Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 74. Terpaksa Menceritakan.


__ADS_3

Samy langsung berdiri saat mendengar kabar dari sekretarisnya membuat Devan juga ikut berdiri, dia benar-benar sangat terkejut dengan apa yang laki-laki itu katakan.


"kau jangan bercanda!"


"Saya tidak bercanda, Tuan! Saat ini Tuan Lucas sedang berada di markas Nona Amora!"


Tut. Samy langsung mematikan panggilan itu dan segera beranjak dari sana, tetapi Devan mencekal tangannya membuatnya menatap laki-laki itu dengan tajam.


"ada apa, Kak? Apa terjadi sesuatu dengan Amora?"


"Ikut aku, aku tau sedang di mana dia saat ini!"


Mereka berdua lalu meninggalkan tempat itu dan berlalu pergi menuju markas Amora, Samy malajukan mobilnya dengan sangat kencang agar bisa cepat sampai sebelum terjadi sesuatu dengan mereka.


"Apa yang Papa lakukan?"


Devan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Samy saat mendengar ucapan laki-laki itu, dia sedang berpikir keras apakah yang dia dengar tadi salah atau tidak.


Tiba-tiba Samy menghentikan mobil itu membuat Devan bingung. "Devan, kau yang bawa mobilnya! Aku harus menelpon seseorang!"


Devan langsung menganggukkan kepalanya dan bertukar tempat duduk dengan Samy, setelahnya dia langsung tancap gas menuju markas.


Sepanjang jalan Samy terus menghubungi Lucas, tetapi Papanya itu tidak mengangkat panggilan darinya. "Si*al! Kenapa Papa melakukan semua ini? Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku?" Dia terus menguhubungi orang-orang yang sedang bersama Papanya.


Devan yang mendengar ucapan Samy terus bertanya-tanya dengan sosok Papa yang laki-laki itu maksud, bukannya kedua orangtua Samy sudah meninggal? Lalu, laki-laki itu memanggil Papa pada siapa? Dia merasa sangat bingung sekarang.


"halo, Tuan!"


"Kau sedang di mana, Mark? Berikan ponsel itu pada Papaku!" Akhirnya ada salah satu anak buah Lucas yang mengangkat panggilannya.


"maaf, Tuan muda. Saat ini Tuan besar tidak-"


"aku tidak peduli, katakan padanya kalau aku ingin bicara!"


"maaf, Tuan muda! Saya tidak bisa!"


"Brengs*ek! Katakan pada Lucas sekarang juga, atau aku tidak akan mau bertemu dengannya lagi!"

__ADS_1


Deg. Jantung Devan terasa seperti dihantam oleh sebuah balok besar saat mendengar ucapan Samy, tanpa sadar kakinya menginjak rem membuat mobil mereka langsung berhenti.


Ckiiitt!


Ponsel Samy sampai terlempar ke depan saat mobil itu berhenti secara mendadak. "Apa yang kau lakukan?" Sepertinya dia tidak sadar kalau sejak tadi Devan mendengar apa yang dia ucapkan.


"Kau, kau memanggil Lucas dengan sebutan Papa?"


Deg. Tubuh Samy langsung kaku saat mendengar pertanyaan Devan. "I-itu, itu-"


"Kenapa kau memanggilnya Papa?" Suara Devan menggema sangat kuat dalam mobil itu membuat Samy terkesiap.


"Devan, aku bisa menjelaskannya,"


"menjelaskan apa? Menjelaskan kalau kau selama ini mengkhianati Amora?"


"Apa?" Samy merasa tidak terima dengan apa yang Devan katakan. "Kau tidak tau apapun tentangku, Devan! Jadi jangan sembarangan bicara!"


"Benar, aku memang tidak tau! Ku rasa Amora dan Justin juga tidak tau siapa kau sebenarnya!"


"tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke sana! Atau kau akan membantu Lucas untuk melenyapkan Amora!"


"Tutup mulutmu!" Samy mencengkram kerah kemeja Devan dengan erat. "Kau mau tau aku siapa? Baik, aku akan mengatakan semuanya padamu!"


Samy langsung saja menceritakan semuanya pada Devan, tentang siapa dia sesungguhnya. Juga tentang awal mula dari bencana yang sudah menimpa mereka selama ini, termasuk hubungan antara kedua orangtua Amora dengan Lucas.


Pada saat yang sama, Amora dan Lucas saat ini sudah saling berhadapan. Tentu semua anak buah mereka juga sudah saling menodongkan senjata, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merasa ketakutan.


"Kita bertemu lagi, Amora!"


Amora tersenyum sinis mendengar ucapan Lucas. "Benar, selamat datang di markasku!"


"Waah, sambutanmu ini sangat meriah sekali, Amora! Aku sangat tersanjung!"


Amora mengepalkan kedua tangannya dengan erat, emosinya sudah berada di ubun-ubun saat ini.


"Baiklah, Lucas! Aku tidak suka berbasa-basi, jadi langsung saja kita selesaikan urusan kita!"

__ADS_1


Lucas mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau sama persis seperti Ayahmu, Amora! Sangat tidak sabar dan berambisi kuat!"


"Tutup mulutmu! Jangan berani menyebut Ayahku dengan mulut kotormu itu!"


"Hahahah!" Lucas langsung tertawa mendengar ucapan Amora. "Kasihan sekali kau, Simon! Bahkan anakmu sendiri tidak tau seperti apa kau yang sebenarnya!"


"Diam!" Amora yang sudah sangat emosi langsung menodongkan pistolnya ke arah Lucas membuat semua anak buah laki-laki itu merapat.


"Tenanglah, Nona! Jika anda emosi seperti ini, maka kita semua akan mati!"


Amora langsung menurunkan pistolnya saat mendengar ucapan Justin, laki-laki itu benar. Jika dia terbawa emosi, maka akan menjadi bencana untuk dirinya sendiri.


"Kenapa? Bukankah kau mau menembakku?" Lucas menaikkan sebelah alisnya seolah sedang menantang, dia benar-benar merasa seperti berhadapan langsung dengan Simon saat ini.


"gen Alice sangat sedikit yang masuk ketubuhmu, Amora! Sangat sayang sekali!"


"Aku bersyukur karna aku tidak mirip dengan wanita itu, karna kalau sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan membunuh diriku ini!"


Lagi-lagi Lucas tertawa melihat kebod*ohan Amora. "Seharusnya kau membuka matamu lebar-lebar, Amora! Siapa yang jahat, dan siapa yang baik di sini!"


Amora terdiam, dia sudah tidak ingin lagi mendengar ocehan laki-laki itu. "Cukup, Lucas! Hentikan ocehanmu itu, aku sudah tidak tahan lagi mendengarnya!"


"Baiklah, aku akan berhenti! Tapi, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu!" Lucas menatap Amora dengan serius. "Saat hati saling mencintai, maka kehidupan yang susah pun akan terasa menyenangkan. Kau ingat siapa yang mengatakan hal itu?"


Amora terdiam, dia ingat betul bahwa kalimat itu sering diucapkan oleh Mamanya saat sedang menceritakan sebuah kisah cinta.


"itu adalah kalimat yang aku ucapkan untuk Alice, sebelum Ayahmu merebutnya dariku!"


"Apa?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2