Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 32. Penyerangan.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Amora menggeliatkan tubuhnya dan pura-pura bangun membuat Lucas langsung memasukkan flashdisk yang ada ditangannya ke dalam saku.


"Duuh, kepalaku pusing sekali!"


Amora segera beranjak duduk dan membangunkan Devan, sementara Lucas langsung berdiri dan mendekati mereka.


"Kalian sudah bangun?"


Amora mendongakkan kepalanya dan tersenyum ke arah Lucas. "Ya, sekarang kami mau kembali ke kamar. Maaf karna sudah ketiduran di sini!"


Lucas ikut tersenyum dan duduk di samping Amora. "Tidak masalah, apa mau saya antar?"


"Tidak perlu, Tuan!"


Amora segera memeluk tubuh Devan yang sepertinya masih setengah sadar. "Sayang, ayo kita kembali ke kamar!"


Devan menganggukkan kepalanya, kemudian dia bangun dan berjalan sempoyongan dengan memeluk tubuh Amora.


Lucas mengantarkan kepergian mereka sampai di depan pintu kamarnya, dia tetap menatap punggung mereka lekat-lekat sampai sudah tidak terlihat lagi.


"Gadis itu benar-benar mirip dengannya, aku harus segera mencari tau siapa dia sebenarnya! Aku merasa pertemuan kami bukan sesuatu yang tidak disengaja!"


Lucas lalu kembali masuk ke dalam kamar, dia sudah tidak sabar ingin melihat file yang ada dalam ponsel Devan dan juga Amora.


Sementara itu, Amora dan Devan yang sudah sampai di dalam kamar langsung merebahkan diri di atas ranjang. Bahkan Devan langsung memejamkan matanya saat mencium bantal, sepertinya dia benar-benar tidak kuat untuk menahan kasadarannya.


Amora sendiri langsung beranjak ke dalam kamar mandi, dia langsung menyiram kepalanya dengan air dingin agar sadar 100%.


"Anggur itu efeknya benar-benar luar biasa, sebenarnya dicampur apa sih?"


Amora benar-benar mengakui kehebatan anggur buatan Lucas, bahkan dia saja sampai miring-miring setengah mati menahan rasa mabuk, ngantuk dan pusing secara bersamaan.


Setelah merasa lebih segar, Amora keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja. Dia segera mencari pakaiannya dan memakainya tepat di hadapan Devan, setelah itu dia berjalan ke balkon untuk menikmati angin malam.


Begitu Amora pergi, Devan segera membuka kedua matanya dengan wajah merah padam. Dia yang berniat bangun untuk buang air kecil, terpaksa pura-pura tidur saat melihat wanita itu hanya memakai handuk saja.


Dia pikir Amora akan kembali ke kamar mandi setelah mengambil pakaian, tapi siapa sangka kalau wanita itu malah memakai pakaian tepat di hadapannya.


Sekuat tenaga Devan menahan hasratnya saat melihat tubuh mulus Amora, dia lalu memejamkan matanya kuat-kuat dan enggan untuk melihat lagi.

__ADS_1


"Kalau sekali lagi kau seperti itu, aku bersumpah kalau aku akan langsung memakanmu!"


Itulah janji Devan, dia benar-benar sudah habis kesabaran melihat semua tingkah Amora. Wanita itu benar-benar menguji imannya, seakan-akan sengaja ingin mempermainkan napsu birahinya.


***


Tepat pukul 8 pagi, Devan dan Amora sudah menaiki pesawat untuk kembali ke negara mereka. Selama diperjalanan, mereka saling mengobrol layaknya seorang teman atau sahabat.


Terkadang mereka sama-sama tidur, lalu bangun dan kembali ngobrol. Kepergian itu sepertinya membuat hubungan mereka semakin baik, Amora bahkan terlihat jauh berbeda dari sebelumnya.


Beberapa jam kemudian, pesawat mereka sudah sampai di bandara. Mereka segera turun dan berjalan cepat ke tempat mobil Devan berada, tepatnya mobil Amora yang dia berikan pada lelaki itu.


"Apa mau langsung pulang?"


Devan melihat sekilas ke arah Amora, lalu fokus kembali ke arah jalanan yang sedang padat dan panas.


"Em ... aku ingin pergi ke suatu tempat!"


Entah karna pengaruh pura-pura jadi gadis manis dan manja di depan Lucas, atau karna apa, yang pasti saat ini Amora terlihat seperti gadis seumurannya.


"Baiklah, katakan saja kau mau ke mana!"


Amora menganggukkan kepalanya, dia lalu mengatakan kalau ingin menemui Papanya membuat Devan langsung tancap gas.


"Kau mau apa?"


Amora tampak bingung, dia tidak tau kenapa Devan mengajaknya ke toko bunga. Padahal dia ingin berziarah ke makam sang Papa.


"Em ... Papamu suka bunga apa?"


Amora mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan Devan. "Papa gak suka bunga!"


Devan tercengang mendengar jawaban Amora. "Maksudnya, saat kau mengunjungi Papamu, bunga apa yang biasa kau bawa?"


"aku gak pernah bawa bunga!"


"Apa?"


Devan menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Amora, sementara para karyawan yang ada di tempat itu tersenyum geli melihat pertengkaran mereka.

__ADS_1


Akhirnya para karyawan itu yang memilihkan bunga untuk Devan, dan mereka pun akhirnya keluar dari toko bunga itu.


Tidak berselang lama, sampailah mereka ke tempat tujuan. Amora dan Devan segera turun dari mobil, mereka lalu berjalan menuju makam Papa Amora


"Papa, aku datang!"


Amora meletakkan buket bunga yang Devan beli tadi di atas pusara sang Papa. "Aku juga datang bersama kekasihku, dia laki-laki baik."


Amora tersenyum, dia lalu melirik ke arah Devan yang sepertinya sedang khusyuk mendo'akan Papanya.


"Apa kita ke makam Mamamu juga?"


Deg, Devan langsung menutup mulutnya karna sudah kelepasan bicara sementara Amora hanya diam sambil menatap pusara sang Papa.


"Amora, aku, aku tidak-"


"Ayo, kita harus segera pulang!"


Amora langsung bangun dan berjalan ke arah mobil mereka, dan semua itu membuat Devan menghela napas kasar.


Dari kejauhan, seorang penembak jitu sedang mengarahkan senjatanya ke tubuh Amora. Merasa sudah pas, dia lalu menarik pelatuknya saat melihat ada kesempatan.


Amora yang akan masuk ke dalam mobil mengurungkan niatnya saat menyadari sesuatu, dia sedikit melirik ke arah samping tanpa memalingkan wajah.


Dor!


Tiba-tiba suara tembakan menggema di tempat itu, membuat suasana yang tadinya hening berubah menjadi sangat mencekam.


Penembak itu kemudian berlari menjauh dari tempat itu sebelum mereka melihat keberadaannya.


Sementara itu, Amora dan Devan sedang terkapar di atas tanah akibat tembakan yang baru saja melesat. Untung Amora lebih dulu menyadarinya, jika tidak mungkin dia sudah tidak bernapas lagi saat ini.


"Kau, kau tidak apa-apa kan?"


Devan merasa sangat khawatir, dia lalu memeluk tubuh Amora dengan erat membuat gadis itu merasa sesak.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2