
Semua orang tampak menahan tawa saat mendengar ucapan Jessy, tetapi tidak untuk Justin yang menatap ibunya dengan tajam.
"Lihat anakmu, Jessy. Dia seperti berkata, apa ibu tidak sadar umur? Hahaha."
Semua orang langsung mengalihkan pandangan ke arah Justin yang sedang membuang muka sebal, bisa-bisanya sang ibu sangat dekat dengan Lucas seperti itu.
"Lihat, dia pasti malu," ucap Lucas kemudian. Sepertinya dia punya mainan baru sekarang, yaitu menganggu Justin.
"Sudahlah, Papa. Apa Papa akan terus mengganggunya?" Samy mengelengkan kepala, suasana ini sungguh tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Kemudian mereka semua meninggalkan tempat itu setelah memanjatkan do'a untuk kedua orang tua Amora, semoga mereka merasa tenang karena sudah tidak ada lagi masalah yang akan terjadi.
Pada saat yang sama, Valdo sedang berada di pengadilan. Sebenarnya dia merasa sangat kesal dengan apa yang Devan lakukan, bisa-bisanya laki-laki itu sama sekali tidak peduli dengan perceraiannya sendiri.
"Cih, aku tidak akan mau lagi jika disuruh menjadi pengacaranya." Dia mengumpat kesal, tetapi untunglah hari ini adalah sidang terakhir dari kasus perceraian antara Devan dan juga Lidya.
"Valdo!"
Valdo yang akan masuk ke dalam ruang sidang menghentikan langkahnya, dia lalu berbalik dan melihat ke arah seseorang.
"Apa, apa Devan tidak datang lagi?" tanya Lidya. Sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan Devan, dan terakhir bertemu saat di apartemen Valdo.
Valdo menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia sudah menyerahkan semuanya padaku. Tapi kau tenang saja, ketidak hadirannya tidak akan menganggu perceraian kalian."
Lidya mencengkram erat kedua tangannya yang saling bertautan, sepertinya memang tidak ada lagi kesempatan untuk kembali pada Devan.
Valdo yang tau kalau Lidya masih mengharapkan Devan tersenyum lebar, dia lalu menepuk bahu wanita itu membuat Lidya tersentak.
"Hubungan lama kalian sudah berakhir, Lidya. Jadi jangan membuat hubungan yang baru juga berakhir."
Lidya mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Apa, apa maksudmu?"
Valdo kembali tersenyum. "Kau tau, Lidya. Dulu Devan sangat mencintaimu, bahkan dia tidak pernah melihat ke arah wanita lain selain kau."
__ADS_1
"A-aku tau. Itu sebabnya aku masih mengharapkannya, mungkin, mungkin kami-"
"Tidak, apa yang kau harapkan itu tidak mungkin," ucap Valdo dengan penuh penekanan membuat Lidya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Hubungan lama kalian sudah berakhir, dan itu tidak akan kembali lagi karna saat ini hatinya sudah menjadi milik wanita lain."
Lidya terdiam. Dia tau benar siapa wanita yang dimaksud oleh Devan, dan dia sungguh sangat menyesal sekali saat ini.
"Seperti dia dulu yang sangat mencintaimu, begitu jugalah perasaannya pada Amora. Jadi jangan lagi menyakiti hatinya dengan perasaan egoismu itu, karna saat ini kalian sudah menciptakan hubungan baru. Yaitu sebuah persahabatan, yang akan rusak jika kau berniat untuk kembali padanya."
Bukannya Valdo ingin menyakiti Lidya dengan berkata seperti itu, hanya saja dia tidak mau kalau pertemanan mereka akan tercerai-berai jika wanita itu memaksakan perasaannya pada Devan.
"Maaf kalau kau tersinggung, tapi itulah yang terjadi. Aku harap-"
"Tidak. Aku tidak tersinggung, Valdo. Aku malah senang karna kau sudah menyadarkan aku yang buta ini," ucap Lidya, "terima kasih, Valdo. Aku sangat beruntung punya teman sepertimu,"
"Ya, aku memang teman yang membawa keberuntungan untuk semua orang," seru Valdo dengan bangga membuat Lidya tergelak.
Setelah itu mereka masuk ke ruang sidang di mana persidangan akan segera dimulai.
"Valdo!"
Devan mengangguk dan langsung duduk di samping Valdo, untung saja sidangnya belum dimulai. "Maaf kalau aku baru bisa datang sekarang."
"Tidak apa-apa." Valdo menepuk bahu Devan, walaupun sebenarnya dia ingin sekali memukul wajah laki-laki itu.
Lidya tersenyum lebar saat bersitatap mata dengan Devan. Sekuat tenaga dia menahan air mata yang akan terjatuh, karena tidak mau membuat perasaan laki-laki itu menjadi tidak nyaman.
Akhirnya proses sidang putusan pun dimulai, di mana hakim langsung membacakan semua hasil dari persidangan yang telah dilaksanakan. Dengan itu semua, kini status Devan dan Lidya sudah resmi bercerai.
Devan merasa sangat lega sekali walaupun ada rasa sedih yang tersisa, biar bagaimana pun dia tidak pernah membayangkan kalau akan menjadi seorang duda perjaka seperti ini.
Setelah proses sidang selesai, Devan memutuskan untuk berbicara 4 mata dengan Lidya.
"Maaf kalau selama ini aku menyakiti hatimu, Lidya. Sungguh aku tidak bermaksud untuk melakukannya," ucap Devan membuat Lidya terkekeh.
__ADS_1
"Kenapa kau minta maaf? Sudah jelas kalau semua ini adalah kesalahanku, dan seharusnya aku lah yang minta maaf padamu." Lidya berusaha untuk mengulas senyum walaupun hatinya terasa pedih.
"Baiklah. Kalau gitu tidak ada yang salah dan tidak ada yang minta maaf, kita berdua sama-sama benar."
"Hahaha, apa-apaan itu." Lidya tergelak membuat air mata yang sejak tadi ditahan keluar tanpa disadari, dan itu membuat Devan tersenyum.
"Hiduplah dengan bahagia, Lidya. Aku yakin kalau suatu saat nanti akan ada seseorang yang berhasil mencuri hatimu. Jika itu terjadi, jangan lagi menyia-nyiakan perasaannya."
Lidya mengangguk. "Itu sudah pasti, Devan. Terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan padaku, aku benar-benar beruntung bisa menjadi istrimu." Suaranya terdengar sangat getir saat menyebut kata istri.
Devan menggenggam kedua tangan Lidya dengan erat. "Anggap aku sebagai temanmu, Lidya. Bukankah dulu kita juga berteman baik?"
"Tentu saja. Kau dan Valdo akan selalu menjadi teman-teman terbaikku, dan aku berharap agar kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan,"
"Aamiin."
Mereka berdua menghabiskan waktu dengan mengobrol untuk mencairkan suasana yang terjadi, karena biar bagaimana pun hubungan mereka pernah memanas dengan dahsyat.
Dari kejauhan Amora melihat Devan dengan taring yang sudah keluar dari mulutnya, matanya juga menatap tajam seolah sedang menembakkan laser ke arah mereka.
"Nikahkan aku secepatnya dengan Devan, Kak!"
Samy yang ternyata ada di tempat itu langsung memalingkan wajah ke arah Amora, bukan hanya dia saja. Bahkan Justin dan juga Lucas ada di tempat itu, sepertinya sekarang mereka akan selalu bersama-sama di manapun berada.
"Kau tenang saja, Amora. Jika kakakmu tidak mau, maka Pamanmu ini yang akan menikahkan kalian."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1