Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 68. Klaim Kepemilikan.


__ADS_3

Amora dan Lidya masih saling pandang dengan emosi yang kian memuncak, sementara Justin hanya menjadi penonton bayaran saja.


Momen seperti ini sangat langka, biasanya Amora akan bertarung melawan para pria. Akan tetapi, kali ini dia akan melawan sesama wanita Membuat Justin sangat penasaran.


"Istriku!"


Mereka semua lalu melihat ke arah bawah saat mendengar suara Devan, terlihat laki-laki itu sudah sadar dan langsung merangkul bahu Lidya.


"Devan, kau sudah sadar?" Lidya mencoba untuk memapah tubuh laki-laki itu.


Amora yang melihat semua itu tentu semakin merasa kesal, matanya memerah dengan kilatan amarah yang siap untuk melenyapkan siapa saja.


"Lidya, Istriku!"


Tangan Devan memeluk pinggang Lidya dengan posesif membuat wajah wanita itu merona, sepertinya dia benar-benar mabuk berat hingga tidak sadar kalau Amora sedang berdiri di hadapannya dengan nyala api yang berkobar dahsyat.


"ayo kita pulang, Devan!" ajak Lidya tanpa menghiraukan Amora, sementara Devan mengangguk dengan manja padanya.


Amora semakin mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Kalau kau terus memeluknya, aku akan mematahkan tanganmu!"


Seketika langkah Lidya yang sudah berbalik langsung berhenti saat mendengar ucapan Amora, sementara Devan mencoba untuk mengenali Amora.


Amora melangkahkan kakinya dan langsung menarik Devan dari pelukan Lidya, tentu Lidya tidak membiarkannya dan menahan tangan laki-laki itu sehingga kejadian antara Valdo, Justin dan Niki tadi kembali terulang.


"Lepaskan tanganmu!"


Amora menatap tangan Lidya yang mencengkram lengan Devan, sementara Lidya tersenyum sinis ke arahnya.


"Seharusnya kau tau diri, Devan itu masih mencintaiku! Itu sebabnya dia ingin bersamaku!"


Lidya sepertinya tidak mau kalah, detik ini juga dia memutuskan untuk kembali membuat Devan jatuh cinta padanya, dan membatalkan perceraian yang sedang berjalan.


"Kak Justin!"


Justin yang ada di belakang Amora langsung mendekat. "Iya, Nona!"

__ADS_1


"Pegang Devan bersamamu, aku harus menghabisi wanita itu!"


Glek. Tubuh Lidya bergetar saat mendengarnya, tetapi dia merasa kalau omongan Amora itu hanya sekedar bualan semata.


Justin yang masih diam terlihat berpikir, kalau sampai Amora membunuh Lidya. Maka urusannya akan sedikit repot, apalagi wanita itu masih berstatus istri Devan.


"Nona, lebih baik-"


"Amora!"


Tiba-tiba Devan memanggil Amora membuat Justin tidak bisa melanjutkan ucapannya, lalu Devan tersenyum ke arah Amora yang melihatnya dengan tajam.


"kau sudah sadar?" tanya Amora.


Devan langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, aku sadar Sayang!" Dia yang akan memeluk Amora tidak bisa bergerak karna tubuhnya ditahan oleh Lidya.


"Lepaskan tanganmu!"


Untuk kedua kalinya Amora meminta, kalau sampai wanita itu tidak melepaskannya, maka jangan salahkan dia kalau berubah jadi kejam.


Glek. Kali ini Lidya melepaskan tangannya saat mendengar ucapan Justin, tubuhnya langsung merinding disko mendengar suara laki-laki itu.


Begitu pegangan tangan Lidya terlepas, Devan langsung memeluk tubuh Amora. Sepertinya saat ini dia suka nempel di sana sini, membuat Amora ingin mematahkan lehernya.


"Amora, kau gadis yang sangat cantik dan unik!"


Devan mulai meracau, tangannya sibuk mencari tangan Amora dan langsung digenggam dengan erat.


"Amora, kau bagai matahari yang membakarku! Aku benar-benar kepanasan, tapi, aku tidak bisa hidup tanpa matahari!"


Deg. Jantung Amora berdebar keras mendengar ocehan Devan, begitu juga dengan Lidya yang saat ini menatap Devan penuh kecewa. Hanya Justin lah yang tidak berdebar, tapi bukan berarti tidak berdebar karna mati.


"Amora, kau-"


"Hentikan ocehanmu! Kau lihat di sana, itu isitrimu!"

__ADS_1


Devan melihat ke arah yang ditunjuk Amora, dan terlihatlah Lidya di sana. "Lidya?"


"Ya, dia istrimu. Kau mencintainya!"


Devan terdiam, sepertinya otak mabuknya sedang bekerja keras untuk bertanya pada hatinya sendiri apakah mencintai Lidya atau tidak.


Lidya yang mendengarnya sedikit mengulas senyum, dia yakin kalau Devan masih sangat mencintainya.


"Em ... Lidya memang istriku, dan kau ... kekasihku!" Devan menunjuk ke arah Amora dan Lidya secara bergantian dengan tubuh sempoyongan.


"lalu, siapa yang kau cintai? Istrimu atau kekasihmu?" lanjut Amora, saat ini dia harus tau bagaimana sebenarnya perasaan Devan. Apakah mencintainya, atau masih mencintai Lidya?


"Em ... aku mencintai ...," Devan menjeda ucapannya membuat Amora dan Lidya penasaran, bahkan Justin saja sampai merekam momen menegangkan itu.


"Aku mencintai Amora, kekasihku!"


Amora langsung tersenyum puas mendengar jawaban Devan, sementara Lidya terpaku menatap laki-laki itu dengan tidak percaya.


"Tidak, tidak mungkin dia mencintai wanita lain! Dia hanya sedang mabuk saja, makanya bisa keliru!"


Lidya mencoba untuk berpikir positif, tetapi seharusnya dia sadar kalau ucapan orang mabuk itu benar-benar jujur dari lubuk hati yang paling dalam.


"Kau sudah mendengarnya, bukan? Mulai sekarang jaga sikapmu, aku tidak mau kau menyentuh Devan sembarangan! Atau aku tidak akan tinggal diam!"


Lidya mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia lalu berbalik dan segera meninggalkan tempat itu.


"Kau lihat saja, aku akan kembali mengambil milikku! Aku yakin kalau Devan masih sangat mencintaku, dia bsrsamamu hanya untuk pelampiasan!"





Tbc.

__ADS_1


Novel ini akan update saat malam saja ya 🥰 karna tinggal beberapa bab lagi menuju tamat 🥳 jangan lupa mampir ke karya baru aku 😍


__ADS_2