Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 71. Tantangan Lucas.


__ADS_3

Saat ini, Justin sudah sampai di depan rumah Lucas. Terlihat laki-laki paruh baya itu sedang berdiri tepat di halaman rumah seolah-olah sedang menyambut kedatangannya.


Dia segera keluar dari mobil dengan diikuti oleh 6 orang anak buahnya, mereka berjalan cepat ke arah Lucas dan anak buah laki-laki paruh baya itu.


"Ternyata kalian tidak sehebat yang aku dengar ya, padahal sudah lama aku di sini, tapi kalian tidak mengetahuinya!" Lucas tersenyum miring, dan itu tampak sangat mengerikan sekali dimata anak buahnya.


"Ternyata anda juga tidak sekuat yang saya dengar ya, Tuan! Bisa-bisa nya anda sembunyi-sembunyi seperti tikus!" Justin membalas sindiran yang Lucas katakan, dan kata-katanya itu membuat Lucas tertawa.


"Kadang orang kuat juga harus sembunyi, agar orang yang disayang tidak terluka!" Lucas mempersilahkan Justin untuk masuk, tetapi laki-laki itu tidak beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.


"saya tidak suka basa-basi, untuk apa anda datang ke negara ini?" tanya Justin dengan tajam, bukan hanya kata-katanya saja yang tajam tetapi juga tatapan matanya.


"Memangnya ada larangan untukku datang ke sini?"


Justin mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Lucas, apalagi melihat gayanya yang santai itu. Sungguh dia ingin sekali memukul wajahnya.


"saya rasa anda paham dengan apa yang saya katakan!"


"Ah, ya. Tentu saja aku paham, Justin Gilbert!"


Justin sudah tidak heran lagi kalau laki-laki paruh baya itu mengetahui nama panjangnya, karna memang dia sudah melanglang buana di seluruh dunia.


"Jadi, bagaimana kabar Nona mudamu? Apa Amora Charleine baik-baik saja?"


Deg. Rahang Justin mengeras saat mendengar Lucas menyebutkan nama Amora, bahkan tangannya sudah masuk ke dalam saku untuk menarik pistolnya dari sana.


"Kenapa kau terlihat marah? Kau tidak berpikir kalau aku tidak tau nama majikanmu itu kan? Ah, ya. Apalagi dia sudah banyak menyerangku, aku benar-benar ingin bertemu dengannya saat ini juga!"


Grep!

__ADS_1


Justin langsung mencengkram kerah kemeja Lucas membuat semua anak buah laki-laki paruh baya itu mengangkat senjata mereka. Begitu juga dengan anak buahnya, mereka kini saling menodongkan senjata.


"Lepaskan Tuan atau ku bunuh kau!"


Lucas mengangkat tangannya untuk menenangkan anak buahnya, dia ingin lihat sampai sejauh mana perbuatan Justin padanya.


"Jangan berani-beraninya menemui Nonaku, atau aku sendiri yang akan menghancurkanmu!" Justin langsung menghempaskan tubuh Lucas walaupun laki-laki paruh baya itu tetap berdirih kokoh.


"Lucu, kalian lucu sekali! Kalian ingin membalas dendam padaku tanpa alasan, benar-benar anak muda yang tersesat!" Lucas mengusap kemejanya seolah-olah menghilangkan jejak tangan Justin.


"Jangan menjadi manusia munafik, Lucas! Kau sendiri tau kenapa kami ingin mengghancurkanmu!"


Lucas mengangguk-anggukkan kepalanya. "Benar, tentu saja Nonamu itu ingin balas dendam karna kematian Simon! Padahal dia tidak tau, bahwa Ayahnya itulah yang menghancurkan semuanya!"


Deg. Justin terdiam mendengar ucapan Lucas, tetapi dia tidak bereaksi apa-apa untuk menunggu apa yang ingin laki-laki paruh baya itu katakan.


"Ah, Alice. Aku jadi merindukanmu setiap kali mengingat masa lalu, hatiku seakan mati saat ini juga!" Lucas mendudukkan tubuhnya dikursi yang ada di tempat itu, dia lalu melihat ke arah samping rumah di mana bunga-bunga kesukaan wanita itu berada.


"Katakan pada Nonamu itu, mari kita selesaikan semua ini! Aku sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama, kalau kalian memang ingin membunuhku. Maka kerahkan seluruh kekuatan kalian, atau malah aku yang akan membunuh kalian semua!"


Justin sedikit terkejut mendengar ucapan Lucas, dia tidak menyangka kalau laki-laki paruh baya itu menantang mereka secara terang-terangan.


"Bagaimana? Apa kau tidak berani menerima tawaranku?"


Mata Justin berkilat marah, berani sekali laki-laki itu merendahkan mereka. "Aku akan menghubungimu!" Sebenarnya Justin ingin langsung mengiyakan tantangan Lucas, tetapi hanya Amora lah yang berhak untuk memutuskannya.


"Baik, aku akan menunggunya! Tapi, sebelum kita bertemu dimedan perang, katakan pada Nona mudamu untuk mencaritahu hubungan antara aku dan kedua otangtuanya! Dan jangan lupa, kenali ayahnya sendiri seperti apa!"


Walaupun merasa bingung dan tidak mengerti, tetapi Justin tetap menganggukkan kepalanya. Dia lalu berbalik dan segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Maafkan Papa, Samy! Semua ini harus terjadi, karna kalau tidak sekarang pun, adikmu itu akan tetap menyerang Papa! Mari kita lihat, siapa yang akan keluar hidup-hidup dari pusara balas dendamnya itu!"


Lucas terus melihat ke arah mobil Justin yang sudah menjauh dari tempat itu, dia lalu mengajak semua anak buahnya untuk mengatur strategi melawan Amora.


Pada saat yang sama, Amora dan yang lainnya sedang menikmati sarapan. Suasana tampak hening, hanya suara sendok yang berbenturan dengan piring saja yang terdengar di tempat itu.


Niki terus melihat ke arah Amora yang sedang menikmati makanan, entah kenapa cara makan wanita itu tampak elegan sekali dimatanya.


"Apa kau bisa kenyang karna menatapku?"


Niki langsung gelagapan, dengan cepat dia menundukkan pandangannya dan memakan saparan yang belum tersentuh di hadapannya.


Samy dan Devan yang tidak tau apapun hanya saling pandang saja, sementara Amora tersenyum tipis melihat kepanikan Niki.


Tidak berselang lama, datanglah Justin ke tempat itu membuat semua perhatian tertuju padanya. Termasuk Niki, dia tersenyum lebar ke arah laki-laki itu.


"Kakak dari mana?"


Justin berjalan terus sampai di samping Amora, dia lalu menundukkan kepalanya pada wanita itu. "Saya ada pekerjaan diluar, Nona!"


"Baiklah, ayo kita sarapan!"


Justin langsung duduk di samping Samy dan tepat di hadapan Niki, tetapi laki-laki itu tidak melihatnya sedikitpun.


"Apa dia pikir aku ini cuma butiran debu yang tidak terlihat?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2