
Devan tercengang mendengar ucapan Amora, sementara wanita itu kembali menikmati makanannya seperti tidak habis mengucapkan sesuatu.
Tanpa membalas pesan Niki, Devan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, dan menikmati makanan yang berubah rasa menjadi hambar.
Setelah selesai, mereka berdua kembali ke dalam kamar. Namun, tiba-tiba ada seorang lelaki yang memanggil mereka berdua.
"Tuan Lucas?"
"Ya Tuan Devan, apa saya mengganggu kalian?"
Devan melirik ke arah Amora yang sedang menggelengkan kepala. "Memangnya ada apa, Tuan?"
"ah, saya hanya ingin mengundang kalian ke kamar saya. Anggap saja sebagai salam perpisahan!"
"Tuan akan pergi?"
Lucas menganggukkan kepalanya. "Ya, saya akan kembali ke Negara saya. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi!"
Devan lalu bertanya pada Amora apakah mau memenuhi undangan Lucas atau tidak.
"Boleh saja, tapi tidak bisa terlalu lama soalnya kami juga harus bersiap!"
Lucas menganggukkan kepalanya, lalu dia menyebutkan nomor kamarnya dan menyuruh mereka untuk datang pada pukul 8 malam.
"apa itu tidak terlalu beresiko, Nona?" tanya Devan setelah mereka masuk ke dalam kamar.
"Itu memang sangat beresiko, tapi sesuatu yang beresiko itu akan membawa hasil yang lebih baik!"
Devan mencoba untuk mencerna apa yang Amora katakan, dan raut wajahnya itu membuat wanita itu tersenyum tipis.
"A-ada apa, Nona?"
Devan kaget karna melihat Amora tiba-tiba senyum, walaupun wajah wanita itu terlihat lebih cantik saat tersenyum.
"Tidak ada, aku hanya suka saja melihat wajahmu!"
Blush, wajah Devan langsung memerah saat mendengar ucapan Amora. Dia berusaha untuk memalingkan wajahnya yang terasa panas, sementara Amora hanya tersenyum saja saat melihatnya.
"Benar-benar deh! Kenapa Nona seperti itu sih, lama-lama aku tidak bisa lagi menahan diri!"
Devan lalu mengambil koper dan mengepak barang-barang mereka karna besok sudah waktunya pulang, dia mencoba untuk mengalihkan pikirannya dari Amora.
***
__ADS_1
Tepat pukul 8 malam, Devan dan Amora segera datang ke kamar Lucas yang langsung disambut ramah oleh lelaki itu.
"Silahkan masuk, maaf saya hanya bisa menyediakan makanan dan minuman seperti ini saja!"
Devan dan Amora segera duduk di tempat yang sudah disediakan, saat ini mereka semua sedang berkumpul dibalkon sambil menikmati langit malam.
"Sebentar, aku mau ambil sesuatu!"
Lucas beranjak bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar, ekor mata Devan terus mengikuti ke mana laki-laki itu pergi.
"Cukup pastikan kalau kau tetap sadar nanti, karna dia tidak akan berani melakukan sesuatu saat kita masih sadar!"
Devan menganggukkan kepalanya, tidak berselang lama Lucas kembali bergabung bersama mereka dengan membawa sebuah kotak beludru berwarna biru.
"Saya melihat sesuatu yang cantik saat sedang jalan-jalan, saya pikir itu akan sangat cocok untuk sepasang kekasih seperti kalian!"
Lucas meletakkan kotak beludru itu ke atas meja, dan meminta Devan untuk membukanya. Dengan sigap Devan membuka kotak itu, dan menampakkan sebuah cincin pasangan yang sangat indah dengan bertahtakan berlian.
"Saya harap kalian mau menerimanya!"
Amora mengambil cincin itu membuat Devan melihat ke arahnya, dia lalu tersenyum saat mengetahui sesuatu.
"Tapi cincin ini sangat mahal, saya merasa tidak pantas untuk menerimanya!"
"Tidak, itu hanya hadiah kecil saja!"
Lucas mengibas-ngibaskan tangannya untuk membantah ucapan gadis itu. "Kalian benar-benar cocok memakainya!"
Devan hanya tersenyum saja untuk menanggapi ucapan Lucas, dia hanya perlu mengikuti apa yang Amora katakan.
"Cincin itu benar-benar bagus, tapi saya lebih senang saat menerima pemberian dari kekasih saya!"
Amora memeluk lengan Devan membuat lelaki itu tegang, sementara Lucas merasa gemas melihat interaksi sepasang kekasih itu.
"Ooh, ayolah! Anggap saja saya sebagai kakak kalian, jadi seorang kakak kan biasa memberi hadiah untuk adik-adiknya!"
Amora tersipu malu, tapi tentu saja semua itu sengaja dibuat-buat agar dia menjadi gadis manis di mata Lucas.
"Sayang, apa kau menerimanya?"
Amora mengedipkan sebelah matanya, tetapi tangannya mulai menyusup ke paha Devan membuat lelaki itu semakin tegangan tinggi.
"I-itu terserahmu saja, Sayang! Aku ikut pilihanmu!"
__ADS_1
Wajah Devan sudah merah bak kepiting rebus saat tangan Amora tidak sengaja menyenggol asetnya yang sudah tegak berdiri, sementara wanita itu tetap saja mengulurkan tangannya seperti hendak meraih sesuatu.
"Dapat!"
Amora segera menempelkan alat perekam tepat di sudut meja yang paling dekat dengan Lucas, dia lalu kembali menariknya dan terkejut saat menyentuh sesuatu yang keras dan berkedut.
"Hentikan!"
Lucas terkejut saat tiba-tiba Devan bersuara, sementara Amora melihatnya dengan bingung dan tetap melanjutkan apa yang sedang tangannya lakukan.
"maaf Tuan, sepertinya saya sudah-"
"Tidak Tuan, saya tidak sedang bicara pada anda. Tapi ... aargh, Amora!"
Devan mencengkram tangan Amora dengan kuat, membuat wanita itu terdiam. Sementara Lucas melihat mereka dengan bingung dan heran.
"Hentikan Amora, sebelum kau melihatku melewati batas!"
Amora tercengang mendengar bisikan Devan, untuk pertama kalinya laki-laki itu tidak berkata formal padanya.
Tangan mereka yang ada di bawah meja masih saling mencengkram, walaupun Amora sudah menariknya tetapi Devan masih tidak melepasnya.
"Devan, tanganku!"
Devan baru melepaskannya saat sudah merasa lebih tenang, dia lalu bangkit dan permisi ke kamar mandi sambil merapikan kemejanya agar adik kecilnya tidak terlihat.
Brak!"
"Si*al! Sebenarnya apa yang kau lakukan Amora? Kenapa kau terus menggoda imanku?"
Devan memejamkan kedua matanya mencoba untuk menekan hasrat yang sempat naik, kepalanya terasa pusing dengan semua yang Amora lakukan.
Bagaimana tidak, wanita itu menyenggol dan menyentuh asetnya sampai tegak berdiri. Bukan itu saja, Amora bahkan meremmasnya membuat Devan hampir lepas kendali.
"Kalau terus seperti ini, aku akan benar-benar memakanmu, Amora!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1