Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 66. Biarkan Semua Berlalu.


__ADS_3

Devan dan Amora masih terdiam di tempat itu melihat kepergian Lidya, entah apa yang terjadi tapi sepertinya suasana akan sangat canggung nanti.


"ayo-"


"apa kau baik-baik saja?"


"Hah?"


Devan tercengang saat mendengar pertanyaan Amora, seharusnya dia yang menanyakan semua itu padanya. Tapi kenapa malah wanita itu yang bertanya?


"Amora, aku tidak apa-apa! Bagaimana denganmu? Apa kau nyaman saat ada dia?"


Amora menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Memang apa masalahnya denganku? Aku tidak ada masalah apapun dengannya!"


"Baguslah!"


Devan tersenyum cerah, dia lalu mengajak Amora dan Justin untuk masuk walau sejak tadi laki-laki itu diam memperhatikan mereka.


Kini semua orang sudah hadir dipesta sederhana itu, tetapi suasananya benar-benar sangat canggung sekali. Bagaimana mungkin sepasang suami istri yang sedang dalam proses cerai, serta kekasih dari sang suami ada di satu acara? Rasanya semua orang ingin menangis darah saat melihatnya.


"Kenapa semuanya diam? Ayo, kita mulai pestanya!"


Niki dan Valdo segera menghidupkan musik untuk menghilangkan kecanggungan yang sedang terjadi, mereka tidak ingin ada yang merasa sedih malam ini walaupun situasi sangat membangongkan.


"Dasar gila! Kenapa kau mengundang Lidya juga sih?"


Devan menarik tangan Valdo yang akan mengikuti langkah Niki, membuat laki-laki itu menatapnya dengan heran.


"memang apa salahnya? Biar bagaimana pun, dia tetap teman kita, Dev!"


"Aku tau, hanya saja ini sangat canggung sekali untuk kami! Aku juga tidak enak dengan Amora, aku takut dia merasa tidak nyaman!"


Devan hanya mengkhawatirkan kondisi Amora, dia tidak ingin terjadi keributan di antara mereka.


"Kenapa kau harus khawatir? Amora tidak selemah itu, dan kau tau! Bukan Amora yang akan merasa tidak nyaman, tapi Lidya! Aku tidak berniat jahat padanya, aku hanya ingin membuka matanya bahwa dia telah menyia-nyiakan orang yang sangat mencintainya! So, have fun!"


Valdo menepuk bahu Devan lalu menjauh dari tempat itu, Devan sendiri hanya bisa menghela napas kasar lalu kembali bersama Amora.


Keceriaan Niki benar-benar membuat suasana menjadi meriah, ditambah dengan kegilaan Valdo. Mereka berdua benar-benar seperti paket komplit.


Ada sekitar 10 orang yang berada di tempat itu, ada yang sibuk memanggang, bernyanyi, bahkan ada yang sibuk dengan dunianya sendiri.


"Apa kau pernah memanggang seperti ini?"


Amora menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi aku sering memakannya!"


"Jadi, taumu cuma makan saja ya!"


Devan tergelak melihat raut wajah Amora yang berubah masam, walaupun hanya terlihat 5% saja.

__ADS_1


"aku bisa memanggang roti!"


"Benarkah?"


Amora kembali mengangguk dengan semangat. "Aku akan membuatkannya saat kau datang ke rumah!"


"Aah, sepertinya aku akan menjadi laki-laki paling beruntung yang bisa menikmati roti buatanmu!"


Blush, wajah Amora langsung merona saat mendengar ucapan Devan, dan tentu saja Devan sangat terkejut saat melihatnya.


"Ini momen yang sangat langka, harus segera diabadikan!"


Devan segera mengambil ponselnya untuk mengambil fotonya dan Amora, dia juga baru ingat kalau mereka tidak pernah berfoto sama sekali.


"Ayo, senyum!"


Klik, klik, klik. 3 buah foto sudah berhasil, dan hasilnya benar-benar sangat cantik sekali.


"Ayo, sekali lagi!"


Sepertinya jiwa narsis Devan mulai meronta-ronta, dia mengambil banyak foto walaupun bilangnya cuma sekali lagi.


Cup. Tiba-tiba Amora mengecup pipi Devan saat foto terakhir diambil, sontak hal itu langsung membuat Devan membeku.


