
"Dia kan laki-laki yang sudah berselingkuh dengan istri Devan?"
Yah, lelaki yang saat ini ada dihadapan Amora adalah laki-laki yang sama dengan lelaki yang ada dalam kamar pengantin Devan.
"Saya Melano, Nona!"
Lelaki bernama Melano menyodorkan tangannya membuat Amora sedikit tersentak, dia lalu menerima jabatan tangan itu. "Saya Amora!"
Jabatan tangan mereka terlepas dan kembali duduk di tempat masing-masing, Melano terus melihat ke arah Amora yang terlihat sangat cantik dimatanya.
Kemudian mereka semua membahas tentang transaksi yang terjadi malam ini, di mana Amora menjual senjata api pada mereka dan mereka menukarnya dengan berlian.
"saya tidak menyangka kalau andalah yang selama ini mengirim senjata-senjata ini pada saya," ucap Melano, selama dia membeli senjata api, dia tidak pernah berhadapan langsung dengan penjualnya.
"Kalau gitu, kedepannya anda harus lebih memperhatikannya lagi, Tuan!"
Justin yang ada di samping Amora sedikit mengernyitkan keningnya, dia merasa aneh karna tidak biasanya Amora meladeni ucapan orang lain.
"Dengan senang hati, Nona! Saya akan lebih memperhatikan Nona!"
Melano tersenyum lebar, dia tidak menyangka kalau selama ini bertransaksi dengan wanita cantik seperti Amora.
Setelah semua urusan selesai, Amora dan Justin segera meninggalkan tempat itu dengan diantar oleh Melano dan Zack.
Devan yang melihat Amora keluar bergegas mendekati wanita itu, tetapi, langkahnya langsung terhenti saat melihat lelaki yang ada di belakang wanita itu.
"Dia!"
Napas Devan langsung memburu saat melihat lelaki itu, ingatan demi ingatan di malam pertamanya kembali melintas membuat emosi Devan naik.
"Apa saya boleh meminta nomor ponsel-"
Melano tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tubuhnya tiba-tiba ditarik oleh seseorang, dia langsung melihat ke arah tersebut dengan mata melotot tajam.
"kau-"
"Dasar bajing*an!"
Buak! Devan kembali mendaratkan pukulannya ke wajah Melano membuat semua orang merasa terkejut, termasuk semua anak buah melano yang langsung merapat dan menodongkan pistol pada mereka.
"Apa-apaan ini?"
__ADS_1
Zack berusaha menarik tubuh Devan dan menghempaskannya jauh dari tubuh Melano, sementara Amora dan justin terdiam saat melihat pemandangan itu.
"beraninya kau melakukan ini?" teriak Zack, dia segera memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Devan.
"Tunggu!"
Amora yang sejak tadi diam angkat bicara membuat semua orang melihat ke arahnya, dia berjalan mendekati Devan yang melihatnya dengan tajam.
"Dia pacarku!"
Semua orang terkejut mendengar ucapan Amora, terlebih-lebih Devan dan Justin yang melihat wanita itu dengan mata dan mulut terbuka.
"Pa-pacar? Sejak kapan pecundang ini jadi pacar anda, Nona?"
Melano yang merasa sangat terkejut bergegas menanyakan semua itu, setaunya Devan hanya lelaki biasa, yang tentu saja sangat berbanding terbalik dengan wanita itu.
"Sejak malam ini!"
Semua orang semakin tidak percaya mendengar jawaban wanita itu, sementara Devan hanya bisa diam karna seluruh tubuh dan lidahnya terasa kaku.
"Baiklah, kalau gitu kami permisi dulu!"
Justin harus menghentikan kegilaan ini sebelum Nona mudanya semakin menjadi-jadi, dia segera membuka pintu mobilnya untuk mempersilahkan Amora masuk ke dalam sana.
Amora segera masuk ke dalam mobil dengan diikuti oleh Devan, lelaki itu duduk tepat di samping Amora sementara Justin sendiri duduk di belakang kemudi.
Justin segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu, beberapa kali dia melirik ke arah Nona mudanya yang terdiam sembari memandangi jalanan.
"Maaf, Nona! Apa saya boleh menanyakan sesuatu?"
Devan harus bertanya mengenai pengakuan Amora yang mengatakan kalau dia adalah pacarnya, terlihat Amora beralih melihat ke arahnya.
"apa, apa maksud ucapan Nona tadi?" tanyanya kemudian.
"Kau bisa menggunakanku untuk membalas dendam!"
Devan mengernyitkan keningnya. "Menggunakan? Apa dia menyuruhku untuk menidurinya apa bagaimana?" Dia merasa bingung.
"ma-maksud anda, Nona?" tanyanya kembali.
"Jadikan aku pacarmu, dan balas apa yang sudah istrimu lakukan!"
__ADS_1
Devan akhirnya paham dengan maksud dari ucapan Amora, tetapi dia bingung kenapa wanita itu mau menjadi pacar bohongannya, dan kenapa pula harus melakukan itu.
"Nona, apa Nona tidak merasa kalau itu berlebihan?"
Untuk pertama kalinya, Justin ikut campur dengan keputusan Amora. Dia tidak bisa membiarkan Amora terus berhubungan dengan lelaki yang dia sendiri tidak tau bagaimana sifat dan karekternya, apalagi sebelumnya wanita itu tidak pernah dekat dengan seorang laki-laki.
"Aku melihatnya di tuyub!"
Justin dan Devan sama-sama mengernyitkan kening mereka, terutama Justin yang baru pertama kalinya tidak paham dengan ucapan Amora.
"cara membalas perselingkuhan istri, yaitu mencari wanita dan dijadikan pacar. Itu kata tuyub!"
"Heph!"
Devan hampir saja kelepasan tertawa karna merasa lucu dengan apa yang Amora lakukan, bisa-bisanya wanita itu sampai melihat tuyub untuk mencari cara balas dendam pada istrinya.
"Sebenarnya saya tidak perlu semua itu, Nona! Saya hanya berharap istri saya pulang dan membicarakan semuanya, bila perlu saya akan menceraikannya jika memang dia mencintai lelaki lain!"
Yah, Devan hanya berharap seperti itu. Biarlah wanita itu pergi bersama laki-laki lain walaupun rasa sakit akibat perselingkuhan itu jelas masih ada.
"Pengkhianat, tidak pantas untuk dibiarkan!"
Suara Amora terdengar sangat menusuk ditelinga Justin dan juga Devan, terlihat jelas pancaran kebencian diwajah wanita itu untuk sesuatu yang menyangkut pengkhianatan.
Justin terdiam dan tidak berani lagi mengeluarkan suaranya, dia tau benar kenapa Nona mudanya berkata seperti itu karna memang keluarga Amora hancur tak bersisa karna adanya pengkhianatan.
"kau tenang saja, kita akan membalas apa yang telah istrimu lakukan!" ucap Amora kemudian, dia lalu kembali memiringkan kepalanya untuk melihat jalanan.
"Aku tidak akan membiarkan pengkhianat! Aku akan membalas mereka berpuluh-puluh kali lipat!"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
Mampir juga yuk, ke karya teman aku! Dijamin keren dan seru 😍
__ADS_1