
Niki tercengang mendengar ucapan Justin, sementara laki-laki itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa kau diam?"
Niki terlonjak kaget saat baru sadar kalau Justin ada di hadapannya, sontak tubuhnya langsung terhuyung dan ditangkap oleh tangan kekar laki-laki itu.
Posisi mereka saat ini sangat dekat, bak sepasang kekasih yang sedang berdansa. Helaan napas mereka saling memburu, dan sama-sama menerpa wajah masing-masing.
Niki seolah terhipnotis dengan wajah Justin, sementara Justin juga memperhatikan garis wajah wanita itu yang entah kenapa membuatnya diluar kendali.
1 detik, 2 detik dan didetik ke 10. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik tangan Niki, sampai wanita itu oleng dan hampir jatuh.
Grep!
Justin yang terkejut langsung melihat ke arah seseorang yang menarik Niki, matanya langsung berkilat marah saat mengetahui bahwa Valdo lah yang melakukannya.
"Astaga, aku pikir siapa!"
Niki juga sama terkejutnya, dengan cepat dia memperbaiki posisi berdirinya yang masih menempel ditubuh Valdo.
"Maaf kalau saya mengganggu, Tuan! Tapi saya harus bicara dengan Niki!"
Valdo tersenyum ke arah Justin yang menatapnya dengan tajam, tetapi dari senyumannya itu bisa terlihat kalau dia sedang menahan emosi.
"Bicara apa?"
Niki sendiri sepertinya tidak sadar dengan apa yang terjadi, padahal dua orang lelaki yang ada di hadapannya sedang mengibarkan bendera perang.
"Ayo!"
Tanpa menjawab pertanyaan Niki, Valdo langsung menggenggam tangan wanita itu dan menariknya agar menjauh dari Justin. Dia mencoba untuk menahan amarahnya yang sudah membara.
Namun, langkahnya terhenti saat merasa tidak ada pergerakan dari Niki membuatnya langsung melihat ke arah belakang.
Mata Valdo membulat sempurna saat melihat apa yang terjadi, di mana saat ini Justin ternyata juga sedang menggenggam tangan Niki, dan menahan agar dia tidak bisa membawa wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Valdo tidak bisa lagi menahan diri, dia mengeraskan rahangnya melihat kelancangan laki-laki itu.
"Kau bertanya? Bukannya pertanyaan itu seharusnya untukmu?"
Justin juga sepertinya sudah kehilangan akal sehat, karna saat ini dia menggenggam tangan Niki dengan erat dan tidak akan membiarkan laki-laki itu membawanya.
__ADS_1
Niki yang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa tercengang dengan apa yang terjadi, otak kecilnya berusaha untuk mencerna apa yang sedang Valdo dan Justin lakukan dengan tangannya.
"Apa yang terjadi? Aku siapa? Aku di mana?"
Batin Niki bergejolak, ingin sekali dia berteriak dengan kencang tetapi suaranya seakan tercekat ditenggorokan.
"kenapa kau menahan tangan Niki?" tanya Valdo dengan tajam, walau suaranya terdengar pelan, tetapi terasa sangat menusuk bagi siapapun yang mendengarnya.
"Dia milikku, seharusnya kau tidak membawanya sembarang!"
Deg, jantung Niki serasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya saat mendengar ucapan Justin. Dia yang sejak tadi melihat lurus ke depan, kini beralih melihat laki-laki itu dengan tajam.
"Miliknya? Apa, apa dia menyukaiku?"
Niki membuka mulutnya dengan lebar saat menyadari sesuatu, mungkinkah Justin menyukainya? Tapi, kenapa bisa?
"Milikmu? Milikmu kau bilang?"
Valdo semakin mencengkram erat pergelangan tangan Niki membuat wanita itu meringis kesakitan, begitu juga dengan Justin. Mereka berdua sepertinya ingin mematahkan tangan wanita itu.
"Baiklah, hentikan tarik-tarikan tangan kalian ini. Ini belum 17 agustus!"
