Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 81. Penderitaan yang Bertubi-tubi.


__ADS_3

Lucas memeluk tubuh Devan dengan erat, tangisannya sudah tidak terbendung lagi membuat wajah tampan yang sudah mulai berkerut itu di basahi air mata.


"Anakku, maafkan aku. Maafkan papamu ini!"


Devan mematung dengan apa yang Lucas lakukan saat ini. Tubuhnya terasa sangat kaku, dan tidak bisa untuk digerakkan.


Dokter dan beberapa perawat yang masih ada di dalam ruangan itu ikut meneteskan air mata, mereka seperti sedang menonton sebuah sinetron tentang anak yang tidak diketahui keberadaannya oleh ayahnya sendiri.


Tidak mau mengganggu komen bahagia sekaligus sedih itu, mereka semua memutuskan untuk keluar dan membiarkan anak dan ayah itu menyelesaikan urusan mereka.


"Kau pasti sudah banyak menderita selama ini, maafkan Papa yang tidak tau akan keberadaanmu."


Dengan perlahan, tangan Devan mulai membalas pelukan Lucas. Tanpa sadar air mata mulai menetes dari sudut matanya membuat wajah itu menjadi basah. "Pa-papa."


Deg. Jantung Lucas berdenyut sakit saat mendengar panggilan Devan. Bukan karena dia tidak ingin dipanggil papa, tetapi dia sedih karena baru sekarang mengetahui tentang kebenaran ini.


Rasa cinta yang teramat besar membuat Lucas hanya memikirkan tentang Alice saja, apalagi sejak penjebakan yang Simon lakukan padanya membuat hubungan dia dan Alice langsung hancur seketika.


Lucas ingat saat menemui Simon di salah satu hotel dengan alasan kalau laki-laki itu sedang ada masalah, padahal semua itu hanya bohong semata untuk menjebaknya dengan seorang wanita.


Saat itu, hubungan antara dia dan Alice sudah sangat serius. Mereka bahkan sudah bertunangan, dan akan menikah dalam tempo satu bulan kemudian.


Namun, harapan tinggal harapan. Saat sadar, Lucas benar-benar terkejut karena ada seorang wanita yang sedang tidur di sampingnya. Bukan hanya itu saja, mereka bahkan sama-sama tidak memakai pakaian yang berarti telah terjadi sesuatu di antara mereka.


Belum sempat memahami apa yang terjadi, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang sedang menangis pilu melihat apa yang sedang terjadi.


Sejak itulah semuanya berubah, hidupnya hancur bersama dengan cinta dan juga persahabatan. Hingga Lucas memutuskan untuk pindah ke luar negeri, karena merasa tidak sanggup melihat wanita yang dia cintai menikah dengan sahabat yang tega menusuknya dari belakang.

__ADS_1


"Iya, ini papa, Nak! Ini papa."


Devan memeluk tubuh Lucas dengan erat, tubuhnya bergetar bersamaan dengan isak lirih yang keluar dari mulutnya.


"Papa ada di sini, bersama dengan kakakmu juga."


Devan langsung melepaskan pelukannya dan memandang Lucas dengan tajam. "Tidak, aku tidak mau kalau-"


"Apa? Kau tidak mau kalau Samy tau tentang semua ini?"


Devan menganggukkan kepalanya, Samy pasti akan sangat terkejut jika mengetahui kalau mereka adalah saudara kandung.


"Maaf, Devan. Papa tidak bisa lagi menyembunyikan semua kebenaran ini, sudah cukup papa menderita atas apa yang telah terjadi!"


Ya, Lucas adalah orang yang paling menderita dari semua masalah yang terjadi. Dia dikhianati oleh sahabatnya sendiri, dan harus merelakan wanita yang sangat dicintai bersama laki-laki lain.


Bukan hanya itu saja, dia bahkan tidak tau akan keberadaan Samy yang merupakan anak kandungnya. Sampai suatu ketika fakta itu terungkap, dan lagi-lagi membuatnya kehilangan Alice untuk selama-lamanya.


Lucas tidak pernah merasakan bagaimana rasanya punya istri, tetapi saat ini dia malah sudah punya dua orang putra.


"Jangan pernah lagi menyembunyikan kebenaran, Devan. Karena semua itu akan membuat diri kita menderita, juga menghancurkan perasaan orang-orang yang kita sayangi."


Devan mengangguk pelan, dia mengerti bahwa Lucas sudah banyak menderita karena semua ini. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk kembali membuatmu sedih." Dia menunduk penuh sesal.


"Tidak apa-apa, papa senang bisa tau semua ini walaupun terlambat, Devan. Jika tidak, mungkin seumur hidup papa akan merasa sangat menyesal!" Lucas menepuk bahu Devan membuat laki-laki itu melihatnya.


"Terima kasih sudah bertahan sampai saat ini, terima kasih juga karna sudah muncul di hadapan papa!" Andai dia dan Devan tidak pernah bertemu, pasti sampai mati pun semua kebenaran ini tidak akan pernah terungkap.

__ADS_1


"Bukan aku, tapi Amora. Dialah yang telah membuat aku bertemu denganmu, sampai aku tau siapa kau sebenarnya."


Lucas menganggukkan kepalanya, mungkinkah ini yang disebut ada hikmah dibalik semua musibah? Walaupun dia harus menerima dendam tidak berdasar dari Amora, tetapi karena semua itulah dia bisa bertemu dengan putra kandungnya yang lain.


"Apa, apa aku bisa meminta satu hal darimu?" tanya Devan dengan ragu-ragu, dia harus menuntaskan urusan Amora dan Lucas saat ini juga.


"Apapun itu, aku pasti akan memberikannya padamu. Tapi kau harus memanggilku dengan sebutan papa, juga memanggil Samy kakak!"


Devan terdiam, rasanya masih sangat canggung sekali. Dari musuh, menjadi ayah kandung. Bukankah itu terasa akward sekali?"


"Apa kau keberatan?"


"Ti-tidak! Aku, aku hanya merasa canggung saja," jawab Devan dengan jujur.


Lucas tersenyum mendengar jawaban Devan, putranya itu memang sangat mirip sekali dengannya. Baik sifat maupun wajah, sedangkan Samy sangat mirip dengan Alice dari semua sisi.


"Mulai sekarang kau harus belajar agar terbiasa, karena nantinya kita akan selalu bersama."


Devan mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Lucas. "Bersama? Apa maksudnya?" Dia sama sekali tidak paham.


"Kau adalah putraku, sudah jelas akan ikut bersamaku dan juga Samy. Kita akan tinggal di luar negeri,"


"Apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2