
Samy dan Justin mondar-mandir di depan ruangan yang ditempati Amora, mereka ingin sekali meledakkan pintu ruangan itu karna sudah hampir 1 jam tetapi Dokter belum juga keluar dari sana.
"Kalau sampai semenit lagi mereka enggak keluar, aku akan meledakkan pintu itu!"
Baru saja Justin selesai membatin, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan kelurlah 4 orang Dokter dan beberapa perawat dari sana.
"Bagaimana keadaan Amora? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada masalah dengan jantungnya kan?"
Semua Dokter saling pandang mendengar pertanyaan-pertanyaan yang Samy lontarkan, mereka menelan salive dengan kasar karna tidak tau harus bagaimana menjelaskan kondisi Amora.
"Apa kalian bisu?"
Satu kalimat lolos dari mulut Justin membuat semua orang tersentak kaget, bahkan ada salah satu Dokter yang sampai ingin buang angin.
"ka-kami sudah melakukan pemeriksaan, Tuan! Dan, dan hasilnya Nona Amora baik-baik saja!" lirih salah satu Dokter, tangannya mencengkram kuat ujung jas yang sedang dia gunakan.
"Baik-baik saja kau bilang? Apa kau ini benar-benar Dokter?"
Justin murka, tidak mungkin Nonanya baik-baik saja sementara tadi Amora mengeluh kalau jantungnya bermasalah.
"Tenanglah, Justin! Kau membuat mereka takut!"
Samy terpaksa menarik tubuh Justin ke belakang agar dia tidak menakuti para Dokter, terlihat wajah mereka sangat pucat seperti tidak teraliri darah.
"Sekarang ceritakan pemeriksaan kalian, dan berikan laporan medisnya padaku!"
Salah satu Dokter lalu memberikan laporan medis Amora, dia juga menceritakan pemeriksaan yang mereka lakukan tadi. Tidak ada yang ditambah dan ditutupi, semua diceritakan pada lelaki itu.
Samy dan Justin tercengang mendengar penjelasan Dokter, Samy lalu memerintahkan mereka untuk pergi dari hadapannya.
"Jadi, maksudnya Amora suka dengan sih Devan itu?"
Samy bertanya kepada Justin yang diam di sampingnya, lelaki itu juga tampak syok hingga tidak bisa berkata apa-apa.
"Siapa yang suka?"
Samy dan Justin langsung melihat ke depan, terlihat Amora baru keluar dari ruangan itu dengan sehat wal-afiat.
"Amora, kau, kau baik-baik sajakan?"
Amora menganggukkan kepalanya. "Aku baik! Tapi, bagaimana hasil pemeriksaan Dokter tadi? Apa ada kelainan dijantungku?"
Samy dan Justin saling pandang, mereka sedang berpikir keras apakah harus menjelaskan alasan dibalik jantung Amora itu atau tidak.
__ADS_1
"tidak ada kelainan dijantungmu, Amora! Hanya saja-"
"Anda terlalu lelah, Nona!"
Justin langsung memotong ucapan Samy membuat lelaki itu melihatnya dengan bingung, sementara Amora sendiri terdiam sembari memikirkan ucapan Justin.
"Tapi, kenapa aku kelelahan saat bersama Devan?"
Nah, kali ini mereka kembali bingung harus menjawab apa. Samy melirik Justin dengan tajam karna lelaki itu yang mengatakan Amora kelelahan, jadi Justin juga yang harus menjawabnya.
"Karna kebetulan seperti itu, Nona! Jadi Dokter menyarankan agar Nona banyak istirahat!"
Justin berusaha keras agar Amora tidak tau tentang perasaannya sendiri, dia harus mengenal betul bagaimana sifat dan karakter Devan walaupun dia sudah mengetahuinya dari data-data yang dia dapat.
Amora menganggukkan kepalanya pertanda percaya dengan ucapan Justin. "Aku boleh pulang?"
Justin dan Samy menganggukkan kepala, mereka bertiga lalu pergi dari rumah sakit itu dan kembali ke rumah.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Devan sedang mengobrol dengan kedua mertuanya di ruang keluarga. Mereka tidak melihat keberadaan Lidya membuat kedua mertuanya itu menanyakan di mana putri mereka.
"Lidya masih tidur, Bu!"
Wanita paruh baya itu melotot dengan tidak percaya. "Dia belum bangun?"
"Jadi, tadi kau yang menyiapkan sarapan, Devan?"
Devan kembali mengangguk, dia memang menyiapkan sarapan untuk semua orang karna sudah terbiasa hidup sendiri.
"Benar-benar anak itu!"
Wanita paruh baya itu bangun dan berjalan ke kamar Lidya, dia mengetuk pintu kamar itu sembari terus memanggil putrinya agar Lidya bangun.
Klek. "Hoam, ada apa sih Bu?"
"Kau ini istri seperti apa, Lidya? Bagaimana mungkin jam segini kau baru bangun, sementara suamimu sudah menyiapkan sarapan?"
Lidya melirik Devan dengan kesal yang dibalas dengan senyum sinis lelaki itu, dia lalu tersentak kaget saat Ibunya menarik tangannya dan membawanya ke dapur.
"Sekarang bereskan dapur, piring dan semua pakaian! Ibu benar-benar kecewa denganmu!"
Lidya mendessah frustasi, tangannya pasti akan kasar jika mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Lagian kenapa juga suaminya itu tidak menyewa pembantu, dan hanya menyusahkannya saja.
"Kenapa kau masih diam? Apa selama ini kau memang seperti ini, Lidya?"
__ADS_1
Lidya langsung menggelengkan kepalanya. "Bi-biasanya aku ngerjain semuanya kok, Bu! Tadi malam kan aku pulang larut, makanya bangun kesiangan!" Dia membela diri.
"Tapi tetap saja kau tidak bisa memperlakukan suamimu seperti itu, dia sampai menyiapkan sarapan loh tadi!"
Lidya bertambah kesal, kedatangan orangtuanya benar-benar mengganggu ketenangam hidupnya saat ini.
"kan dia sendiri yang mau, lagian aku gak pernah nyuruh dia kok!"
"kau ini-"
"Sudah, Bu! Jangan bertengkar lagi!"
Devan bangkit dan mendekati wanita paruh baya itu. "Aku tidak keberatan kok Bu melakukan semua ini, lagipula memasak tidak merepotkan!"
"Ibu dengar sendirikan, dia sendiri yang mau mengerjakan itu-"
"Cukup, Lidya!"
Semua orang tersentak kaget saat mendengar bentakan Ayah Pian, dia yang sejak tadi diam sudah tidak bisa lagi menahan diri melihat tingkah sang putri.
"Ayah tidak pernah mengajarimu kurang ajar seperti itu, Lidya! Apalagi dengan suami sendiri, apa kau tidak punya pikiran?"
Lidya mengepalkan kedua tangannya dengan geram, dadanya terasa panas dan sesak mendengar amukan dari kedua orangtuanya.
"seharusnya kau bersyukur karna punya suami seperti Devan, kalau laki-laki lain, kau pasti sudah ditinggal!"
"Ayah belum selesai bicara, Lidya!"
Brak! Lidya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan kasar, dia merasa sangat kesal dan marah karna orangtuanya selalu saja memihak pada Devan, padahal dialah anak kandung mereka.
Devan sendiri tersenyum tipis melihat pemandangan itu, dia yang awalnya tidak tega berubah saat ingatan tentang perselingkuhan istrinya melintas dalam ingatan.
"Baiklah Lidya, aku akan menerima permainan darimu. Kau telah mempermainkan cintaku, maka aku akan mempermainkan hidupmu!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1