
Asisten pribadi Samy langsung menghubungi sekretaris Lucas untuk membuat janji, tetapi sudah beberapa kali dihubungi nomor mereka tetap tidak aktif.
"Tidak aktif, Tuan!"
Samy terdiam dengan napas memburu, dia lalu melihat asistennya dengan tajam. "Pesan tiket untuk keberangkatanku besok, aku akan langsung ke rumah Lucas!"
Lelaki itu menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera pergi dari kamar itu setelah melihat gerakan tangan Samy yang memberi kode untuk keluar.
Setelah kepergian sang asisten, Samy langsung mendudukkan tubuhnya di atas lantai. Beberapa kali dia mengusap wajahnya dengan kasar, seolah-olah ada sebuah beban berat yang bersarang dibahunya saat ini.
"Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku?"
Dia menghela napas frustasi, merasa tidak kuat lagi untuk menahan derita seorang diri. Seharusnya dia mati saja sekarang, mengikuti jejak kedua orangtuanya, sehingga keadaan yang sangat rumit ini tidak menghantam hidupnya.
Apalagi saat memikirkan Amora, dia tidak tau apa yang akan wanita itu lakukan saat mengetahui semua kebenaran yang sejak dulu dia pendam sendiri. Amora saja belum memaafkannya semua kesalahannya, dia yakin kalau wanita itu pasti akan langsung menghancurkan seisi dunia jika mengetahui semua rahasia keluarga mereka.
"Apa aku jujur saja padanya?"
Rasa sesak membuat Samy ingin segera membuka mulut, dia tau kalau selama ini Amora berusaha keras untuk membalas dendam pada Lucas. Akan tetapi, apa yang terjadi saat dia mengatakan semuanya? Apakah Amora akan mengerti? Atau malah akan membinasakannya juga?
Entahlah, Samy merasa pusing. Dia lalu bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu balkon. Samy menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, dia harus berendam di air dingin agar kepalanya bisa berpikir jernih.
Pada saat yang sama, Amora dan yang lainnya sudah dalam perjalanan pulang. Dia memutuskan untuk langsung kembali karna tidak ingin bertemu lagi dengan Lucas, dan harus menyusun rencana untuk menyerang laki-laki itu.
"Istirahatlah, Nona!"
Lamunan Amora terhenti saat mendengar suara Justin, dia melihat sekilas ke arah laki-laki itu lalu menghela napas berat.
"Aku tidak lelah!"
Mulutnya berkata tidak lelah, tetapi saat ini dia menyandarkan kepalanya ke bahu Devan membuat semua orang menahan senyum.
"Baiklah Nona yang tidak lelah, selamat istirahat!"
Amora menggeram tertahan sambil menatap Justin dengan tajam, setelahnya kedua mata itu terpejam untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Devan yang ada di samping Amora tersenyum melihat gadis itu, dia semakin menarik tubuh Amora agar menempel ditubuhnya sendiri.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya mereka semua tiba di rumah Amora, kecuali para anak buah yang langsung kembali ke markas mereka.
__ADS_1
"Jangan dibangunkan!"
Devan yang sudah akan membangunkan Amora terdiam kaku, dia melirik ke arah Justin seolah-olah bertanya kenapa tidak boleh membangunkan gadis itu.
"Nona sangat lelah, bawa saja ke dalam!"
Justin segera keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Devan, tetapi laki-laki itu masih diam di tempat dengan bingung.
"kau tunggu apa lagi?" tanya Justin dengan tajam.
"Apa nanti Nona tidak bangun? Aku takut kalau dia kaget saat aku menggendongnya!"
Sejujurnya Devan takut kalau sampai Amora mengamuk dan menghajarnya, dia sendiri tau kehebatan gadis itu.
"Ck!" Justin berdecak kesal, tenaganya terkuras habis cuma untuk menanggapi ucapan laki-laki itu. "Kalau kau tidak mau, cepat menyingkir!"
Devan langsung menggelengkan kepalanya saat Justin ingin mengambil alih Amora, dengan cepat dia mengangkat gadis itu dan membawanya keluar dari mobil.
Mereka lalu berjalan ke arah rumah, tetapi belum sempat Justin membuka pintu, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dan keluarlah Samy dari sana.
"Kalian baru pulang?"
Pandangan Samy lalu jatuh ke arah Amora yang ada dalam pelukan Devan. "Apa terjadi sesuatu dengan Amora?" Dia sudah panik melihat Amora memejamkan kedua mata.
"Tidak ada, Tuan! Nona hanya terlalu lelah!"
Samy menghembuskan napas lega, kemudian dia menyuruh mereka untuk masuk dan membawa Amora ke dalam kamar.
Devan segera membawa Amora ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang, dan ajaibnya wanita itu tidak bangun sedikitpun.
"Aku baru tau kalau kau tidur seperti orang mati begini!"
Devan tertawa geli, dia melepaskan sepatu yang masih terpasang dikedua kaki Amora dan meletakkannya di bawah ranjang.
Dia juga mengeluarkan sebuah pistol yang ada disaku Amora, tidak lupa dia memeriksa yang lainnya juga agar tidak menganggu tidur wanita itu.
Sebelum beranjak keluar, Devan kembali melihat wajah tenang Amora yang sedang terpejam. Tanpa sadar tangannya terulur mengusap pipi, dagu, bahkan kini usapan jarinya sampai ke bibir wanita itu yang sangat alami dengan warna pink.
Usapan tangannya itu ternyata mengusik tidur Amora, padahal waktu digendong tadi wanita itu sama sekali tidak bergerak seperti orang mati.
__ADS_1
Tidak mau membuat Amora terbangun, Devan segera menarik tangannya dan hendak beranjak dari tempat itu. Namun, tiba-tiba Amora menahan tangannya membuat pandangan Devan kembali beralih pada wanita itu.
"Tetaplah di sini!"
Suara serak khas bangun tidur membuat tubuh Devan terasa bergetar, entah kenapa suara Amora itu terasa merangsang segala hasrat yang ada dalam dirinya.
Devan tidak jadi beranjak pergi, dia lalu duduk dipinggir ranjang dengan tangan yang masih dipegang erat oleh Amora.
"Lakukan lagi!"
Kedua mata Amora terbuka membuat Devan sedikit terkejut, apalagi mendengar ucapan wanita itu.
"la-lakukan apa?" tanyanya dengan gugup.
"Elus wajahku!"
Seketika wajah Devan memerah karna menahan malu, berarti sejak tadi wanita itu sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Devan!"
Devan terpaku saat mendengar panggilan Amora, untuk pertama kalinya wanita itu memanggil namanya dengan lembut seperti itu.
"Elus wajahku!"
Glek, dengan sangat hati-hati Devan kembali mengusap wajah Amora dengan jantung berdebar keras. Jujur saja saat ini dia sedang menahan gejolak birahi yang tiba-tiba naik ke permukaan.
"Kau tidak ingin menciumku?"
Tubuh Devan langsung tegang saat mendengar ucapan Amora, apalagi saat ini mata mereka saling bertatapan.
"Jangan terus menggodaku, Amora! Karna bisa saja aku jadi lepas kendali!" Devan mencondongkan tubuhnya sampai wajahnya tepat di depan wajah Amora.
"Silahkan saja!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.