Devan yang ternyata sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, langsung menghampiri mereka saat melihat adegan tarik menarik. Dengan cepat dia melepaskan paksa tangan Valdo dan Justin, yang masih mengcengkram pergelangan tangan Niki.
Valdo dan Justin langsung kembali waras saat menyadari keberadaan Devan, untung saja kegilaan mereka segera dihentikan oleh laki-laki itu.
Devan langsung memegangi kedua tangan Niki yang memerah, tetapi bukan hanya tangan saja melainkan seluruh tubuh wanita itu juga memerah.
"Niki, kau baik-baik saja?"
Devan menegakkan kepala Niki yang sejak tadi diam dengan kepala tertunduk, dia takut kalau kedua laki-laki gila itu menyakiti adiknya.
"Kak, tolong jangan tanya apapun padaku! Saat ini aku merasa sangat malu!"
"Apa?"
Ingin sekali Devan berkata kasar saat ini juga, dia sudah khawatir setengah mati tetapi Niki malah sibuk dengan rasa malunya itu.
Justin langsung berbalik dan kembali ke tempatnya tanpa memperdulikan apa yang terjadi, sepertinya dia harus menenangkan hati dan pikiran yang sudah rusak parah karna Niki.
"Kau lagi, ngapain sih cari gara-gara di sini? Ayo, ikut aku!"
Devan menarik paksa tangan Valdo untuk menjauh dari Justin, walaupun laki-laki itu memberontak minta dilepaskan.
__ADS_1
"kenapa kau memarahiku? Bukan aku yang salah, tapi laki-laki itu! Beraninya dia mengganggu wanitaku!"
"aku bukan hanya akan memarahimu, tapi juga akan memnunuhmu! Jadi, tutup mulutmu itu!"
"Cih!"
Valdo mencebikkan bibirnya dengan kesal, dia kecewa karna Devan lebih membela Justin dari pada dirinya.
Dari kejauhan, Amora terus memperhatikan apa yang Justin lakukan. Dia mengulas senyum dibibirnya saat menyadari sesuatu, yang mungkin saja saat ini sedang dirasakan oleh sekretarisnya itu.
"Apa kau menyukainya, Kak? Kalau aku bertanya, kau pasti tidak akan menjawabnya!"
Amora memilih untuk diam saja, karna dia sendiri sangat tau bagaimana sifat Justin tentang hal seperti ini.
Setelah kegaduhan yang terjadi, mereka semua lalu menikmati makanan yang sudah matang dengan sempurna. Tentu dengan ditemani oleh beberapa botol minuman, yang berhasil membuat mereka semua jadi mabuk.
Beberapa jam kemudian, semua orang sudah terkapar di tempat mereka masing-masing. Hanya tinggal Amora dan Justin sajalah yang masih sadar, karna mereka berdua hanya minum beberapa gelas saja.
"Nona, lebih baik kita pulang sekarang!"
Amora melirik ke arah jam yang melingkar ditangannya, hari sudah sangat malam dan mereka memang harus segera pulang.
"Baiklah! Tapi, bagaimana dengan Devan?"
Amora menunjuk ke arah Devan yang sudah mabuk berat di atas pangkuannya, dan entah kenapa laki-laki itu bisa berada dalam posisi seperti itu.
"ini apartemen temannya, Nona! Jadi tidak masalah kalau-"
"Maaf jika saya menyela, tapi biar saya saja yang mengurus Devan!"
Amora dan Justin langsung melirik ke arah samping, rupanya Lidya lah yang sedang bicara dengan mereka.
"Tidak perlu repot-repot, aku bisa mengurus kekasihku!"
Amora langsung menyuruh Justin untuk membawa Devan bersama mereka, dia tidak boleh merepotkan mantan istri laki-laki itu.
"Tapi aku juga masih menjadi istri sahnya, aku lebih berhak untuk mengurusnya!"
Amora menatap Lidya dengan tajam dan dibalas dengan tak kalah tajam dari wanita itu, sepertinya kali ini gilaran mereka yang mengibarkan bendera perang.
•
•
__ADS_1
•
Tbc.