Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 64. Aku Tidak Pernah Berteman.


__ADS_3

Sepertinya hari ini adalah hari kesi*alan Valdo, sebab dia tidak menyadari akan keberadaan seorang laki-laki yang selalu berdiri di samping Amora.


Mungkin Amora akan biasa saja mendengar umpatannya itu, tetapi tidak untuk Justin. Matanya berkilat penuh emosi mendengar ucapan Valdo, berani sekali laki-laki itu mengatai Nonanya seorang monster.


Niki yang lagi-lagi melihat keberadaan Justin langsung pucat pasi, dia lalu berlari ke arah Devan saat Justin mulai melangkah masuk ke dalam kafe.


"Kak, tolong siapkan pemakaman untuk Kak Valdo!"


"Apa?"


Devan tidak mengerti dengan apa yang Niki ucapkan, sementara Niki yang kebingungan langsung berlari ke arah Justin untuk mencoba menahan langkah laki-laki itu.


"Selamat datang, Tuan Justin!"


Teriakan Niki seketika menghentikan kegaduhan yang sedang terjadi, bahkan suaranya itu sampai membuat tubuh Justin mundur beberapa langkah ke belakang.


"Apa kau sudah gila?"


Justin mengusap telinganya yang berdengung, bisa-bisanya wanita itu berdiri tepat di hadapannya lalu berteriak dengan kencang. Padahal jarak tubuh mereka hanya tinggal satu langkah saja, apa tidak pecah itu gendang telinga?


Amora yang baru menyadari keberadaan Justin langsung menyuruhnya untuk mendekat, karna ada sesuatu yang ingin dia perintahkan.


"Kau selamat kali ini, tapi tidak untuk lain kali!"


Nyes, kata-kata Justin terasa menusuk jantung Niki. Namun, dia berusaha untuk tetap tegar, karna dia melakukannya demi keselamatan Valdo. Dia sudah tau bagaimana kemarahan Justin, jadi dipastikan kalau Valdo tidak akan selamat dari laki-laki itu.


"ya, Nona?"


"Kak, tutup mulut laki-laki ini! Dia sudah berani memaki kekasihku!"


Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, Justin langsung menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk melakukan apa yang Amora perintahkan.


"Tu-tunggu, ini tidak seperti yang kalian pikirkan!"


Devan merentangkan tangannya di depan Justin, tetapi laki-laki itu tidak peduli dan malah mendorong tubuh Devan sampai dia menduduki tubuh Valdo yank masih nungging di lantai.


"Astaga, kenapa kalian membantaiku sih?"


Valdo merasa sangat geram, dengan cepat dia bangun dan berdiri di hadapan mereka semua. "Maju kalian semua!" Dia menggulung lengan kemajanya sampai ke siku, dan membuat gerakan seperti seorang petinju luar biasa.


Apa yang dia lakukan itu tentu membuat kobaran api dalam diri Niki menyala hebat, sudah bagus dia mengorbankan diri demi keselamatan Valdo. Tetapi laki-laki itu dengan gilanya malah menantang mereka.

__ADS_1


"Hentikan itu dasar gila! Kau mau benar-benar bertemu malaikat maut?"


Niki segera menubrukkan tubuhnya dan menarik kedua tangan Valdo, tentu membuat emosi laki-laki itu langsung menghilang.


"Ternyata kau sangat perhatian denganku, ya!"


Valdo menaik turunkan alisnya membuat Niki mendessah kesal, dia lalu menginjak kaki laki-laki itu dengan kuat membuat Valdo berteriak tanpa suara.


"Ka-kalau gitu silahkan duduk, mereka sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk kalian!"


Devan memaksa Amora untuk kembali duduk, sementara Justin masih menatap Valdo dengan tajam walau kakinya mengikuti Amora.


Setelah semua kegaduhan yang terjadi, saat ini Valdo sudah duduk dimeja yang sama dengan Amora dan yang lainnya. Sepertinya mereka sudah sungkem saling minta maaf, kecuali Justin yang tetap mengeraskan rahangnya.


