Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 57. Rasa Yang Menyesakkan Dada.


__ADS_3

Samy tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar ucapan Lucas, sebenarnya dia ingin sekali bersama dengan laki-laki itu. Namun, bagaimana dengan Amora?


"Maaf, Lucas! Sepertinya kau benar-benar malang karna punya anak seperti itu!"


Samy kembali berbalik dan memandang Lucas dengan sendu, dia tidak bisa meninggalkan Amora dan ikut dengan laki-laki itu.


"Jadi, kau tetap tidak ingin ikut bersama Papa?"


Hati Samy bergetar saat mendengar sebutan Papa yang Lucas ucapkan, sekuat tenaga dia menahan air mata yang sudah menggantung dipelupuk matanya.


"Aku, aku tidak bisa meninggalkan Amora! Aku tidak bisa membiarkan adikku hidup sendiri, dan aku akan selalu bersamanya apapun yang terjadi!"


Ya, keputusan Samy masih tetap sama seperti beberapa tahun lalu saat Lucas ingin membawanya. Dia tetap akan selalu bersama Amora, dan tidak akan meninggalkan gadis itu.


"Baiklah, sepertinya kau benar-benar tidak ingin bersamaku! Jadi, biar aku tanya satu hal padamu!"


Samy menatap Lucas yang juga sedang menatapnya, hembusan angin terasa mendinginkan hati mereka berdua yang sedang dilanda oleh kesedihan.


"Kalau memang dia adalah adikmu, berarti kau juga kenal dengan laki-laki yang bersamanya?"


Samy menganggukkan kepalanya. "Aku mengenalnya, namanya Devan!"


"Aku tau! Tapi, apa kau tidak pernah berpikir kenapa wajahku dan dia sangat mirip?"


Bohong namanya jika Samy tidak memikirkannya, bahkan dia sudah bingung sejak pertama kali bertemu dengan Devan.


Bisa-bisanya laki-laki itu mirip dengan Lucas, dan hanya dibeberapa bagian saja yang tidak sama di antara mereka berdua.


"Aku pernah menyuruh seseorang untuk menyelidikinya, dan mereka mengatakan kalau Devan seorang yatim piatu yang tinggal dipanti asuhan!"


Itulah hasil penyelidikan yang Samy lakukan, walaupun wajah Devan sangat mirip dengan Lucas. Akan tetapi, belum tentu laki-laki itu ada hubungannya dengan Lucas.


Lucas menganggukkan kepalanya, dia ingin mencaritau sendiri siapa Devan sebenarnya.


"Baiklah, aku pergi sekarang, Papa!"


Lucas tersentak saat mendengar panggilan Samy, untuk pertama kalinya laki-laki itu memangilnya dengan sebutan Papa.


Sementara itu, Amora yang sedang di dalam ruang latihan terus saja melatih kemampuannya tanpa henti, seolah-olah sedang melampiaskan semua amarah yang ada dihatinya.


"Nona, ini sudah 4 jam!"

__ADS_1


Amora tidak memperdulikan ucapan Justin, dan terus saja melakukan apa yang sedang dia lakukan saat ini.


Justin menghela napas berat, sebenarnya dia tidak tau ada masalah apa antara Amora dan juga Devan, hingga membuat wanita itu sangat marah.


"Nona!"


Justin terpaksa menahan tangan Amora saat ingin melakukan tinju, sementara wanita itu menatap tajam ke arahnya.


"Lepaskan tanganku!"


Justin tetap memegangi tangan Amora walaupun wanita itu memberontak. "Sudah cukup, Nona! Saya mohon hentikan!"


Amora menghela napas kasar, dia lalu menarik tangannya dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan tetap diikuti oleh Justin.


Mereka berjalan ke arah kolam, dan Amora langsung menjatuhkan dirinya ke dalam kolam tersebut tanpa mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu.


Melihat Amora masuk ke dalam kolam, Justin langsung memanggil pelayan untuk mengambilkan handuk. Dia lalu duduk dipinggir kolam itu untuk menunggu wanita itu keluar.


Amora menenggelamkan dirinya sampai kedasar kolam, kedua matanya terpejam sambil menahan rasa sakit yang membuat dadanya seperti sedang terbakar.


Untuk beberapa saat dia tetap seperti itu, mencoba untuk menenangkan jiwanya yang seakan sedang terkoyak. Kata-kata yang Devan ucapkan terus terngiang-ngiang dalam kepalanya, memimbulkan rasa sakit yang amat menyiksa.


Setelah beberapa menit di dalam kolam, Amora segera berenang ke atas sebelum napasnya habis.


Amora segera naik dari kolam dan duduk di samping Justin, dengan sigap laki-laki itu langsung memberikan handuk padanya.


"Hatiku sangat sakit!"


Justin yang berniat untuk mengambil minuman terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Amora. "Apa Nona bisa menceritakan semuanya?"


Amora mengangguk, dia lalu menceritakan semua yang terjadi pada laki-laki itu.


Justin mendengarkan cerita Amora dengan khusyuk, rahangnya mengeras saat mendengar apa yang Devan katakan pada Amora.


"aku memang menyukainya, tapi rasa suka ini tidak bisa diperlakukan seperti itu!" ucap Amora.


"Saya mengerti, Nona! Tapi, apa anda benar-benar tidak akan berhubungan lagi dengan Devan?"


Amora terdiam, hati dan pikirannya sedang tidak sejalan saat ini. Pikirannya memilih untuk menjauhi laki-laki itu, tapi hatinya meminta untuk bertahan.


"Jika Nona tidak yakin, maka pikirkanlah terlebih dahulu!"

__ADS_1


Justin hanya tidak mau kalau sampai ada penyesalan dalam hati Amora, karna wanita itu baru pertama kali menyukai seorang lelaki seperti ini.


"tidak, aku sudah yakin! Jika dia memang ingin kembali pada istrinya. Maka tidak ada lagi-"


"Tolong jangan fitnah aku seperti itu, Amora!"


Amora dan Justin langsung memalingkan wajah mereka ke samping kanan, terlihat Devan sedang berjalan untuk menghampiri mereka.


"Tuan Justin, bisakah anda meninggalkan saya dan Amora sebentar? "


Justin langsung melirik ke arah Amora yang sejak tadi diam, wanita itu lalu menganggukkan kepalanya agar dia bisa pergi dari sana.


Setelah Justin pergi, tiba-tiba suasana mendadak jadi hening. Devan tidak tau harus mulai dari mana dulu, sementara Amora enggan untuk bicara dengan Devan.


"Amora, aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu padamu!"


Suara Devan terdengar lirih, begitu sadar dari pingsannya. Dia langsung beranjak dari kafe ke rumah Amora, dia harus menjelaskan sesuatu pada wanita itu sebelum terlambat.


"Aku tidak ingin menjawab apapun pertanyaanmu!"


Belum sempat Devan bertanya, tetapi Amora sudah memberi ultimatum kalau dia tidak akan menjawab pertanyaan Devan.


"Amora, aku-"


"Aku tidak mau mendengar apapun, lebih baik kau pergi sekarang!"


Amora menatap Devan dengan tajam, netra matanya yang berwarna biru cerah tampak berkilat dan menghanyutkan perasaan laki-laki itu.


"Amora, aku mencintaimu!"


"Cukup, aku tidak-"


Amora terdiam saat baru sadar dengan apa yang Devan katakan, sementara laki-laki itu tersenyum dengan memegang kedua tangan wanita itu.


"Ya, Amora! Aku mencintaimu!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2