Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab.26. Benar-benar Meresahkan.


__ADS_3

Beberapa jam telah berlalu, tetapi kedua mata Amora tidak juga bisa terpejam. Beberapa kali dia melirik ke arah Devan, tetapi lelaki itu terlihat sangat nyenyak membuatnya tersenyum tipis.


Amora kemudian melihat ke arah jendela, hamparan awan putih terlihat sangat menyejukkan mata. Hingga tanpa sadar kedua mata indah itu mulai memasuki alam mimpi.


Beberapa saat kemudian, Devan mulai mengerjapkan kedua matanya sembari merenggangkan pinggang. Dia melihat ke arah samping, ternyata Amora masih terlelap.


Tiba-tiba, ingatan tentang kejadian tadi kembali melintas membuat wajahnya memerah. Dia tersenyum simpul mengingat apa yang Amora lakukan, wanita itu benar-benar berhasil membuatnya kacau balau.


Tidak berselang lama, pesawat yang mereka naiki sudah sampai di bandara. Devan segera membangunkan Amora walaupun perasaannya masih tidak menentu.


"Nona, kita sudah sampai!"


Amora mengerjapkan kedua matanya dan melihat kesekeliling tempat, terlihat beberapa orang mulai turun dari pesawat sementara yang lain masih bersiap-siap.


Devan segera membawa tas sandang miliknya dan berlalu keluar dari kursi, dia membiarkan Amora berjalan lebih dulu dan dia jalan di belakangnya.


Cuaca yang sedikit mendung membuat hawa dingin menusuk kulit, belum lagi hembusan angin yang cukup kencang membuat orang-orang kedinginan.


Devan melirik ke arah Amora yang tidak bergeming, saat ini mereka sedang menunggu taksi untuk membawa mereka ke hotel.


Amora yang hanya memakai kaos berlengan pendek merasa sedikit dingin, tetapi tiba-tiba ada sebuah jaket yang melingkar ditubuhnya.


"Maaf Nona, anginnya bertiup sangat kencang! Saya takut Nona kedinginan!"


Devan memakaikan jaketnya ketubuh Amora, sementara wanita itu hanya diam sambil menatapnya tajam.


"Taksi!"


Devan melambaikam tangannya pada taksi yang sedang melintas, kemudian dia membuka pintu taksi itu untuk mempersilahkan Amora masuk.


"Terima kasih!"


Amora tersenyum dan berlalu masuk ke dalam mobil, sementara Devan tercengang melihat senyuman dan ucapan wanita itu.


"Apa Tuan tidak ingin masuk?"


Devan tersentak mendengar ucapan supir, dia lalu segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping supir itu.


15 menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Devan kembali membukakan pintu untuk Amora, mereka lalu berjalan masuk ke dalam hotel tersebut.

__ADS_1


"selamat malam, Tuan, Nona!" sapa resepsionist dengan ramah.


"selamat malam juga, Nona! Sebelumnya Tuan Justin sudah memesan kamar untuk kami, bisakah anda memeriksanya?"


"Tentu saja, Tuan!"


Resepsionist itu lalu memeriksa pesanan kamar atas nama Justin. "Pesanan kamar atas nama Justin Gilbert?"


Devan mengangguk, kemudian resepsionst itu memberikan dua kunci kamar untuk mereka. Dia juga memerintahkan salah satu karyawan untuk mengantar mereka ke kamar masing-masing.


"ini kamar Tuan dan Nona, selamat beristirahat!" ucap karyawan itu.


Devan lalu memberi uang tips pada lelaki itu, yang tentu saja disambut dengan ucapan terima kasih.


Dia lalu masuk ke dalam kamar Amora dan meletakkan tas wanita itu dia atas ranjang, Devan lalu menyusun pakaian Amora dan memasukkannya ke dalam lemari.


"Apa Nona butuh sesuatu yang lain?"


Amora menggelengkan kepala. "Tidak!"


Devan lalu pamit untuk pergi ke kamarnya sendiri, dia merasa senang karna kamarnya tepat berada di samping kamar wanita itu.


Setelah berada di kamar masing-masing, kedua manusia itu langsung terlelap tanpa melakukan apapun lagi. Perjalanan yang sangat panjang benar-benar membuat seluruh tubuh remuk redam, hingga mereka langsung terkapar di atas ranjang.


Keesokan harinya, Devan terbangun tepat pukul 8 pagi. Dia langsung lompat dari atas ranjang karna bangun kesiangan, padahal Amora sudah mengatakan kalau pagi ini mereka akan ke sebuah tempat.


Dengan cepat Devan masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelahnya dia langsung berpakaian dan keluar dari kamar.


Tok, tok, tok! "Nona, apa anda sudah bangun?"


Hening, tidak ada suara sahutan dari dalam. Devan berjalan mondar mandir di depan kamar itu, dia bingung apakah Amora belum bangun atau malah sudah pergi dari hotel itu.


Dia lalu mencoba untuk menghubungi wanita itu, tetapi ponsel Amora malah tidak aktif.


"sebenarnya Amora ke mana sih? Dia belum bangun atau sudah pergi dari sini?"


"Aku di sini!"


Devan memutar tubuhnya dan melihat ke belakang, dia menelan salivenya saat melihat tubuh Amora yang basah dengan keringat.

__ADS_1


Saat ini wanita itu memakai sport bra berwarna hitam di atas pusat, juga menggunakan leging hitam yang panjangnya sampai lutut membuat tubuh Amora tercetak dengan sempurna.


"anda, anda dari mana Nona?" tanya Devan kemudian.


"Cuma jalan-jalan pagi saja!"


Amora membuka pintu kamarnya dan menyuruh Devan untuk masuk, dia lalu duduk di atas ranjang sembari membuka sepatunya.


"bukannya Nona bilang ingin pergi ke suatu tempat?"


"Aku sudah ke sana!"


Devan terdiam, bisa-bisanya dai bangun kesiangan sehingga membuat Nonanya pergi sendirian, dan untungnya tidak terjadi apa-apa.


"lalu, Nona pergi ke mana?" tanyanya kemudian.


"Aku cuma keliling hotel ini saja!"


Ya, Amora tidak berbohong. Dia hanya keliling hotel untuk melihat seseorang, dan beruntung dia bisa bertemu dengan orang yang selama ini dia incar.


"Baiklah, kalau gitu kita sarapan dulu, Nona!"


Amora menganggukkan kepalanya, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi dengan tetap dilihat oleh Devan.


Beberapa saat kemudian, Amora keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja membuat Devan terlonjak kaget. Dengan cepat, lelaki itu mengalihkan pandangan walaupun ingin melihat lebih lama.


"Kenapa? Aku memakai handuk, bukan telanjang!"


Amora melihat Devan dengan bingung, untuk apa laki-laki itu memalingkan wajah padahal dia masih memakai handuk, pikirnya dengan heran.


"Wa-walaupun pakai handuk, tapi tetap saja Nona!"


Devan terus memalingkan wajahnya hingga tidak sadar kalau Amora sudah berdiri di sampingnya, wanita itu lalu menepuk bahunya membuat Davin mendongakkan kepala.


Deg, jantung Devan serasa ingin melompat keluar saat melihat Amora berdiri di hadapannya.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2