Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 41. Kejadian Yang Sangat Memalukan.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Devan sudah sampai di depan kafenya saat ini. Dia segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam tempat itu.


"Kak, Nona Amora sudah menunggu!"


"Aku tau!"


Devan semakin mempercepat langkah kakinya untuk menaiki anak tangga, kemudian dia membuka pintu ruangannya, terlihat Amora dan Justin sedang melihat ke arahnya.


"Maaf karna menunggu lama!"


Seharusnya Devan tidak perlu minta maaf karna bukan dia yang ingin bertemu, tetapi lupakanlah tentang itu karna sama sekali tidak penting.


"Duduklah!"


Amora menepuk sofa yang ada di sampingnya membuat Devan langsung duduk di tempat itu dengan diikuti oleh tatapan tajam Justin.


"Apa yang kau lakukan seharian ini?"


Devan menunjuk ke arah dirinya sendiri dan langsung diangguki oleh Amora. "Tidak ada, aku hanya sedang jalan-jalan saja!"


"Bukannya kau pergi ke kantor pengacara?"


Deg, Devan sangat terkejut saat Amora mengetahui apa yang baru saja dia lakukan. "I-itu benar!" Entah kenapa dia merasa seperti pencuri yang ketahuan.


"Kau benar-benar ingin bercerai?"


Sumpah demi apapun Justin benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Amora lakukan, apa benar Nona mudanya itu sudah jatuh cinta pada Devan? Tapi kenapa bisa? Itulah yang ada dipikirannya saat ini.


"Benar, aku akan segera bercerai!"


Amora terdiam mendengar jawaban Devan, entah kenapa dia menjadi lega saat tau kalau laki-laki itu sedang mengurus perceraian.


"Baguslah!"


Devan tercengang mendengar satu kata yang berhasil lolos dari mulut Amora, begitu juga dengan Justin yang merasa kalau Nonanya sudah dalam tahap memprihatinkan.


"Ta-tapi kenapa kau tau semua itu?"


Justin langsung menatap Devan dengan tajam saat baru menyadari kalau laki-laki itu tidak memakai bahasa formal pada Amora, sementara yang ditatap tidak sadar dan malah memperhatikan wanita yang ada di sampingnya.


"Aku kan kekasihmu!"


Lagi-lagi Amora mengatakan tentang status mereka membuat Devan terdiam, wanita itu seolah-olah selalu mengingatkan kalau Devan adalah miliknya.


"Tapi tunggu, menjadi kekasihkan bukan berarti tau semuanya? Memangnya ikatan kekasih itu bisa menjadikan seseorang sebagai cenayang apa? Yang bisa tau apa saja di muka bumi ini?"


Devan menggeleng-gelengkan kepalanya, terserahlah Amora mau tau dari siapa tentang semua itu. Namun, dia sudah bisa menduga kalau semua itu pasti kerjaan Justin.

__ADS_1


"Apa kau tidak mendengarku?"


Devan yang sempat melamun langsung terlonjak kaget. "Ma-maaf, apa kau mengatakan sesuatu?"


"Ya, aku mengajakmu kesuatu tempat!"


Devan langsung menganggukkan kepalanya dan berdiri dari tempat itu, membuat Amora dan Justin melihatnya dengan bingung.


"Ayo, katanya kau mau mengajakku kesuatu tempat!"


Amora tersenyum tipis ke arah Devan.


"Semangat sekali, tapi sayangnya bukan sekarang! Tapi nanti sore!"


"Apa?"


Devan merasa sangat malu sekali, ingin rasanya dia tenggelam kedasar bumi melihat kebod*ohan yang dia lakukan.


****


Sore harinya, Amora, Devan dan juga Justin langsung berangkat ke Kota sebelah dengan mengendarai 2 mobil. 1 mobil untuk mereka, dan 1 mobil lagi untuk anak buah Amora yang ikut andil dalam misi balas dendamnya.


Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih 3 jam saja, karna memang jaraknya tidak terlalu jauh dari kota mereka sendiri.


Setelah sampai di sana, Justin segera memesan kamar hotel untuk Amora dan semua orang yang ikut bersama mereka.


Semua orang menganggukkan kepala saat mendengar perintah Amora, termasuk Devan walaupun dia belum sempat bertanya apa yang akan mereka lakukan.


"Apa Nona mau melakukan sesuatu?"


Amora menganggukkan kepalanya. "Aku ingin berenang, ayo!" Dia menggandeng lengan Devan dan berlalu meninggalkan Justin.


"Cih, aku yang bertanya tapi malah dia pula yang digandeng!"


Justin berdecak kesal dan masuk ke dalam kamarnya sendiri, bukannya dia merasa cemburu atau apa, tapi dia kesal karna posisinya seperti tersisihkan semenjak kehadiran Devan di antara mereka.


Sementara Devan yang digandeng oleh Amora tersenyum senang, ya anggap saja dia sedang menikmati liburan yang sama sekali tidak pernah dia lakukan.


Kebetulan di balkon kamar Amora sudah tersedia kolam yang cukup luas untuk berenang 2 orang, Justin sengaja menyiapkan kamar itu untuknya karna tau kalau dia suka berenang.


"apa kau mau makanan atau minuman?" tawar Devan dan dijawab dengan anggukan kepala Amora.


Devan lalu berjalan ke arah telpon yang ada di kamar itu, dan memesan makanan dan minuman untuk diantar ke kamar Amora.


Setelah selesai memesan, Devan langsung berbalik untuk kembali menemani Amora.


Namun, matanya langsung melotot dengan tubuh tegangan tinggi saat melihat penampilan yang Amora suguhkan. Jakun Devan bahkan naik turun saat melihat tubuh Amora yang terpampang nyata di depan matanya, di mana wanita itu hanya menggunakan bikini berwarna merah dan berjalan masuk ke dalam kolam.

__ADS_1


"Dasar gila! Apa dia tidak sadar kalau ada aku di kamar ini? Atau memang dia sengaja mau menggodaku?"


Devan mencoba untuk menenangkan jantungnya yang ingin melompat keluar dari rongga dadanya, beberapa kali dia menarik napas dan menghembuskannya sampai merasa tenang.


"Kenapa diam di sana?"


Dia terlonjak kaget saat mendengar teriakan Amora, dan matanya semakin membulat sempurna saat melihat wanita itu akan keluar dari dalam kolam.


"Ja-jangan bergerak!"


Amora mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Devan, terlihat lelaki itu sedang berjalan cepat ke arahnya saat ini.


"kenapa? Aku mau naik!"


"Tetap diam di sana!"


Untuk pertama kalinya Amora diperintah oleh seseorang, dan anehnya dia menuruti apa yang Devan perintahkan.


Dengan tergesa-gesa, Devan masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil jubah handuk untuk Amora. Dia yakin tidak bisa lagi menahan diri kalau melihat penampilan wanita itu seperti tadi.


"Pa-pakai ini!"


Devan memberikan jubah handuk itu pada Amora, dan diterima dengan bingung oleh gadis itu.


"untuk apa?"


"Pakai saja kalau kau mau selamat!"


Amora merasa semakin bingung, tetapi dia mengikuti kemauan Devan membuat lelaki itu menghembuskan napas lega.


Setelah memakai jubah handuk, Amora segera keluar dari kolam dan berdiri tepat di depan Devan, tetapi matanya menatap sesuatu yang tampak menonjol dari balik celana laki-laki itu.


"Kenapa itumu berdiri?"


Refleks Devan langsung melihat kearah yang ditunjuk Amora, sontak wajahnya langsung memerah dengan tangan menutupi adik kecilnya yang ternyata berdiri tegak.


"itumu sepertinya minta dikeluarkan!"


"Diam!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2