"Jadi, pihak pengadilan sudah mengabulkan keinginanku?"


Valdo menganggukkan kepalanya. "Benar, sesi mediasi kalian sudah gagal karna kau tidak datang. Kau juga kan tidak mau berlama-lama lagi, jadi aku melobi semuanya agar berjalan cepat!"


Devan menghembuskan napas lega saat mendengar penjelasan Valdo, sementara Amora melirik ke arah Devan untuk melihat reaksi laki-laki itu.


"tapi Dev, sepertinya ada sesuatu dengan Lidya!"


"Maksudmu?"


"Tapi, aku merasa ada yang lain dari tatapan Lidya! Dia mengatakan hal seperti itu bukan karna ingin berpisah darimu, tapi karna benar-benar merasa bersalah! Dia bahkan diam saja didetik-detik terakhir persidangan, sepertinya dia masih berharap untuk kembali padamu!"


Sepertinya Valdo tidak sadar kalau saat ini dia sedang menembakkan sebuah anak panah ke hati Amora, walaupun wanita itu hanya diam di tempatnya.


"Itu tidak mungkin, Val! Kau sudah tau apa yang terjadi pada kami, dan perpisahan adalah yang terbaik!"


Valdo menganggukkan kepalanya. "Aku cuma ingin yang terbaik untuk kalian, karna kalian adalah teman-temanku!"


"Aku mengerti!"


Devan menepuk bahu Valdo dengan memgulas senyum, dia tau kalau sahabatnya itu selalu memikirkan yang terbaik untuknya.


"Jadi, apa kau juga akan melakukan yang terbaik untukku, jika aku menjadi temanmu?"


Semua orang langsung melihat ke arah Amora, tentu mereka terkejut mendengar apa yang baru saja dia katakan.


"Apa anda serius, Nona?"

__ADS_1


Amora menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, selama ini aku tidak punya teman. Aku ingin punya teman seperti kalian!"


Devan menatap Amora dengan sendu, dia tidak tau apa saja yang sudah dilewati oleh wanita itu sampai-sampai Amora tidak punya teman.


Bukan Devan saja yang merasa sedih, tetapi Justin juga. Dia bahkan menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat wajah Amora, karna dia tau betul kalau wanita itu tidak punya waktu untuk berteman.


"tentu saja, aku akan sangat senang hati berteman dengan anda. Ah, jangan lupa, Niki juga pasti akan ikut dengan kita!"


"ikut? Memangnya kita mau ke mana?" tanya Devan dengan tatapan curiga.


"Dengar!"


Tiba-tiba Valdo berdiri dan meminta semua orang untuk mendengarnya. "Malam ini, aku akan mengadakan pesta untuk menyambut pertemanan kita semua! Jadi, kalian semua harus datang! Aku akan mengadakannya di apartemenku!"


"Waah, benarkah? Apa Kakak sudah gajian?"


Niki melihat Valdo dengan mata berbinar-binar, sudah lama juga dia tidak menghadiri pesta karna selalu sibuk untuk bekerja.


"Cih, kau pikir aku semiskin itu apa!"


Valdo mencebikkan bibirnya, dia lalu kembali mengingatkan mereka untuk datang ke rumahnya malam ini.


"Dasar kau, kenapa harus pakai pesta segala sih?" Devan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"memangnya kenapa? Tidak ada salahnya kalau kita membuat pesta. Lalu, bagaimana dengan anda Nona? Apa anda bersedia untuk datang?" tanya Valdo dengan harap-harap cemas, dia sengaja membuat pesta agar suasana tidak canggung.


"Tentu saja, aku dan Kak Justin akan datang nanti malam!"


Valdo tersenyum lebar, tetapi kalau boleh jujur. Dia lebih senang kalau Justin tidak datang, karna terlihat jelas kalau laki-laki itu tidak menyukainya.


Pada saat yang sama, seorang lelaki paruh baya sedang berjalan di bandara menuju mobil yang sudah menunggunya.


"Selamat datang, Tuan!"


Dia menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil tersebut. "Katakan pada Samy kalau aku sudah sampai!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2