
Amora mendorong tubuh Devan membuat laki-laki itu hampir terjungkal ke belakang. "Apa kau mau membunuhku?"
Devan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku memelukmu karna khawatir, bukannya mau membunuhmu!"
"Tapi kau membuatku tidak bisa bernapas!"
Devan terdiam, beberapa saat kemudian dia tersenyum karna sadar kalau mungkin saja pelukannya terlalu kuat.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu! Tapi, siapa yang menyerang kita tadi?"
Ya, Amora baru ingat kalau mereka baru saja di tembak oleh seseorang. Dia lalu mengajak Devan untuk bersembunyi di balik pohon besar yang ada di samping mereka.
"Apa aku perlu menghubungi Tuan Justin?"
Amora menggelengkan kepalanya. "Tidak, kita saja sudah cukup!" Dia lalu mengintip dari balik pohon itu untuk melihat dari arah mana tembakan itu berasal.
Devan lalu mengikuti apa yang Amora lakukan, untuk pertama kalinya dia berada dalam keadaan seperti ini. Persis seperti film-film action yang biasa dia tonton.
Amora segera menarik kepala Devan agar lebih menunduk, dan seketika ....
Dor!
Sebuah tembakan melesat cepat ke pohon yang melindungi tubuh mereka, Devan segera memegangi kepalanya yang hampir saja terbelah dua.
Amora sudah melihat pergerakan musuhnya, kemudian dia segera berguling ke semak belukar untuk menyerang mereka.
Dor
Dor
Dor
3 peluru berhasil melesat ke arah lawan, dan 2 di antaranya berhasil mengenai 2 orang musuh.
Devan yang melihat semua itu tentu tidak tinggal diam, dia segera memanjat pohon yang ada di depannya dan mengarahkan senjatanya ke musuh yang sedang menyelinap mendekati Amora.
Dor!
Musuh itu berhasil tumbang, setelahnya dia meloncat ke samping sambil kembali menembak ke arah mereka yang tentu saja membalas serangannya itu.
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan terus menggema di pemakaman, untung saja tempat itu jauh dari perumahan warga. Sehingga tidak banyak yang mendengar, dan dikhawatirkan akan jatuh korban yang tidak bersalah.
"Aarggh!"
Devan mengerrang saat tangannya terkena kayu, membuat Amora langsung panik dan menembaki semua musuh dengan membabi-buta.
Bukan itu saja, Amora segera mengambil pisau di kanan dan kiri kakinya. Setelah itu dia melempar pisau itu tepat mengenai kepala musuh-musuhnya.
__ADS_1
"Bajing*an!"
Terdengar teriakan dari salah satu musuh Amora, dan si*alnya pelurunya kini telah habis.
Dengan cepat Amora mengambil pistol devan dan mengarahkannya ke musuh.
Dor
Dor
Kini semua peluru sudah habis, dan senjata lainnya tertinggal di dalam mobil yang memang hanya sekedar untuk jaga-jaga saja.
"Keluar kau, j*al*ang!"
Lelaki yang menyerang Amora segera mendekati mereka, pelurunya juga sudah habis padahal dia hanya menyerang 2 orang saja.
Amora mencoba untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang, dan dia melihat sebuah kayu yang ujungnya cukup runcing.
Set!
Amora melempar kayu itu dan nyaris mengenai musuhnya, kemudian laki-laki itu langsung berlari dan menendang bahunya yang akan kembali menyerang.
Bruk!
Amora terjungkal ke depan membuat Devan membulatkan matanya, dia segera berdiri di depan Amora walaupun tangannya sudah berdarah-darah.
"Siapa kau? Aku tidak ada urusan denganmu, jadi minggir!" teriak laki-laki itu, tidak berselang lama datanglah 2 orang anak buahnya.
"beraninya sama perempuan! Apa kau itu berbuah dan tidak berbatang?"
Lelaki itu tampak murka mendengar hinaan dari Devan, sementara Devan sendiri tersenyum puas melihat wajah musuhnya yang merah padam.
"Benar, aku merasa kalau kau itu berbuah, makanya cuma berani sama perempuan! Lihat aku, aku ini berbatang dan sangat kuat!"
Devan berdiri dengan melebarkan kedua kakinya seakan-akan memamerkan asetnya yang berharga, membuat darah laki-laki itu semakin mendidih.
"Bajing*an! Ku bunuh kau!"
Laki-laki itu langsung menerjang Devan yang tentu saja ditahan olehnya, baku hantam pun terjadi di antara mereka.
Amora juga tidak mau kalah, dia segera menyerang dua orang lelaki yang menjadi penonton.
"Hiyak!"
Bruk
Krek
Buak
"Hegh!"
Salah satu musuhnya sudah terkapar saat Amora melayangkan kakinya tepat ke dada, kemudian dia menundukkan tubuhnya dan melayangkan pukulan ke wajah lelaki yang satunya lagi.
__ADS_1
"Aaargh!"
Krek
Devan juga tidak mau kalah, dia memelintir tangan laki-laki itu sampai membuatnya berteriak. Kemudian dia mengangkat kakinya, dan menendang dada laki-laki itu sampai terjungkal ke belakang.
Kini semua musuh sudah terkapar di atas tanah dengan memar disekujur tubuh. "Katakan, siapa kalian?" Amora meletakkan kakinya tepat di kepala laki-laki itu.
"a-ampuni saya, Nona!"
"Aku bilang katakan siapa kalian?"
Dia semakin menekan kakinya membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan, sementara Devan segera menelpon Justin untuk datang ke tempat tersebut.
"sa-saya tidak tau, Nona! Saya hanya menerima perintah dari telpon, dan-"
"Serahkan ponsel itu!"
Laki-laki itu segera mengambil ponsel yang ada di sakunya dan menyerahkan pada Amora.
Krek!
Setelah Amora mendapat ponsel itu, dia segera berjongkok dan memelintir kepala laki-laki itu sampai tewas.
Devan tercengang melihat apa yang Amora lakukan, dia berpikir mungkin saja gadis itu akan mengampuni laki-laki yang baru saja dibunuh.
Sementara itu, Justin yang mendapat kabar dari Devan langsung berangkat ke tempat mereka saat ini. Dia melajukan mobilnya sangat kencang, hingga beberapa kali hampir bertabrakan dengan kendaraan lain.
"Brengs*ek! Awas saja jika Nona terluka, maka aku akan membinasakan kalian semua!"
Justin mencengram kuat setir mobilnya dan semakin menambah kecepatannya, untung saja lokasi Amora dan Devan tidak terlalu jauh.
Sekitar 15 menit, Justin sudah tiba di tempat tujuan. Dia segera berlari untuk mencari keberadaan Nonanya, dan terlihat sudah banyak orang yang terkapar di tempat itu.
"Nona!"
Amora dan Devan yang sedang duduk di atas batang kayu melihat ke arah Justin, terlihat laki-laki itu sedang berjalan ke arah mereka.
"Apa Nona baik-baik saja?"
Amora menganggukkan kepalanya. "Aku baik, tapi dia terluka!"
Justin beralih melihat ke arah Devan sekilas, setelah itu kembali melihat pada Nona mudanya.
"Saya sudah menyuruh Roki untuk membereskan tempat ini, Nona!"
Amora menganggukkan kepalanya, sementara Devan berdecih melihat Justin yang acuh tak acuh dengannya.
"Cih, dia memang hanya peduli pada Amora saja!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.