
Devan mematung di samping pintu dengan debaran jantung yang terus berpacu cepat, jujur saja dia sangat terkejut mendengar semua ucapan mereka, walaupun sebelumnya dia sudah tau kalau Amora memang menyukainya.
"Aku hanya lelaki biasa, Amora! Kenapa kau jatuh hati padaku? Aku takut jika tidak bisa memberi cinta untukmu, apalagi melindungimu!"
Devan memejamkan kedua matanya sejenak, mencoba untuk bertanya pada hatinya sendiri apakah ada nama Amora di sana.
Setelah cukup tenang, Amora melepaskan pelukannya dari tubuh Justin. Tiba-tiba dia teringat tentang Samy, walaupun hubungan mereka sangat buruk. Akan tetapi, rasa sayang tetap tersimpan erat dihatinya.
"Di mana Samy?"
Justin kembali tersenyum, walaupun Amora belum memaafkan Samy. Namun, saat mereka sangat dekat seperti ini, pasti Amora selalu mengingat Kakaknya.
"Tuan Samy sedang perjalanan bisnis, Nona! Dan akan kembali 2 sampai 3 hari!"
Amora menganggukkan kepalanya, kemudian dia beranjak dari tempat itu dan hendak ke dapur untuk menikmati sarapan yang sudah sangat terlambat.
Melihat Amora dan Justin keluar, Devan pura-pura berjalan ke arah mereka dan berhenti saat berpapasan dengan wanita itu.
"Kau baru bangun?"
Devan menganggukkan kepalanya. "Maaf kalau aku kesiangan!"
Amora menganggukkan kepalanya, dia lalu mengajak kedua lelaki itu untuk sarapan bersama.
Selesai sarapan, Devan langsung pamit untuk pulang ke rumahnya. Namun, sebelum pulang dia harus singgah ke kantor Valdo dulu sebelum laki-laki itu mengamuk.
Tok, tok. "Apa aku boleh masuk?" Devan menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan Valdo, dan langsung mendapat lemparan pulpen dari laki-laki itu.
"Pergi kau!"
Devan tergelak dan langsung membuka pinti ruangan itu lebar-lebar, dia melenggang masuk dengan santai tanpa memperdulikan tatapan tajam yang Valdo berikan padanya.
"hay Valdo, bagaimana kabarmu?"
"Cih!"
Valdo mencebikkan bibirnya sembari bangun dari kursi panas, dia lalu berjalan ke arah sofa dan duduk tepat di hadapan Devan.
"kau ke mana saja? Sejak semalam aku tidak bisa menghubungimu!" sarkas Valdo, dia sangat geram melihat tinggah temannya itu yang sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Jangan marah Valdo, nanti kau cepat tua!"
__ADS_1
Valdo memutar bola matanya malas, sementara Devan menyandarkan tubuhnya dengan santai sesantai dia bernapas.
"bagaimana? Apa dokumenku sudah masuk pengadilan?" tanya Devan.
Valdo mengganggukkan kepalanya. "Aku sudah mengurusnya, dan berkasmu sedang diperiksa oleh mereka. Tapi Dev, semalam aku tidak sengaja melihat Lidya di pinggir jalan!"
"benarkah?"
"Ya, sedang bersama dengan selingkuhannya itu. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang cukup aneh!"
Valdo mencoba untuk mengingat-ingat apa yang dia lihat semalam, dan matanya memang tidak pernah salah untuk mengenali seseorang.
"Maksudmu?"
Valdo langsung saja menceritakan kalau dia tidak sengaja melihat Lidya sedang berjalan dengan Melano, tetapi bukan hanya ada mereka berdua saja. Melainkan ada seorang wanita paruh baya juga di sana, dan penampilan Lidya sangatlah berantakan.
Wanita itu terlihat pucat dengan mata sembab seperti baru saja menangis, tubuhnya juga tampak lebih kurus dari terakhir kali Valdo melihatnya.
"Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi sepertinya Lidya sedang terkena masalah!"
Devan terdiam mendengar semua cerita Valdo, otaknya mulai berpikir sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Lidya. Perasaannya juga dihinggapi rasa khawatir, hingga dia mengambil ponselnya untuk menghubungi wanita itu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak-"
"aku harus pergi, Val!"
"Baiklah, hati-hati!"
Devan lalu bergegas pergi dari sana untuk melihat bagaimana keadaan Lidya, dia juga menelpon kedua mertuanya untuk menanyakan kabar wanita itu.
Setelah menelpon kedua mertuanya, mereka juga tidak tau bagaimana kabar Lidya karna wanita itu tidak pernah pulang. Rasa khawatir mulai menyelimuti hati Devan, dia juga tidak tau harus mencari wanita itu ke mana saat ini.
Namun, tiba-tiba Devan teringat dengan Amora. Wanita itu pasti tau di mana Lidya saat ini, karna sebelumnya Amora lah yang memberitahu keberadaan Lidya.
Dengan cepat Devan menepikan mobilnya dan bergegas untuk menelpon Amora.
"halo?"
"Halo, Amora! Apa kau bisa membantuku untuk menemukan Lidya?" Devan tidak bisa membuang waktu lagi, dia langsung saja mengatakan apa yang dia inginkan.
Amora yang ada disebrang telpon terdiam, dia mencoba untuk mencerna permintaan dari Devan.
__ADS_1
"Kenapa aku harus membantumu menemukan wanita itu?" Tentu saja Amora tidak mau berurusan dengan saingan cintanya.
"Amora, dia sedang berada dalam bahaya saat ini, dan aku tidak bisa menghubunginya. Aku mohon, tolong bantu aku!"
Devan menghiba, walau bagaimanapun, Lidya masih tetap menjadi istrinya sekaligus tanggung jawabnya.
"Dengar, aku tidak ada urusan dengan wanita itu!" Amora menolak untuk membantu Devan.
Devan yang mendengarnya tentu merasa kaget, dia tidak menyangka kalau Amora akan sekejam itu pada orang lain.
"Aku mohon, Amora! Tolong bantu aku, apa kau tidak punya sedikit saja hati nurani?"
Amora yang ada di sebrang telpon terdiam, sebenarnya hatinya merasa sesak saat mendengar kekhawatiran Devan untuk wanita lain.
"Devan, aku-"
"Aku janji akan melakukan apapun untukmu, Amora! Aku akan menyukaimu seperti mana kau suka padaku, aku juga akan mencintaimu dan melakukan segalanya! Jadi, tolong bantu aku!"
Amora mengepalkan tangannya dengan erat, dada yang semula sesak kini jadi panas membara mendengar semua ucapan laki-laki itu.
"Kak Justin akan mengirimnya padamu!"
Tut, panggilan itu langsung terputus saat Amora bersedia membantu Devan. Tentu saja laki-laki itu merasa sangat senang, dan menunggu kabar dari Justin.
"Ada apa, Nona?"
Justin yang sejak tadi berdiri di samping Amora terus memperhatikan raut wajah wanita itu yang tampak berubah, padahal semenit yang lalu Amora terlihat sangat bahagia dan ceria.
"cari di mana Lidya saat ini, dan segera kirim alamatnya pada Devan!"
"Baik, Nona!
Justin memilih untuk tidak bertanya dan langsung menjalankan perintah Amora, dia tau kalau saat ini Amora sedang diselimuti amarah.
"Aku memang menyukaimu, Devan! Bahkan mungkin aku juga mencintaimu, tapi bukan berarti perasaanku ini bisa kau jadikan sebagai transaksi!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.