"Lihat, hasilnya bagus!"


Amora tersenyum senang saat melihat hasil foto mereka, sementara Devan menatapnya penuh bahagia karna merasa beruntung bisa bertemu dengan wanita seperti Amora.


Namun, dia terpaksa mengurungkan niatnya itu saat melihat Amora. Suasana pasti akan menjadi sangat tidak nyaman kalau dia mendekati mereka, walaupun ada rasa sakit dihatinya saat melihat kedekatan dua orang itu.


"Ternyata rasanya sangat sakit, aku tidak tau kalau rasanya akan sesakit ini, Devan!"


Lidya berusaha untuk menahan air matanya, tanpa dia sadari saat ini Valdo sedang berdiri di sampingnya.


"Semua yang sudah hilang, memang tidak akan pernah kembali lagi!"


Lidya mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang sedang bicara, dia lalu mencoba untuk mengulas senyum saat melihat keberadaan Valdo.


"kau tidak apa-apa?" tanya Valdo.


"Ah, ya. Aku baik-baik saja, terima kasih karna sudah mengundangku!"


Valdo menganggukkan kepalanya. "Kenapa harus berterima kasih? Kau itu temanku, sudah pasti aku akan mengundangmu!"


Lidya merasa senang karna laki-laki itu masih menganggapnya teman setelah apa yang terjadi antara dia dan Devan, walaupun rasa malu menghantuinya.


"Jangan samakan antara pekerjaan dan urusan pribadi, Lidya! Aku memang pengacara Devan untuk kasus perceraian kalian, tapi aku masih tetap menjadi temanmu!"


Valdo merangkul bahu Lidya untuk memberikannya semangat. "Aku mengundangmu ke sini, bukan karna ingin menyakitimu. Tapi sebaliknya, aku ingin memunjukkan kalau kami masih tetap menjadi temanmu! Biarlah masalahmu dan Devan hanya terjadi di antara kalian saja, dan kami berharap, agar kalian mendapat kebahagiaan masing-masing!"

__ADS_1


Lidya menganggukkan kepalanya lalu memeluk tubuh Valdo dengan erat, air mata yang sejak tadi ditahan kini sudah tumpah membasahi wajah.


"Terima kasih, terima kasih atas perhatian kalian semua!"


Keharuan benar-benar terjadi di antara mereka, dan sangat berbanding terbalik dengan seseorang yang sedang duduk disudut rooftop.


Siapa lagi jika bukan Justin, dia tetap sibuk dengan dunianya sendiri. Sesekali matanya akan melirik ke arah Amora, untuk memastikan kalau Nonanya baik-baik saja.


Niki yang melihatnya tentu tidak tinggal diam, dia mengambil makanan yang sudah matang dan membawanya untuk laki-laki itu.


"silahkan dinikmati, Tuan!"


"Tidak perlu!" Baru saja makanan itu terletak di atas meja, tetapi sudah ditolak oleh Justin.


"Tidak boleh menolak rezeki, Tuan!"


Justin diam dan enggan untuk menanggapi ucapan Niki, matanya tetap fokus ke arah laptop yang ada di atas pangkuannya.


"Coba sedikit saja, Tuan! Pasti Tuan akan menyukainya!"


Laki-laki itu tetap saja keras kepala, tetapi Niki jauh lebih kepala batu dan terus mencari cara agar Justin mau memakannya.


"Tuan yang tampan dan baik hati, silahkan makan-"


"Hentikan! Aku sudah bilang ka- houp!"


Niki langsung memasukkan potongan daging ke dalam mulut Justin, membuat laki-laki itu membulatkan matanya.


"Bagaimana? Enakkan, Tuan!"


Justin langsung menelan daging itu yang entah sudah dikunyah atau belum, dia menggeram kesal dengan Niki yang selalu saja mengganggunya.


"pergi dari sini!" usir Justin, dia tidak punya waktu untuk meladeni wanita itu.


"Tuan, wajah anda sangat tampan! Sayang sekali anda tidak memanfaatkannya dengan baik! Ck, ck, ck!"


Niki menggeleng-gelangkan kepalanya, sayang sekali aset lelaki itu karna tidak mau tersenyum sama sekali.


"andai Tuan tersenyum, pasti aku akan langsung jatuh cinta!"


"benarkah?"


"Hah?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2