Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 72. Persiapan Menuju Final.


__ADS_3

Niki merasa kesal karna Justin sama sekali tidak melihatnya, berulang kali dia melihat laki-laki itu tetapi Justin malah membuang muka.


"Sepertinya kau benar-benar kenyang karna melihat orang lain, ya!"


Blush, kali ini wajah Niki memerah karna kembali ketahuan oleh Amora. Dia merasa kalau wanita itu punya mata lebih dari dua, itu sebabnya Amora tau segala pergerakannya.


"ada apa? Kenapa sejak tadi kau membahas masalah itu?" tanya Devan.


Sepertinya bukan hanya Devan saja yang penasaran, tetapi Samy juga. Laki-laki itu melihat Amora dengan tajam seolah-olah sedang menunggu jawaban wanita itu.


"adikmu sejak tadi terus menatapku, setelah itu dia terus menatap Kak Justin!"


"Ti-tidak, Nona! Saya memang terus melihat Nona, tapi saya tidak melihat Tuan Justin!" Mau ditaruh di mana harga dirinya kalau sampai laki-laki itu tau sejak tadi dia terus menatapnya.


"Waah, Justin! Ternyata ada juga ya wanita yang menyukaimu!" Samy menyenggol lengan Justin yang masih sibuk dengan makanan, tanpa memperdulikan mereka semua.


Wajah Niki semakin memerah dengan rasa malu yang luar biasa. Ingin sekali dia berlari dari tempat ini, tetapi tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Bagaimana, Kak? Apa kau menyukai Niki?"


Semua orang terkejut dengan apa yang Amora ucapkan, terutama Niki yang sudah ingin pingsan saja di tempat itu.


"saya menyukai anda, Nona!"


"Cih, tapi aku menyukai Devan!"


Blush, sekarang wajah Kakak dan adik itu sama-sama memerah. Tentu yang melihatnya menjadi geli sekali, bahkan Samy sudah tertawa terbahak-bahak sekarang.


"Kakak tidak bisa menyukaiku, jadi harus menyukai orang lain!"


"Amora, hentikan!" Devan memilih angkat bicara, dia tau kalau saat ini Niki sudah benar-benar sangat malu.


"Kenapa kau menghentikanku? Kita sepasang kekasih, dan Kak Justin juga sudah saling suka dengan bola-bola ini. Jadi tinggal giliran Kak Sam-"


Deg. Amora tidak jadi melanjutkan ucapannya saat tidak sengaja memanggil Samy dengan sebutan Kakak, tentu ucapannya itu membuat Samy langsung kaku.

__ADS_1


"Benar, sekarang tinggal giliran Kak Samy!" Devan melanjutkan ucapan Amora yang terpotong tadi, dan membuat Amora langsung tegang.


"kakak belakangan saja, yang penting Amora dan Justin sudah punya pasangan!"


"pasangan apa? Jelas-jelas aku cuma butiran debu di matanya!" gerutu Niki, tetapi dia tidak sadar kalau gerutuannya itu didengar oleh semua orang.


"Wah, gila kau Just! Cewek cantik-cantik gini kok kau anggap butiran debu!"


Niki langsung menutup mulutnya saat mendengar ucapan Samy, sementara Justin menatapnya dengan tajam sampai terasa mencabik-cabik tubuhnya.


"Niki, mulutmu itu memang harus dilem!" ucap Devan, sontak semua orang langsung tertawa saat mendengarnya.


Untuk pertama kalinya rumah itu terasa kembali hidup seperti dulu kala, bahkan para pelayan menatap haru pada majikan mereka. Rumah yang selama ini hening, terasa ramai dan juga hangat. Baik Amora dan Samy saat ini tertawa bersama, bahkan Justin juga tersenyum tipis ditempat itu.


Setelah sarapan panjang itu selesai, Devan dan Niki memutuskan untuk pulang sementara Samy harus segera berangkat ke kantor.


Tinggallah Amora dan Justin yang saat ini ada di ruang kerja Amora, terlihat mereka sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius.


"si*al, kita kalah cepat!" ucap Amora saat Justin sudah menceritakan semuanya. "Tapi tidak apa-apa, dia sudah datang ke sini. Jadi, saatnya kita memberi sambutan untuknya!" Ya, dia harus menyambut laki-laki itu dengan baik.


Justin diam dan tidak menanggapi ucapan Amora, dia sedang memikirkan ucapan Lucas tentang hubungan antara laki-laki paruh baya itu dengan orangtua Amora. Juga tentang sifat Tuan Simon, dia tidak mengerti kenapa Lucas mengatakan hal seperti itu.


Justin menghembuskan napas kasar, dia lalu menceritkan semua yang Lucas katakan padanya. Walaupun dia tau kalau Amora pasti akan langsung murka.


"Beraninya, beraninya dia berkata seperti itu tentang Papaku!" Amora langsung berdiri dengan amarah yang kian meletup-letup membuat Justin langsung panik.


"maaf, Nona! Saya tidak bermaksud untuk percaya dengan apa yang Lucas katakan, hanya saja-"


"Apa? Kau mau bilang apa?"


Justin langsung terdiam, entah kenapa ucapan Lucas terus terngiang-ngiang dalam kepalanya. Seolah-olah menyuruhnya untuk mencari tau sesuatu.


"Laki-laki itu memang sangat licik, dan aku baru sadar kalau mungkin saja dia melakukan hal yang sama pada istri Papaku. Itu sebabnya wanita itu sampai tega selingkuh dengan bajing*an itu!"


Suara Amora terdengar sangat tajam dengan bibir bergetar, dia sudah tidak bisa lagi menahan diri dan harus segera menghancurkan laki-laki itu.

__ADS_1


"Siapkan semuanya, malam ini juga kita akan menghancurkan mereka!"


Justin hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar perintah dari Amora. "Baik, Nona! Apa kita akan mendatangi mereka?"


"Tidak, undang mereka ke markas. Aku akan menjadikan markas itu sebagai kuburan untuk Lucas!"


Justin kembali menganggukkan kepalanya, kemudian mereka segera pergi ke markas untuk menyiapkan segalanya.


Tanpa terasa, waktu bergulir dengan sangat cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan saatnya untuk Samy mengunjungi Papanya.


"Loh, ada apa ini?" Samy melihat anak buah Papanya dengan heran, karna mereka seperti sedang bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.


"Tidak apa-apa, Tuan! Kami hanya sedang latihan!"


Samy menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari anak buah Lucas, dia lalu masuk ke dalam rumah itu dan melihat Papanya sedang duduk di ruang tamu.


"Apa kau lapar, Sam?"


Samy menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi kenapa Papa menyuruh anak buah Papa untuk latihan? Apa Papa akan pulang?"


Lucas terdiam, dia sedang berpikir keras haruskah memberitahu semuanya pada Samy atau tidak. "Mereka sudah lama tidak latihan, papa hanya takut kalau mereka menjadi lemah!"


Tanpa menaruh curiga, Samy menganggukkan kepalanya. Mereka lalu pergi ke dapur karna Lucas sudah menyiapkan makanan untuk putranya.


"Papa membuat pancake?"


Lucas mengangguk. "Ya, itu makanan kesukaan Mamamu. Cobalah, papa tidak tau rasanya enak atau tidak!"


Dengan semangat Samy mengambil potongan pancake itu dan memakannya. "Wah, ini sangat lezat! Papa harus sering-sering memasak ini untukku!"


Deg. Hati Lucas terasa sakit, dia tidak tau entah bagaimana akhir dari pertempuran mereka malam nanti.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2