Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 84. Kesalahan Di Masa Lalu, Petaka Di Masa Depan.


__ADS_3

"Tetaplah di sampingku, dan bantu aku untuk menerima kenyataan yang sangat kejam ini." Mata Amora kembali berkaca-kaca. Sekuat apapun dia mencoba untuk melawan semua ini, tetap saja kenyataan tidak akan pernah berubah.


Ingin sekali rasanya dia pergi menjauh dari semua keadaan ini. Namun, dia tidak mau semakin menambah masalah karena masalahnya sendiri sudah sangat banyak.


"Kemarilah." Samy mengulurkan tangan untuk menyuruh Amora mendekat.


Dengan ragu-ragu, Amora mulai mendekat keranjang Samy. Tubuhnya terlonjak kaget saat laki-laki itu menarik dan memeluknya dengan erat.


"Kau adalah adikku, dan aku sangat menyayangimu. Aku tidak peduli apa yang terjadi di masa lalu, hanya saja aku tidak bisa mengubah kenyataan bahwa ayah kita adalah orang yang berbeda," ucap Samy dengan lirih, dia mencoba untuk memberikan penjelasan pada Amora. "tapi apapun itu, percayalah kalau aku akan tetap menjadi kakakmu. Aku juga akan selalu bersamamu, hem."


Amora kembali terisak dalam pelukan Samy. Selama bertahun-tahun lamanya, baru kali inilah dia kembali merasakan hangatnya pelukan sang kakak.


"A-aku mengerti."


Samy merenggangkan pelukannya saat merasa Amora sudah tenang, dia menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang dan bangga akan kedewasaan Amora.


"Apa kau sudah makan?" tanyanya kemudian.


Amora menggelengkan kepalanya. "Ini belum pagi, aku akan makan setelah matahari keluar."


Samy tersenyum mendengar jawaban Amora, begitu juga dengan yang lainnya yang masih berada di ruangan itu.


"Baiklah, apa kau sudah cukup bicara dengan kakakmu?" Tiba-tiba Lucas bersuara membuat Samy dan Devan menjadi khawatir, mereka takut kalau Amora akan kembali murka dengan apa yang laki-laki paruh baya itu lakukan.

__ADS_1


"Pa-"


Amora memegang lengan Samy untuk menyuruh laki-laki itu diam, dia menganggukkan kepalanya untuk mengatakan kalau saat ini dia baik-baik saja.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" tanya Amora pada Lucas, yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.


Lucas terdiam untuk beberapa saat, dia lalu memandang mereka satu persatu seperti mengatakan kalau dia bukan hanya ingin bicara pada Amora tetapi pada semua orang.


"Dengarkan apa yang ingin aku katakan ini, khususnya untukmu, Amora." Pandangan Lucas jatuh pada Amora saat ini. "Aku minta maaf pada kalian semua atas apa yang sudah terjadi, aku juga minta maaf atas nama Alice dan juga Simon karena kami sudah menyebabkan kalian semua menderita." Lucas menundukkan tubuhnya untuk permintaan maaf yang baru saja dia ucapkan.


Jelas semua orang terkejut dengan apa yang dia lakukan, hingga mereka tidak bisa memberikan reaksi apa-apa dan hanya menatapnya saja.


Sejak tadi, sebenarnya inilah yang sedang Lucas pikirkan. Dia merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah terjadi pada semua orang, karena semua yang terjadi pada mereka dikarenakan masalah yang terjadi antara dia, Simon dan juga Alice. Hingga menghancurkan hidup orang-orang yang mereka sayangi.


"A-apa yang Papa lakukan?" Akhirnya Samy berhasil mengeluarkan kata-kata.


"Biarkan papa bicara, Samy. Karena perbuatan papa, Simon dan juga Alice lah yang telah menyebabkan kalian semua menderita. Kami benar-benar manusia kejam yang memberi penderitaan pada keturunan kami sendiri, hanya untuk memuaskan sebuah ego yang ada dalam diri."


"Seharusnya kamilah yang dihukum untuk semua ini, dan bukannya kalian semua. Terutama kau, Amora."


Amora tetap diam mendengarkan semua ucapan Lucas, dia seperti sedang melihat bayangan kedua orangtuanya dalam diri laki-laki paruh baya itu.


"Kau lah yang paling banyak mengalami penderitaan, dan rasa bencimu padaku tidaklah salah. Kau berhak membenciku, karna aku sendiri juga membenci diriku ini."

__ADS_1


Samy menggelengkan kepalanya. Dia tau kalau penyebab kekacauan ini adalah Lucas, Simon dan juga Alice. Hanya saja rasanya tidak adil jika harus membenci laki-laki itu, karena dia tau kalau Lucas juga tidak mau hal ini terjadi.


"Jadi, dengan segenap hati dan jiwa ragaku. Aku meminta maaf pada kalian semua untuk apa yang sudah terjadi, juga untuk semua penderitaanmu selama ini, Amora."


Hati semua orang tersentuh dengan apa yang Lucas lakukan, terlihat jelas ketulusan dalam setiap kata-kata yang laki-laki paruh baya itu ucapkan. Bahkan mereka bisa melihat penyesalan yang sangat besar dari sorot mata Lucas, mata yang sayu dan menggantung mendung.


"Alice, Simon. Aku sudah meminta maaf atas apa yang sudah kita lakukan pada anak-anak kita, atas kebahagiaan yang telah kita renggut dari mereka. Di akhirat kelak, aku juga akan mendapat balasan atas apa yang terjadi ini." Lucas memejamkan kedua matanya saat bayangan Simon dan Alice melintas.


Suasana menjadi hening, semua orang larut dalam kesedihan yang Lucas rasakan. Andai semua ini tidak terjadi, andai Lucas, Simon dan Alice bisa menahan diri dan tidak mengikuti ego masing-masing maka mereka semua pasti akan hidup dengan sangat bahagia.


"Angkat kepala Papa, mau sampai kapan Papa terus menunduk seperti itu?" Suara Samy berhasil menghentikan keheningan yang terjadi, membuat semua orang melihat ke arahnya. "Semua sudah terjadi, dan kita tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi, kita bisa mengubah masa depan. Kita bisa mengubah kebencian menjadi kasih sayang, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan. Bisakah kita melakukannya?" Dia menatap ke arah semua orang.


"Selama ini aku juga sudah sangat bersalah dengan menyembunyikan semua yang terjadi, hingga memberikan luka yang sangat dalam untuk adikku sendiri. Aku juga membuat Papa merasa tidak nyaman, dan selalu tertekan dengan apa yang aku ucapkan,"


"Namun, aku sangat menyayangi kalian berdua. Rasa sayang ku sangat besar, sampai aku tidak bisa memilih di antara kalian. Selama ini aku selalu berdo'a agar kalian tidak akan pernah bertemu, karena aku takut jika harus kehilangan salah satu di antara kalian."





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2