
Sepertinya kesabaran Devan benar-benar sudah habis, apalagi pertahanannya terus diuji habis-habisan oleh Amora.
Tanpa pikir panjang lagi, dia segera menabrakkan bibirnya tepat kebibir Amora membuat wanita itu membelalakkan kedua matanya. Apalagi Devan bukan hanya mengecup, tapi juga melummat bibir seksi itu.
Amora terdiam dengan tubuh kaku, tangannya meremmas seprei tempat tidur dengan mata yang terus berkedip-kedip. Ada gelanyar aneh yang menjalar diseluruh tubuh, seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan diperutnya.
"Aargh!"
Amora memekik kaget saat tiba-tiba Devan menggigit bibirnya, sontak mulutnya langsung terbuka membuat lidah laki-laki itu menyeruak masuk ke dalam mulutnya.
Dia yang memang belum pernah sedekat ini dengan seorang lelaki hanya diam bak sebuah patung, sementara Devan terus menikmati bibir Amora yang benar-benar sangat nikmat.
Tiba-tiba Amora mendorong tubuh Devan membuat laki-laki itu tersadar dan melepaskan ciuman mautnya.
"Hah, hah, hah!"
Napas keduanya memburu seperti habis selesai perang, untuk beberapa saat mereka terdiam karna ingin menghirup oksigen banyak-banyak.
Setelah cukup tenang, Devan melirik ke arah Amora yang masih diam dengan pandangan lurus ke depan. Dia merutuki kesabarannya yang setipis kulit bawang, bisa-bisanya dia terbuai dengan keadaan sampai menikmati bibir Amora dengan sangat rakus.
"Dasar bod*oh! Apa yang sudah aku lakukan?"
Ingin sekali Devan berteriak sekencang mungkin untuk memaki kebod*ohannya, tetapi tidak mungkin dia melakukan semua itu saat ini.
"Kenapa kau melakukannya?"
Tubuh Devan tersentak saat mendengar ucapan Amora, dia lalu melirik wanita itu yang ternyata sudah duduk dan bersandar di sandaran ranjang.
"I-itu, itu, itukan karna kau yang memintanya!"
Devan mengalihkan pandangannya ke arah lain, entah kenapa dia tidak sanggup untuk bertatapan mata dengan Amora.
"aku memintamu untuk menciumku, bukan menggigit bibirku!"
"Hah?"
Devan tercengang saat mendengar ucapan Amora, dia lalu mengalihkan matanya untuk menatap wajah wanita itu.
__ADS_1
"Dan apa itu tadi, kenapa kau membelit lidahku?"
Devan semakin menatap Amora dengan cengo, bagaimana mungkin dia tidak menggigit bibir seorang wanita saat berciuman? Sedangkan ciuman itu adalah saling menabrakkan bibir masing-masing. Saling melummat, menghisap, mengulum dan sejenisnya.
Tentu dia juga akan membelit lidah wanita itu karna gairah yang semakin menggelora, dan semua itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa untuk dipisahkan.
"Kenapa kau diam? Apa kau mengakui kesalahanmu?"
Lamunan Devan berhenti saat mendengar suara Amora, dia lalu menghela napas kasar dan bangkit dari ranjang.
"Mau ke mana kau?"
Amora menahan tangan Devan yang sepertinya akan pergi, laki-laki itu harus menjawab pertanyaannya dulu dan tidak bisa mengelak begitu saja.
"Amora, apa kau sungguh-sungguh dengan apa yang kau tanyakan?"
Amora langsung menganggukkan kepalanya, untuk apa juga dia bercanda saat sedang seperti ini.
"Dasar gila, apa kau tidak pernah berciuman sampai menanyakan hal seperti itu?"
Devan merasa kesal, entah kenapa dia merasa seperti seorang pendosa yang sedang memanfaatkan wanita lemah yang tidak tau apa-apa.
Devan menatap Amora lekat-lekat, seolah-olah mencari kebenaran dari kata-kata yang baru saja wanita itu ucapkan.
"Dasar bod*oh! Amora itu wanita paling polos dimuka bumi ini, dia bahkan dengan santainya mengatakan untuk mengeluarkan bur*ungku. Sudah jelas kalau dia juga belum pernah ciuman!"
Ya, Devan melupakan fakta tentang semua itu. Tiba-tiba dia tersenyum senang saat mengetahui dialah lelaki pertama yang mencium bibir Amora, tanpa sadar kalau statusnya masih seorang suami dari wanita lain.
"kau masih berkhayal?"
"hah? Ti-tidak, aku hanya sedang memikirkanmu!"
"Benarkah? Lalu apa jawabanmu?"
Devan berpikir sejenak untuk menjelaskam secara singkat tentang apa yang dia lakukan tadi, agar Amora paham bahwa seperti itulah yang di namakan ciuman.
Tok, tok. "Nona!"
__ADS_1
Belum sempat Devan menjawab pertanyaan Amora, tiba-tiba terdengar suara ketukan dipintu beserta suara orang yang mengetuknya.
"Aku, aku keluar ya!"
Devan segera beranjak dari sana sebelum Justin membuka pintu kamar itu, sementara Amora hanya diam melihat Devan yang mulai menjauh.
"No-"
Klek, pintu kamar itu dibuka oleh Devan membuat Justin tidak melanjutkan panggilannya, dia menatap tajam ke arah laki-laki yang baru saja keluar dari kamar Nona mudanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Uuh, suara Justin terdengar sangat dingin hingga menusuk ke seluruh tubuh Devan. Belum lagi sorot matanya yang tampak sangat menyeramkan, dengan kedua alis yang hampir menyatu.
"Saya, saya tadi menemani Amora!"
Devan menajawab dengan gugup, entah kenapa dia seperti seorang maling yang baru saja ketahuan mencuri.
"lalu, kau tunggu apa lagi?"
"Hah? Ba-baik, permisi. Selamat istirahat!"
Devan segera angkat kaki dari tempat itu sebelum Justin mengeluarkan tanduknya, dia berjalan cepat ke kamar tamu yang sudah ditunjukkan oleh Samy sebelumnya.
Justin terus melihat kepergian Devan sampai laki-laki itu masuk ke dalam salah satu kamar tamu, dia lalu menghembuskan napas kasar melihat apa yang terjadi saat ini.
"Ck, awas saja kalau kau menyakiti Nona, Devan!"
Tanpa melihat ataupun mendengar, jelas Justin tau apa yang sudah terjadi antara Devan dan Amora. Apalagi saat melihat kegugupan Devan, jelas laki-laki itu sudah melakukan sesuatu pada Nona mudanya.
Sebenarnya dia tau kalau Devan masih di kamar Amora, itu sebabnya dia naik ke lantai 2 untuk mengusir laki-laki itu. Dia masih tidak ingin mereka terlalu dekat, apalagi saat ini status Devan masih belum jelas. Justin tidak mau nantinya Amora sakit hati, dan sudah pasti dia yang akan lepas kendali.
"Baiklah, hari ini cukup sampai di sini! Aku lelah, aku juga ingin istirahat!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.