mereka tidak tau apa yang baru saja dia lakukan.


Dari kejauhan, Devan terus memperhatikan wanita yang baru saja keluar dari ruangan Lucas. Dia terus memperhatikan gerak-gerik wanita itu, yang sepertinya sedang menenangkan diri.


"Sepertinya dia berhasil!"


Devan tersenyum senang, kemudian dia berbalik dan hendak menemui Amora dan juga Justin. "Astaga!"


Dia langsung terkejut saat orang-orang yang ingin dia temui ternyata sudah berdiri di belakangnya, dan wajah mereka sama sekali tidak merasa bersalah karna sudah membuatnya kaget.


"Kenapa kau terus memperhatikan wanita itu? Kau menyukainya?"


Belum lepas dari rasa kagetnya, sudah datang lagi pertanyaan yang membuatnya tercengang. "Tidak!"


Amora mendengus sebal, dia lalu melangkahkan kakinya menuju meja bar dan langsung memesan minuman.


"Tunggu, apa yang terjadi dengannya?"


Devan melihat ke arah Justin, tetapi apa yang bisa diharapkan dari laki-laki itu? Wajahnya malah membuat Devan jadi bingung dan kesal.


Amora meneguk minuman-minuman yang ada dihadapannya, dadanya terasa panas saat melihat Devan memperhatikan wanita lain seperti tadi.


"Cih, aku jauh lebih cantik dari wanita itu. Kenapa dia tidak mau melihatku saja?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2