Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 40. Dalang Dibalik Penyerangan.


__ADS_3

Valdo tergelak melihat kekesalan diwajah temannya itu, kemudian dia segera mengajak Devan untuk duduk disofa yang ada di ruangannya.


Dia lalu menyuruh OB untuk membawakan makanan dan minuman untuk mereka melalui sambungan telpon, setelahnya dia kembali bergabung dengan Devan.


"jadi, apa yang bisa hamba bantu wahai Tuan muda?"


"Sh*it! Aku sedang tidak mood untuk bercanda, Val!"


Devan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, jiwa dan raganya benar-benar lelah menjalani semua yang terjadi dalam hidupnya.


"Hahaha, memangnya kenapa? Apa kau sedang mengidap penyakit mematikan, sehingga kau frustasi seperti ini?"


Devan memutar bola matanya malas, memang kalau bersama dengan Valdo. Laki-laki itu sama sekali tidak bisa serius, tetapi yang anehnya. Bisa-bisanya laki-laki seperti Valdo menjadi pengacara top no. 1 yang ada di kota itu saat ini.


"Ck, mungkin aku akan jauh lebih senang jika mengidap penyakit mematikan daripada seperti ini!"


Valdo mengernyitkan keningnya, sepertinya Devan memang sedang dilanda musibah sehingga membuat dunianya terguncang hebat saat ini.


"Baiklah, kalau gitu ceritakan saja padaku. Mungkin aku bisa bantu do'a!"


Devan melirik ke arah Valdo yang sedang menaik turunkan alisnya, ingin sekali dia menonjok wajah tampan laki-laki itu walaupun tidak setampan dirinya sendiri.


"ditanya kok malah diam, aneh!" cibir Valdo.


Tidak berselang lama, masuklah seorang OB dengan membawa makanan dan minuman untuk mereka.


"Sebenarnya apa masalahmu? Cepat katakan sebelum ku usir kau!"


Valdo mulai tidak sabar, dia yang suka bercanda tetapi tipis kesabaran menatap tajam Devan yang juga sedang melihat ke arahnya.


"aku, aku ingin bercerai, Val!"


"Wah, hebat sekali! Baru nikah sudah cerai!" Valdo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi, apa kau bisa hidup setelah bercerai?"


"Hah, apa maksudmu?"


Devan benar-benar tidak mengerti, memangnya setelah cerai dia harus kehilangan nyawanya apa? Itulah yang ada dipikirannya saat ini.

__ADS_1


"Bukannya kau pernah bilang, kalau kau tidak akan bisa hidup tanpa Lidya? Nah, kalau kalian cerai, sudah pasti kalian akan menjadi orang asing yang tidak akan saling bersama lagi!"


Devan menggertakkan giginya menahan kesal dengan apa yang keluar dari mulut Valdo, sementara laki-laki itu sedang menahan tawa melihat wajah Devan yang memerah.


"aku serius, Valdo! Apa kau mau ku hajar?"


"Hahaha, oke-oke! Abisnya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba kau datang ke sini dan mengatakan ingin cerai. Jujur saja aku sangat terkejut saat mendengarnya!"


Devan hanya bisa menghela napas berat, kemudian dia langsung saja menceritakan semua yang sudah terjadi dalam rumah tangganya. Bukan bermaksud untuk mengumbar aibnya sendiri, tetapi dia ingin menjadikan Valdo sebagai pengacaranya.


"si*al sekali nasibmu! Tapi, kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanya Valdo setelah Devan mengatakan segalanya.


"kau tau sendiri aku sangat mencintainya, Val! Bahkan sampai saat ini aku masih saja memikirkannya, walaupun kini ada seorang wanita yang mulai menyusup masuk ke hatiku!"


"Si*alan kau! Baru juga patah hati, langsung ada saja penggantinya! Jangan sampai kau nanti menikah lagi sebelum aku dan Niki menikah ya, awas kau!"


Devan tergelak mendengar ancaman Valdo, sedikitpun dia belum memikirkan bagaiamana hubungannya dengan Amora. Apalagi sampai ke jenjang pernikahan, ya walaupun dia mengakui kalau wanita itu sudah benar-benar mengusik hatinya.


"Lupakan tentang itu, yang jelas aku mau kau menjadi pengacara untuk perceraianku!"


"oke, kau mau yang model santai, atau ngebut sat set sat set?"


"hah? Maksudmu?" tanya Devan dengan tidak mengerti.


"Maksudku, kau mau proses perceraianmu berjalan pelan, atau cepat?"


Devan menghela napas kasar, bisanya-bisanya Valdo mempermainkan proses perceraian seperti itu.


"Terserah kau saja, tapi aku tidak ingin ada orang lain yang tau penyebab dari perceraian ini. Aku tidak mau merusak nama baik Lidya, apalagi dikalangan teman-temannya!"


Valdo menganggukkan kepalanya, semua itu bisa diatur. Tentu saja dia punya banyak koneksi kuat dalam hal seperti itu, tapi kemampuannya sebagai pengacara memang tidak bisa lagi untuk diragukan.


Setelah selesai dengan urusannya, Devan memutuskan untuk kembali ke kafe. Dia sudah merasa lebih tenang sekarang, seolah-olah beban berat sudah terangkat dari pundaknya.


Dalam perjalanan, tiba-tiba ponselnya berdering menampakkan Amora sedang menelpon. Dia segera menepikan mobilnya untuk mengangkat panggilan itu.


"halo!"

__ADS_1


"kau di mana?"


"aku sedang di jalan, ada apa?" tanya Devan, tidak biasanya Amora menelpon dijam segini.


"aku di kafe!"


"Hah? Ka-kalau gitu tunggu sebentar, aku akan segera ke sana!"


Tut, panggilan itu langsung terputus saat Devan mengatakan akan langsung menuju kafe. Dia lalu kembali melajukan mobilnya dengan kencang agar bisa lebih cepat sampai di tempat tujuan.


Pada saat yang sama, Amora sedang duduk di ruangan Devan. Awalnya dia ingin langsung pulang setelah berkunjung ke rumah orangtua Justin, tetapi tiba-tiba dia teringat Devan dan memutuskan untuk menemui laki-laki itu.


"Nona, saya sudah mengetahui siapa dalang dibalik penyerangan kemaren!"


Di mana ada Amora, jelas ada Justin juga di tempat itu. Terlihat laki-laki itu sedang menyerahkan ponselnya pada sang Nona.


"Dia ... Roberto?"


Amora mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Justin seolah-olah sedang bertanya.


"Benar, Nona! Dia salah satu pemilik klub malam yang ada di Kota sebelah, sepertinya dia tau kalau Nona yang sedang membuka cabang klub malam di sana!"


Ya, Amora sedang mendirikan klub malam yang ada di Kota sebelah. Dia ingin melebarkan sayap dalam bisnis tersebut, apalagi dia memiliki pabrik khusus pembuatan anggur dan minuman beralkohol lainnya yang bekerja sama dengan brand terkenal dunia.


"Bagus, bagus sekali! Aku tidak berniat untuk mengusiknya, tetapi malah dia duluan yang datang untuk mengusikku!"


Amora menyeringai, terlihat jelas rencana kejam yang akan dia lakukan untuk membalas perbuatan mereka.


"Kau tunggu saja, Roberto! Aku akan membuatmu tidak bisa melihat matahari lagi besok!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2