Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 96. Pertentangan Aula Pesta.


__ADS_3

Niki tercengang dengan apa yang mereka katakan. "Ke-kenapa aku harus diukur lagi? Aku sudah mendapat baju dari nona Amora tadi." Dia merasa bingung kenapa harus pakai diukur segala.


"Maaf, Nona. Kita sudah tidak punya banyak waktu." Mereka lalu menarik tangan Niki dan membawanya masuk ke dalam mobil membuat Niki berteriak ketakutan.


"Lepaskan aku! Tolong, tolong." Niki berusaha untuk melepaskan diri, dia mengira kalau mereka adalah orang-orang jahat yang akan menculiknya.


Suara teriakan Niki menggema di tempat itu, membuat pengurus yayasan serta anak-anak panti asuhan bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Ibu, tolong aku. Mereka akan menculikku!" teriak Niki yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Ya Allah, Niki." Ibu pengurus panti dan semuanya segera berlari ke arah mobil di mana Niki berada, tetapi mobil itu sudah melaju kencang.


Kemudian beberapa orang mencoba untuk menenangkan mereka dan menjelaskan apa yang sedang terjadi, mereka bahkan menghubungi Justin dan melakukan video call agar orang-orang panti percaya.


"Saya kira Niki diculik, Tuan. Walaupun dia cerewet, kecil dan tidak secantik nona Amora, tapi dia sangat baik dan juga pekerja keras," ucap Ibu pengurus panti dengan lengkap.


Justin tersenyum tipis mendengar ucapannya. "Maaf karena sudah membuat keributan, Bu. Niki akan langsung dibawa ke hotel, jadi besok akan ada mobil yang datang untuk menjemput Ibu juga semua anak panti."


Ibu pangurus itu kemudian mengucapkan banyak terima kasih pada Justin, dan dia tidak menyangka kalau anak-anak pantinya mendapat jodoh orang-orang besar dan sukses.


Niki yang sudah berada di dalam mobil tampak diam mendengarkan salah satu dari wanita yang ada di dalam mobil. Wanita itu mengatakan bahwa dia seorang desainer, dan menunjukkan beberapa model gaun padanya.


"Kami sudah memilih kain dan warna yang sangat cantik dan cocok untuk Nona. Jadi, apa Nona sudah menemukan model gaun yang Anda sukai?" tanya wanita itu.


"Sebenarnya ada apa ini? Aku hanya akan menjadi penggiring pengantin wanita, dan bukannya menjadi pengantin. Apa aku akan menikah?"

__ADS_1


Glek.


3 orang wanita yang ada di dalam mobil itu menelan salive mereka dengan kasar. "Jika Anda tidak percaya, Anda bisa menghubungi nona Amora, Nona."


Niki berdecak kesal dengan apa yang wanita itu katakan. "Baiklah, terserah kalian mau melakukan apa. Mau mengukurlah, buat bajulah. Sampai mau jual aku pun terserah, terserah." Niki beralih diam dan pasrah dengan semuanya. Kalau pun dia diculik dan dijual, maka dia tidak akan sedih karena sudah mengungkapkan cintanya.


"Cih. Kau pasti menyesal karena sudah mengabaikanku, Justin. Lihat saja, kau pasti akan merindukanku saat aku sudah dijual."


Sementara itu, di tempat lain terlihat Justin dan Amora sedang berdebat tentang aula pesta yang akan mereka gunakan.


"Aku tidak mau tau! Pokoknya pernikahan kalian harus dijadikan satu dengan pernikahanku, titik!" ucap Amora dengan penuh penekanan membuat kepala Justin langsung berdenyut sakit.


Bagaimana tidak, semua dekorasi sudah terpasang di aula itu dan hampir 80% semuanya selesai. Namun, Amora meminta kalau pernikahan itu dijadikan satu dengannya.


Pihak WO benar-benar menangis darah dengan apa yang mereka lakukan, bahkan desainer juga mengibarkan bendera putih tanda menyerah karena bekerja seperti sedang dikejar-kejar oleh setan.


Jika mereka melakukan kesalahan, maka harus siap menanggung kebangkrutan atas usaha mereka. Benar-benar sangat sakit sekali dalam mencari uang.


"Robohkan saja dindingnya." Lucas yang sejak tadi bersama mereka angkat suara, dia merasa bosan mendengar pertengkaran mereka. Bahkan Devan dan Samy saja memilih untuk bermain game dari pada mengurus mereka.


Mendengar ucapan Lucas, Amora dan Justin sama-sama melihat ke arah dinding yang ada di hadapan mereka. Kedua aula yang akan mereka gunakan memang hanya dipisah oleh dinding saja, dan tidak ada ruangan lain yang ada di antaranya.


Justin berbalik dan langsung menjalankan apa yang Lucas katakan, karena memang itulah satu-satunya jalan tengah yang harus di ambil.


"Tunggu, mau ke mana dia?" Lucas menatap kepergian Justin dengan heran.

__ADS_1


"Tentu saja untuk melakukan apa yang Papa katakan tadi. Tapi, untuk menghancurkan dinding ini juga tidak mudah. Salah-salah, seluruh gedung ini akan hancur."


Lucas menganggukkan kepalanya. "Papa tidak menyangka kalau Justin akan langsung melakukannya. Tapi kau tenang saja, tidak ada pekerjaan yang tidak bisa Justin selesaikan. Apalagi ini untuk pernikahan kalian."


"Papa benar. Sekarang semuanya sudah selesai, dan hanya tinggal aula ini saja."


Mereka lalu keluar dari aula itu dan kembali ke kamar masing-masing, karena memang mereka semua sudah berada dihotel itu.


****


Setelah segala persiapan yang super dadakan dan membuat banyak pihak menangis darah, akhirnya semua persiapan itu telah 100% selesai dan hari ini pernikahan akan segera dilaksanakan.


Amora tampak sangat cantik dalam balutan gaun berwarna putih, yang sangat kontras sekali dengan kulinya. Gaun model sabrina itu sangat mewah dan cantik sekali di tubuhnya, gaun itu menjuntai panjang sampai ke lantai dengan belahan sampai ke paha membuat kakinya yang jenjang terlihat sangat seksi.


"Kau cantik sekali, Sayang," ucap Samy yang setia berada di sisi sang adik.


Wajah Amora bersemu merah saat mendengar pujian dari Samy. "Terima kasih, Kak. Aku benar-benar bahagia sekali hari ini."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2