
Amora dan yang lainnya segera kembali ke rumah, dia menyuruh Devan untuk ikut bersamanya karna ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan lelaki itu.
Sesampainya di rumah, Amora segera berjalan ke ruang kerjanya dengan tetap diikuti oleh kedua lelaki itu.
"Amora!"
Amora yang sudah akan masuk ke dalam ruangan itu terpaksa menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menglihat ke arah sang Kakak.
Samy berjalan dari kamarnya untuk mendekati sang adik, matanya melihat tajam ke arah Devan karna wajah lelaki itu tidak asing dimatanya.
"ada apa?" tanya Amora saat Samy sudah berdiri di depannya.
"Kenapa kau pergi tidak memberitahu kakak?"
Samy merasa kesal, tidak ada satupun orang yang memberitahunya ke mana adiknya pergi. Bahkan semua anak buah sang adik menutup mulut mereka rapat-rapat dan enggan untuk bicara.
"Ck!"
Amora merasa kesal mendengar pertanyaan Samy, tanpa menjawab pertanyaan itu, dia beralih masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Amora, tunggu!!"
Samy menahan tangan Amora, sungguh dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap dingin sang adik.
"Sudah cukup, Amora! Sudah cukup kau seperti ini, apa tidak bisa kau memaafkan semua kesalahanku?"
Amora menatap Samy dengan tajam, matanya berkilat marah melihat lelaki itu saat ini. Dengan cepat Amora mengibaskan tangan sang Kakak sampai genggaman tangan lelaki itu terlepas.
"Apa bisa, Papa kembali hidup kalau aku memaafkanmu?"
Deg, Samy terdiam. Sungguh dia tidak pernah menginginkan kehancuran dalam keluarganya, tapi dia juga mengakui kalau ketidak peduliannya dulu ternyata menjadi boomerang untuk keluarganya sendiri.
"Dan kau mengatakan sudah cukup? Sudah cukup untuk apa?"
Samy kembali terdiam dengan memandang Amora sendu, ingin sekali dia merengkuh tubuh sang adik dan memeluknya dengan erat.
"Amora, kakak-"
"Berhentilah mengggangguku, dan lakukan pekerjaanmu sendiri!"
Amora kembali melangkahkan kakinya dan duduk di atas sofa, terlihat Samy masih diam di tempatnya dengan mendessah frustasi.
"Tuan!"
Justin menyentuh bahu Samy membuat lelaki itu melihat ke arahnya. "Saya mohon!"
Samy menganggukkan kepalanya, dia paham dengan apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
"jagalah dia, Just! Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan adikku!"
"Tentu saja, Tuan!"
Samy lalu meninggalkan ruangan itu dan beralih kembali ke dalam kamarnya, sejenak dia melirik ke arah Devan yang sedang menundukkan kepala.
Setelah melihat Samy pergi, Justin dan Devan segera masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya. Terlihat Amora sedang bersandar disofa dengan kedua mata yang terpejam.
Brak!
Tiba-tiba Justin dan Devan terjingkat kaget saat tangan Amora memukul meja yang ada dihadapannya, bahkan tangannya yang putih langsung berubah merah akibat benturan keras itu.
"Si*alan!"
Amora yang kembali memukul meja merasa terkejut saat melihat tangan Justin, karna ternyata sekretarisnya itu meletakkan tangan di atas meja untuk menghindari tangannya yang akan kembali memukul meja itu.
Devan yang melihatnya pun kembali terkejut, dia tidak menyangka kalau Justin akan melakukan hal seperti itu untuk Amora.
"Saya akan mengompres tangan Nona!"
Justin beralih keluar dari ruangan itu untuk mengambil baskom dan air es agar tangan Amora tidak bengkak, sementara Amora tersenyum tipis melihat apa yang Justin lakukan.
"Perhatian sekali!"
Amora melirik ke arah Devan yang sepertinya kelepasan bicara, lelaki itu terlihat sedang menutup mulutnya dengan tangan.
Devan menganggukkan kepalanya, walaupun Justin belum mengatakan apa-apa, tetapi dia bisa langsung tau saat ikut dengan transaksi tadi.
"Tapi, Nona! Kenapa anda melakukan ini?"
Jujur saja, Devan ingin tau alasan Amora melakukan ini. Dia sudah punya pekerjaan walaupun hanya sebagai manajer disebuah kafe, jadi dia tidak perlu pekerjaan lain untuk menambah penghasilan.
"Sudah ku bilang untuk membalas dendam pada istrimu!"
Amora merasa kesal karna laki-laki itu terus saja bertanya hal yang sama, dan sebenarnya dia juga tidak tau alasannya sendiri.
Devan terdiam, yah dia juga tau kalau untuk itu. Akan tetapi, kenapa wanita itu harus repot-repot seperti ini? Itulah yang menjadi pertanyaannya.
"Mulai sekarang siapkan dirimu, karna kau akan menjadi pacarku!"
Belum sempat Devan membalas ucapan Amora, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia segera mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yang sedang menelponnya.
"Ibu?"
Devan segera permisi keluar dari ruangan itu untuk mengangkat panggilan dari mertuanya.
"halo, Bu?" ucap Devan saat sudah mengangkat panggilan dari mertuanya.
__ADS_1
"Halo, Devan! Kau sedang di mana? Sejak tadi Ibu dan Ayah menunggumu."
Devan mengernyitkan keningnya. "Memangnya ada apa, Bu? Kenapa Ibu dan Ayah menungguku?" Dia merasa bingung.
"Ibu dan Ayah sudah berada di depan rumahmu!"
"A-apa? Ka-kalau gitu tunggu sebentar, Bu! Aku, aku akan segera pulang!"
Devan langsung mematikan ponselnya dan kembali masuk menemui Amora, terlihat Justin sedang mengompres tangan wanita itu dengan telaten.
"maaf, Nona! Saya, saya permisi pulang dulu!"
"Kenapa?"
Amora mendongakkan kepalanya, dia menatap tajam ke arah Devan yang juga sedang menatapnya.
"Mertua saya sudah menunggu, Nona! Jadi saya harus segera pulang!"
"Aku ikut!"
Devan tersentak kaget mendengar apa yang Amora katakan, begitu juga dengan Justin yang melihat Nona mudanya dengan tajam.
Amora berdiri dan bersiap untuk ikut bersama dengan Devan, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini hingga dia ingin ikut dengan lelaki itu.
"Nona, anda-"
"Kak, buat supaya istrinya pulang ke rumah! Aku ingin lihat bagaimana reaksi istri serta mertuanya saat melihat dia datang bersamaku!"
Justin yang ingin mencegah kepergian Amora malah diberi tugas olehnya, terpaksa Justin menganggukkan kepalanya untuk menjalankan perintah Amora.
Amora lalu keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh Devan yang masih merasa bingung, kemudian dia memberikan kunci mobil pada lelaki itu agar membawa mobilnya.
"Nona, kenapa Nona ingin ikut?"
Devan tidak segera mengambil kunci mobil itu membuat tangan Amora menggantung diudara.
"bukankah aku harus melihat sainganku?"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1