Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 7. Transaksi Bisnis.


__ADS_3

"Sudah ku katakan untuk melaporkan semuanya padaku, dan bukan menyusahkan Nona!"


Lelaki itu terdiam dengan kepala tertunduk, pipinya terasa ngilu dan kebas tetapi dia tidak berani untuk hanya sekedar memegangnya.


"sekali lagi kau melakukan ini, jangan salahkan aku kalau tidak punya rasa maaf lagi untukmu!"


"Baik, Tuan! Saya tidak akan melakukannya lagi!"


Amora yang sedang berada di dalam mobil melirik ke arah belakang, tetapi dia tetap diam dan menunggu Justin masuk ke dalam mobil itu.


"Maaf sudah membuat anda menunggu, Nona!"


Justin masuk ke dalam mobil dan duduk dikursi kemudi, dia lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


"Tadi aku menghubungi nomor Kakak, tapi nomor Kakak sibuk!"


Tiba-tiba Amora buka suara saat dalam perjalanan, matanya melihat ke arah Justin yang tetap fokus menyetir.


"maaf, Nona! Lain kali nomor saya tidak akan sibuk!" ucap Justin, keningya sedikit berkerut karna mendengar ucapan sang Nona.


Amora menganggukkan kepalanya dan bersandar di sandaran mobil. "Pastikan semua orang bisa menghubungimu, Kak!"


"Baik, Nona!"


Amora lalu memejamkan kedua matanya untuk sejenak mengistirahatkan diri, dia harus menyimpan tenaga untuk transaksi yang akan terjadi nanti malam.


"semuanya sudah selesai, Nona! Tuan Zack nanti malam akan datang bersama dengan Tuan Melano," ucap Justin memberi laporan tentang transaksi mereka yang di balas dengan anggukan kepala Amora.


"Bawa dia bersamamu, ini kesempatan bagus untuknya berlatih!"


Justin tau betul siapa yang saat ini sedang dibahas oleh Nona mudanya, walaupun dia merasa tidak senang, tetapi dia tidak bisa menolak keinginan Amora.


"Baik, Nona!"


***


Malam harinya, Amora sudah siap dengan pakaian serba hitam yang selalu dia gunakan saat sedang bekerja diluar perusahaan. Dia memasukkan pistol ke dalam saku celananya yang ada di kiri dan kanan kakinya.


"Semuanya sudah siap, Nona!"


Amora berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh Justin, lelaki itu juga tampak sangat berbeda saat ini.


Semua anak buah Amora sudah berkumpul di halaman markas itu, begitu juga dengan Devan yang sudah diberi perintah oleh Justin untuk datang ke tempat yang dia beritahu.

__ADS_1


Devan terus memperhatikan ke sekitarnya berada saat ini, dia tidak menyangka kalau di tengah hutan seperti ini, ternyata ada sebuah markas yang tersembunyi.


"Selamat malam, Nona!"


Semua orang langsung menundukkan kepala saat melihat keberadaan Amora, wanita itu berjalan mendekati para anak buahnya yang sedang menundukkan kepala saat ini.


Mata Amora menatap tajam ke arah Devan yang tergabung di antara anak buahnya, entah kenapa dia merasa lebih bersemangat di bandingkan malam-malam yang lainnya.


"berjagalah di tempat-tempat yang sudah aku perintahkan, pastikan kalian tidak membuat kesalahan!"


"Baik, Tuan!"


Devan ikut saja menjawab walaupun dia tidak tau apa yang lelaki itu katakan, apalagi dia baru saja sampai di tempat itu.


"Sekarang pergilah!"


Semua anak buah Amora bubar barisan dan menuju tempat-tempat yang telah Justin perintahkan, hanya tinggal Devan saja yang masih berdiri di tempat itu.


"Kemari!"


Devan berjalan mendekati Amora yang memanggilnya, dia menundukkan kepala saat bersitatap mata dengan Justin.


"Apa istrimu sudah pulang?"


Devan mendongakkan kepalanya mendengar pertangaan Amora. "Belum, Nona!" Suaranya terdengar lirih.


"Aku akan membuat istrimu pulang!"


Devan sedikit tersentak, beberapa kali dia mengedipkan matanya karna tidak percaya dengan apa yang Amora katakan.


"sa-saya tidak apa-apa, Nona! Nona tidak perlu-"


"Itu perjanjian kita, dan aku akan menepatinya!"


Amora lalu beralih ke arah Justin yang berdiri tepat di belakangnya. "Lakukan apa saja untuk membuat istrinya pulang!"


Justin terdiam, kenapa dia harus repot-repot memikirkan istri orang lain sedangkan dia sendiri belum punya istri.


"Nona-"


"aku sudah membuat janji dengannya!"


"Baik, Nona!"

__ADS_1


Justin sudah tidak bisa lagi membantah, padahal dia juga tidak punya kesempatan untuk menolak perintah Amora.


Wanita itu lalu berjalan ke arah mobilnya berada dengan diikuti oleh Justin dan juga Devan, lelaki itu ikut serta tentu karna perintah dari Amora.


Setelah menghabiskan waktu 45 menit, akhirnya mobil mereka sampai di sebuah tempat yang ada di pinggiran kota. Tempat itu tampak sangat sunyi, dan hanya beberapa orang saja yang ada di sana.


Amora dan kedua anak buahnya segera turun dari mobil dan berjalan mendekati tempat pertemuan mereka dengan seseorang.


"Anda datang juga, Nona Amora!"


Seorang lelaki paruh baya menyambut kedatangan Amora, dia lalu menyodorkan tangannya dan dibalas oleh tangan Amora.


"Mari, silahkan masuk!"


Mereka semua kemudian masuk ke dalam ruangan yang ada di tempat itu, kedua mata Justin terus memperhatikan ke semua penjuru tempat sambil menghitung ada berapa banyak penjaga di tempat itu.


"Periksa ke luar, dan jangan sampai kau lengah atau kita semua akan mati!"


Devan tersentak saat mendengar bisikan dari Justin, dia lalu menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah luar untuk berjaga di depan pintu.


"Maaf sebelumnya, Nona! Saya juga mengajak salah satu rekan saya untuk transaksi ini, apa Nona tidak keberatan?"


Amora menganggukkan kepalanya, tentu dia tidak kaget lagi dengan ucapan lelaki itu karna dia sudah tau kalau akan ada satu orang lagi yang hadir di sana.


"Silahkan saja selagi tidak merugikanku!"


Lelaki itu lalu memanggil temannya untuk bergabung bersama mereka, tidak berselang lama datanglah seorang lelaki ke hadapan mereka semua.


"Perkenalkan, beliau Tuan Melano, Nona!"


Deg, mata Amora membulat sempurna saat melihat lelaki yang ada di hadapannya saat ini, dia masih ingat betul dengan wajah lelaki tersebut.


"Dia kan laki-laki yang sudah berselingkuh dengan istri Devan?"





Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘

__ADS_1


Mampir juga yuk, ke karya teman aku! Dijamin keren dan seru 😍



__ADS_2