Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 78. Korban Terakhir.


__ADS_3

Suara tembakan menggema di tempat itu, membuat semua anak buah Lucas yang masih tersisa segera menodongkan senjata pada Amora, dan peluru yang wanita itu tembakkan tepat mengenai dada seseorang.


Deg. Mata Amora membulat sempurna saat melihat seseorang yang sudah tergeletak di atas tanah, pistol yang masih berada dalam genggaman tangannya langsung jatuh begitu saja bersamaan dengan air mata.


"Tidak, Samy!"


Lucas memegangi tubuh Samy yang sudah bersimbah darah, begitu juga dengan Devan dan Justin yang berusaha untuk menekan luka laki-laki itu agar darahnya tidak terus keluar.


Rupanya Samy tau kalau Amora tetap akan menembak Lucas, tentu semua ini tidak bisa langsung diterima begitu saja oleh adiknya itu.


Dendam Amora selama ini harus tersalurkan, karna sejak dulu Amora hidup hanya untuk membalaskan dendam itu. Baik siapa yang benar dan siapa yang salah, semua itu tidak akan mengubah semua dendam itu.


"Bunuh, bunuh wanita si*alan itu!"


Mendengar perintah Lucas, tentu saja membuat Devan dan Justin langsung berlari ke arah Amora yang mematung di tengah-tengah anak buah Lucas.


"Papa!" Samy memegang tangan Lucas yang sedang menangisi keadaannya. "Aku mohon jangan lakukan itu! Aku akan sangat membenci Papa jika terjadi sesuatu pada Amora, aku mohon!"


Lucas menggelengkan kepalanya untuk menolak keinginan Samy. "Tidak, aku tidak akan membiarkannya hidup jika terjadi sesuatu denganmu! Aku akan menbunuhnya-" Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Samy mencengkram lengannya dengan kuat.


"Ini semua hukuman untukku karna sudah menyakiti hatinya, aku mohon, Pa! Mama juga pasti akan sangat membenci Papa jika Papa menyakiti Amora, aku mohon!"


Lucas benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan orang yang sangat dia sayangi untuk kedua kalinya. "Cepat, bawa putraku ke rumah sakit!"


Anak buah Lucas langsung mengangkat tubuh Samy dan memasukkannya ke dalam mobil, mereka lalu melajukan mobil itu menuju rumah sakit.


Amora yang masih mematung langsung sadar saat tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Devan, laki-laki itu membawanya ke dalam mobil bersama dengan Justin dan segera menyusul kepergian Samy.


Justin yang tau bagaimana perasaan Amora saat ini langsung memeluknya dengan erat. "Semua akan baik-baik saja, Nona! Tuan Samy adalah laki-laki yang sangat kuat!"

__ADS_1


Devan yang sedang mengemudikan mobil melirik ke arah belakang, dia juga merasa sedih dengan semua yang sudah terjadi.


"ta-tapi, aku, aku sudah menembak-"


"Semua itu sudah terjadi, Nona! Dan Nona tidak melakukan kesalahan, Nona hanya membalas semua rasa sakit yang selama ini Nona rasakan!" Justin mencoba untuk menenangkan Amora yang saat ini mulai terisak, dia semakin mengeratkan pelukannya saat isakan itu semakin kencang terdengar.


Mungkin semua orang akan menganggap Amora egois dan keras kepala, wanita itu tetap berniat membunuh Lucas walau sudah tau kenyataan yang sebenarnya.


Namun, dibalik semua itu. Ada siksaan batin yang selama ini Amora rasakan, bagaimana sakitnya hidup dalam kubangan dendam.


Mungkin Amora tidak akan bertahan hidup jika bukan karna dendam itu, semua kejadian yang merenggut nyawa kedua orangtuanya terasa mencabut nyawanya juga.


Dia bahkan sudah pernah mencoba untuk bunuh diri karna tidak sanggup untuk menahan semua rasa trauma, karna dia adalah saksi hidup pertengkaran antara kedua orangtuanya.


Amora bisa bangkit saat mengobarkan api dendam pada Lucas, dia bahkan tumbuh kuat dan berkuasa karna dendam itu juga.


Mobil mereka semua kini sudah sampai di rumah sakit, baik Samy, Amora dan juga Justin langsung mendapat pertolongan dari Dokter.


Lucas sendiri sudah menyuruh anak buahnya untuk membereskan bekas perkelahian mereka, dan menyuruh setiap orang yang terluka agar segera dibawa ke rumah sakit.


Beberapa kali Devan melirik ke arah Lucas karna ingin menanyakan sesuatu, tetapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalahnya.


"Ba-bagaimana, Dokter?" Lucas langsung menghampiri 2 orang Dokter yamg baru keluar dari ruangan itu.


"Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang dilengan Nona Amora dan juga Tuan Justin, kami juga sudah menjahit dan mengobati semua luka yang ada ditubuh mereka!"


Devan bernapas lega saat mendengarnya, tetapi dia masih belum mendengar kabar tentang Samy.


"lalu bagaimana dengan anakku? Bagaimana keadaan Samy?" tanya Lucas dengan tajam.

__ADS_1


"Tuan Samy masih diperiksa oleh Dokter Yunus, Tuan! Semoga keadaannya baik-baik saja!"


Lucas mengusap wajahnya dengan kasar saat mendengar jawaban Dokter, perasaan khawatir yang menyelimuti hatinya saat ini semakin menjadi-jadi.


"Saya yakin kalau Kak Samy pasti akan baik-baik saja, Tuan!"


Lucas langsung mengalihkan pandangannya saat bahunya sedang ditepuk oleh seseorang. "Aku harap juga seperti itu!" Dia menatap tajam ke arah Devan yang juga sedang menatapnya.


Devan menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis, dia merasa sedang berdiri di depan cermin saat berhadapan dengan Lucas.


Tidak berselang lama, Dokter yang memeriksa Samy terlihat keluar dari ruangan membuat Devan dan Lucas langsung menghampirinya.


"Apa anda keluarga dari pasien bernama Samy?"


Lucas langsung menganggukkan kepalanya. "Benar, saya adalah ayahnya. Bagaimana keadaan anak saya?"


Dokter itu menghela napas berat. "Kami harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang ada didadanya, operasi ini sangat berbahaya karna peluru itu mengenai jantung pasien!"


Deg. Tubuh Lucas langsung lemas saat mendengar penjelasan Dokter. "Saya mohon lakukan apa saja untuk menyelamatkan putra saya, saya mohon!" Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Itu sudah menjadi tugas kami, Tuan! Kami akan melakukan yang terbaik, tetapi saat ini stok darah kami yang sesuai dengan pasien sangat sedikit, itu tidak akan cukup untuk operasi ini!"


Lucas langsung menyodorkan tangannya pada Dokter itu. "Ambil darahku, ambil sebanyak-banyaknya!"


"Kami sudah menghubungi rumah sakit yang lain, Tuan! Semoga mereka punya stok darah untuk putra anda!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2