Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 58. Akankah Cinta Membawa Bahagia?


__ADS_3

Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Baik Amora dan Devan sama-sama diam di tempat itu, pikiran mereka melayang-layang memikirkan akan seperti apa hubungan mereka nantinya.


"Hentikan omong kosongmu itu, aku tidak butuh belas kasihan darimu!"


Amora melepas genggaman tangan Devan dan berjalan cepat ke arah pintu, tentu Devan tidak akan membiarkannya pergi dan langsung memeluknya dari belakang.


"Amora, aku minta maaf jika perkataanku menyakiti hatimu. Tapi percayalah, aku tidak ada sedikitpun niat untuk melakukannya!"


Devan memeluk tubuh Amora dengan erat, dia meletakkan kepalanya dibahu wanita itu hingga helaan napasnya menyapu kulit Amora.


"Tolong maafkan aku, aku benar-benar mencintaimu, Amora, percayalah!"


Justin yang sejak tadi berdiri di depan pintu mengepalkan tangannya, sebenarnya dia ingin sekali menarik Devan dan menghajarnya sampai mati. Namun, saat melihat wajah Amora. Dia tidak sanggup untuk melakukan hal seperti itu, hingga perasaannya luluh dan memilih untuk keluar.


"Amora, aku-"


"Lidya, kau melupakan wanita itu?"


Amora segera berbalik dan menatap Devan dengan tajam, dia ingin mencari sedikit saja kebenaran dimata laki-laki itu tentang apa yang baru saja dia katakan.


Devan terdiam, dia diam bukan karna masih mencintai Lidya. Namun, dia bingung bagaimana harus mengatakan tentang perasaannya agar Amora percaya.


"Dengar, selama ini aku tidak pernah memaksa siapapun. Termasuk kau, aku tidak pernah memaksamu untuk bersama denganku. Bukannya kau sendiri yang menerima tawaranku?"


Devan menganggukkan kepalanya dengan lemah dan dibalas dengan senyum sinis Amora. "Aku memberi tawaran padamu karna sangat benci dengan sebuah pengkhianatan, aku juga melihat kejujuran dan kesetiaan diwajahmu seperti aku melihat Kak Justin. Itu sebabnya aku melakukan semua ini!"


Mata Devan berkaca-kaca, untuk pertama kalinya dia benar-benar merasa sangat bersalah. Padahal Amora sudah sangat baik padanya, tapi apa yang dia lakukan?

__ADS_1


"Aku menyukaimu, itu benar! Aku jatuh cinta padamu, mungkin itu juga benar! Tapi aku, tidak pernah memintamu untuk membalas perasaanku!"


Memang benar jika Amora tidak pernah memaksa agar rasa cintanya itu terbalas, karna dia sendiri sangat sibuk memikirkan sebuah perasaan asing yang menyusup dihatinya.


Selama 22 tahun, Amora tidak pernah tertarik dengan laki-laki manapun. Sudah banyak partner bisnisnya yang mencoba mendekat, tapi dia tidak pernah memperdulikannya. Sampai suatu saat, dia merasa jatuh cinta pada lelaki biasa seperti Devan.


Rasa cinta itu kian tumbuh saat mereka bersama, padahal sejak dulu dia tidak pernah ingin jatuh cinta karna kehancuran keluarganya. Cinta bisa mengubah segalanya, itu memang benar, dan dialah yang telah berubah karna sebuah cinta.


"jadi cukup sampai di sini, aku tidak mau ada sesuatu yang lebih dalam dari ini! Langkahku telah salah, aku masuk ke dalam jurang kehancuran yang telah memporak-porandakan keluargaku!"


"Tidak Amora, jangan katakan itu!"


Devan menggelengkan kepalanya dengan kuat, cukup sekali dia kehilangan cintanya, dan dia tidak mau terulang untuk yang kedua kalinya.


"Aku benar-benar mencintaimu tanpa adanya paksaan, semua itu berasal dari hati. Hatiku luluh saat bersamu, kau telah mengobati luka yang menggores hatiku. Walau pertemuan kita sangat singkat, tapi semua itu benar-benar berarti bagiku!"


"Hadirmu kembali membawa bahagia untukku, Amora! Ditengah badai besar yang melanda hatiku, kau datang bak malaikat yang menarikku keluar dari lembah kehancuran. Awalnya aku tidak mengerti kenapa kau hadir dalam hidupku., apalagi dengan sikap dingin dan kepolosanmu itu, setiap hari aku hidup dengan kebingungan dan gelisah!"


Devan menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, terlihat Amora menatapnya dengan intens bahkan sampai tidak berkedip.


"Aku baru sadar betapa berharganya dirimu untukku, Amora! Apalagi saat aku menciummu, dadaku terasa panas dan ingin sekali meledak!"


Blush, wajah Amora langsung bersemu merah. Akan tetapi, raut wajahnya tetap datar seperti tidak ada yang terjadi.


"Aku sadar kalau aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku tidak mau kehilanganmu!"


Devan sudah menyakinkan diri untuk membuka lembaran baru bersama Amora, terlepas dari apapun yang terjadi nanti. Dia tetap akan berdiri tegak di samping wanita itu, dia akan selalu mencintai dan melindungi Amora.

__ADS_1


Amora sendiri terus menatap Devan dengan tajam, dadanya bergemuruh hebat saat mendengar pengakuan yang diucapkan laki-laki itu. Dia lalu memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam.


"Ayah, haruskah aku melanjutkan semua ini? Aku sudah terlalu jauh melangkah, dan rasanya tidak bisa untuk kembali. Tapi, apakah aku akan bahagia?"


Tanpa sadar air mata Amora menetes dari sudut matanya membuat Devan terkejut, dengan cepat dia menarik Amora untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Aku tidak tau apa yang kau rasakan, Amora! Tapi percayalah padaku, aku tidak akan pernah menyakitimu, apapun yang terjadi!"


Tangisan Amora pecah dalam pelukan Devan. "Hiks, huhuhu!" Dia menumpahkan segala rasa sesak yang selama ini dia tahan, mencoba untuk menerima cinta yang dulu telah menghancurkan orang-orang yang sangat dia sayangi.


Devan terus memeluk Amora dengan erat, tubuh wanita itu bergetar dengan tangis yang menguat dalam pelukannya. Dia mengusap puncak kepala Amora, seperti mengatakan kalau dia akan selalu berada di samping wanita itu.


"Menangislah, dan keluarkan semua rasa sakitmu itu, Amora! Kau berhak untuk bahagia, kau juga berhak untuk merasakan cinta!"


Suasana berubah menjadi pilu, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada seorang lelaki paruh baya yang melihat kepergian putra semata wayangnya.


Dialah Lucas, yang saat ini sedang melihat kepergian Samy dari balik jendela. Dadanya terasa sangat sesak, bahkan napasnya terasa tercekat ditenggorokan.


"Kalau kau tidak mau ikut dengan Papa, maka jangan salahkan Papa jika menjemputmu ke sana, Samy!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2