Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 59. Identitas Devan Yang Sesungguhnya.


__ADS_3

Setelah merasa tenang, Amora segara melepaskan pelukan Devan ditubuhnya. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung keluar dari ruangan itu membuat Devan terheran-heran.


"Amora, tunggu!"


Devan yang akan mengejar langkah Amora ditahan oleh Justin, laki-laki itu mencengkram lengannya hingga dia tidak bisa untuk bergerak.


"Sudah cukup, lebih baik kau pergi sekarang!"


Devan menatap Justin dengan tidak terima "Tidak, aku tidak akan pergi sebelum-"


"Cukup! Jangan menguji kesabaranku lagi, atau kau akan menerima akibatnya!"


Devan terdiam, sepertinya saat ini Justin benar-benar sedang menahan amarahnya. Mungkin kalau dia tetap memaksa, maka laki-laki itu akan langsung membunuhnya.


"Baiklah, aku tidak akan menganggu Amora! Tapi, bisakah anda menyampaikan sesuatu padanya?"


Tatapan Justin tidak surut, dan tetap menajam dengan kening mengkerut. Akan tetapi, dia tetap diam untuk mempersilahkan Devan mengatakan apa yang ingin disampaikan pada Amora.


"Tolong katakan pada Amora kalau aku akan menunggunya, sampai kapanpun!"


Devan menganggukkan kepalanya lalu beranjak pergi dari tempat itu, dia melangkahkan kakinya dengan gontai karna apa yang sedang terjadi saat ini.


Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang duduk bersama dengan kedua orangtuanya. Dia menundukkan kepalanya dengan isak tangis, menangisi sebuah kesalahan yang telah dia lakukan.


"Nak, Ibu dan Ayah tidak akan lagi melarang ataupun memarahimu! Jadi, kalau kau memang ingin bersama dengan laki-laki pilihanmu, maka kami akan mendukungnya!"


Lidya menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu! Dia, dia sudah tidak ingin bersamaku lagi!"


Kedua orangtua Lidya terlonjak kaget, baru beberapa hari yang lalu putri mereka mengatakan ingin bersama dengan kekasihnya, tetapi kenapa sekarang jadi begini?


"Apa yang terjadi, Lidya? Apa dia marah karna kau belum bercerai dengan Devan?"


Lidya terdiam, dia meremmas tangannya dengan kuat saat mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh sang Ayah.


"Kalau memang itu masalahnya, kau tenang saja. Devan sudah bilang kalau perceraian kalian sudah diproses, dan tidak sampai sebulan kalian sudah resmi berpisah!"

__ADS_1


Ucapan Ayah Pian diangguki oleh sang istri. "Itu benar, Nak! Jadi kalian tidak usah khawatir lagi, kami juga tidak akan menahan kalian!"


Mereka berdua tidak paham bagaimana sakitnya hati Lidya saat ini, lukanya seperti tersiram garam saat mendengar ucapan mereka.


"Ibu, Ayah! Dia meninggalkanku, dan pergi bersama wanita lain!"


"Apa?"


Kedua orangtua Lidya sangat terkejut dengan apa yang dia katakan, tanpa menunggu apa-apa lagi. Dia langsung saja menceritakan apa yang terjadi, dia berharap kalau kedua orangtuanya akan mengerti dan memberikan pelukan hangat untuknya.


Ayah Pian dan istrinya terdiam mendengar semua cerita Lidya, mereka hanya bisa menghela napas kasar dengan apa yang terjadi pada putri mereka itu.


"Kemari Nak, duduk di samping Ayah!"


Lidya langsung pindah tempat duduk di samping Ayahnya, tiba-tiba matanya kembali panas karna sudah lama dia tidak sedekat ini dengan Ayahnya sendiri.


"Ayah ikut sedih dengan apa yang terjadi padamu, dan Ayah tau kalau hatimu pasti sangat hancur dengan apa yang laki-laki itu lakukan!"


Tangan Ayah Pian merangkul tubuh Lidya membuat putrinya itu meletakkan kepala didada bidangnya yang masih gagah walau sudah termakan usia.


Lidya tidak mampu untuk mengucapkan apa-apa, rasa sesal kini menyusup dalam hatinya. Dia menyesal sudah jatuh cinta dan percaya pada Melano, hingga dia menyakiti orang-orang yang menyayanginya.


"Sudah, lupakan semua yang terjadi! Anggap saja semua ini sebagai pelajaran untukmu, karna kau telah menyakiti hati suamimu, Lidya!"


Tangisan Lidya semakin kencang terdengar saat Ayah Pian mengungkit tentang Devan, karna memang laki-laki itulah yang jauh lebih terluka atas apa yang terjadi saat ini.


"Ayah tau kalau saat ini kau sedang terluka, tapi apa kau tau, kalau luka dihatimu ini sama seperti luka yang kau goreskan dihati Devan?"


Suara Ayah Pian lirih terdengar, tapi menancap tepat diuluh hati Lidya. Bahkan Ibunya saja sudah terisak di depannya saat mengingat tentang Devan.


"Kau tau Lidya, kenapa selama ini kami selalu menyayanginya?"


Lidya langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sang Ayah, sementara Ayah Pian merasa kalau saat ini dia harus mengatakan siapa Devan sebenarnya.


"Lidya, Devan sebenarnya adalah sepupumu, anak dari kakak Ibumu!"

__ADS_1


Deg, Lidya tercengang saat mendengar fakta yang baru saja Ayahnya katakan. Dia lalu kembali sadar saat tangan sang Ibu menggenggam kedua tangannya.


"Itu benar, Nak! Devan adalah keponakanku, anak dari Kakakku yang malang!"


Lidya semakin terkejut saat mendengarnya, dia tidak menyangka kalau Devan adalah saudaranya sendiri.


"bagai, bagaimana bisa?" tanyanya dengan tergagap.


Kemudian wanita paruh baya itu menceritakan semua yang terjadi tentang Devan, yang juga baru dia ketahui saat Lidya menjalin hubungan dengan laki-laki itu.


Dulu, Ibu Mira punya seorang kakak perempuan bernama Ana. Dia wanita yang cantik dan sangat menarik, tetapi Ana memutuskan untuk pergi dari rumah dan merantau ke kota demi mencukupi kebutuhan keluarga.


Selama bertahun-tahun, tidak ada kabar sedikitpun tentang Ana membuat semua keluarga menjadi cemas. Lalu, Ibu Mira memutuskan untuk mencari kakaknya ke kota dan akan membawanya pulang.


Di kota itulah dia bertemu dengan Ayah Pian, yang bersedia untuk membantu mencari Ana. Beberapa bulan kemudian, barulah mereka menemukan Ana yang ternyata bekerja sebagai pelayan di sebuah klub malam.


Singkat cerita, mereka lalu kembali bersama sampai akhirnya Ana hamil tanpa suami. Ibu Mira dan Ayah Pian yang saat itu sudah menikah bersedia untuk merawat bayi Ana, tetapi pada saat anak itu berusia 2 tahun. Ana kembali membawanya pergi entah ke mana.


"Saat itulah kami terus mencari mereka, tetapi hanya Kak ana yang bisa kami temukan. Itupun, itupun dia sudah meninggal!"


Ya, mereka menemukan Ana yang katanya meninggal dalam sebuah kecelakaan bus. Namun, tidak disebutkan bahwa dia bersama dengan seorang anak kecil.


"sejak itu, kami terus mencari di mana anak Kak Ana. Sampai akhirnya, kami tau kalau anak itu adalah Devan!"


"Apa?"


Semua orang langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara seseorang, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Devan berdiri di sana.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2