
Lidya memutar tubuhnya saat mendengar suara seorang lelaki, keningnya berkerut dalam saat melihat keberadaan lelaki yang tidak dia kenal.
"Siapa kau?"
Justin menggertakkan giginya untuk menahan luapan emosi, dia lalu beralih ke arah lelaki yang menelponnya tadi.
Plak!
Semua orang terkejut saat melihat apa yang Justin lakukan, Niki bahkan sampai merapatkan tubuhnya karna takut atas aksi lelaki itu.
"Sudah ku katakan seret wanita itu!"
Lelaki itu hanya diam dengan kepala tertunduk, dia tidak bergerak sedikitpun dari tempat itu.
"apa kau mau ku bunuh?"
"Maaf Tuan, Nona Amora melarang saya untuk masuk ke dalam ruangan Tuan Devan!"
Justin terdiam, dia menghembuskan napasnya dengan kasar untuk menenangkan gejolak amarah.
Setelah sedikit tenang, dia segera beranjak mendekati Lidya yang melihatnya dengan tubuh gemetar.
"Ma-mau apa kau? Jangan mendekat!"
Justin merasa tidak peduli dengan apa yang wanita itu ucapkan, dia segera menarik tangan Lidya dan menyeretnya dari tempat itu.
"Lepaskan aku!"
Lidya terus memberontak, tetapi semua itu malah membuat cengkraman Justin semakin kuat. Bahkan dia sampai meringis dengan mata berkaca-kaca, karna rasa sakit yang seakan meremukkan tangannya.
Justin terus menyeret Lidya keluar dari kafe, semua orang yang ada di tempat itu merasa terkejut dengan apa yang dia lakukan. Akan tetapi, dia tidak peduli sama sekali.
"Maaf atas ketidak-nyamanan ini Tuan-Tuan, dan Nona-Nona! Tuan Justin tadi hanya sedang membawa wanita itu keluar, karna dia sudah membuat keributan!"
Niki turun tangan untuk mengamankan para pelanggan, karna dia melihat ada salah satu di antara mereka yang ingin melaporkan semua kejadian itu pada polisi.
"tunggu, bukannya wanita itu adalah kekasih Tuan Devan?" tanya salah satu dari mereka.
"Benar, Nona! Saya tidak tau apa yang terjadi, karna saat ini Tuan devan sedang tidak ada di tempat!"
Niki lalu membungkukkan tubuhnya beberapa kali sambil kembali meminta maaf, dia lalu keluar untuk melihat keadaan Lidya setelah para pelanggan tenang.
Bruk!
__ADS_1
Justin melepaskan tangan Lidya dengan kasar sampai tubuh wanita itu membentur mobil. "Sekali lagi kau menginjakkan kaki di tempat ini, aku tidak akan segan-segan untuk memotong kakimu!"
Glek, tubuh Lidya bergetar hebat mendengar ancaman Justin. Dia bahkan tidak berani melihat ke arah lelaki itu yang tampak sangat menyeramkan.
"Apa yang kau lakukan?"
Tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobil, membuat Justin dan Lidya melihat ke arahnya.
"Sayang!"
Lidya segera berlari untuk menghampiri Melano, dia terisak sambil memeluk tubuh lelaki itu.
"Sayang, dia, dia ingin membunuhku!"
Lidya mengadukan semuanya pada Melano, membuat lelaki itu mengeraskan rahangnya.
"apa itu benar, Tuan Justin?"
Lidya tersentak kaget saat mengetahui kalau Melano mengenal lelaki itu, sementara Justin hanya tersenyum sinis untuk menanggapi pertanyaan laki-laki itu.
"Sayang, apa kau mengenalnya?"
Melano menganggukkan kepalanya, kemudian dia melepas pelukan Lidya dan berjalan mendekati Justin.
"Tidak bisakah kita fokus pada urusan masing-masing?"
Justin terkekeh pelan sembari mengusap bahunya yang baru saja dipegang oleh Melano. "Tidak bisakah kau mengurus j*a*l*a*ngmu dengan benar?"
Melano mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Justin, sementara Lidya sendiri juga melihat lelaki itu dengan amarah yang meletup-letup.
"beraninya kau mengatakan itu!" teriak Lidya, dia yang akan menampar Justin dihalangi oleh Niki yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya.
"Cepat pergi dari sini sebelum kesabaranku habis!"
Justin melihat Melano dengan tajam, yang di balas dengan tatapan kebencian dari lelaki itu.
"kau jangan sombong, Justin! Kau itu hanya seorang babu yang bekerja untuk Amora!" cibir Melano, derajatnya sangat jauh berbeda dengan lelaki itu.
"apa kau tidak mengerti ucapanku? Haruskah aku menyuruh anak buahku untuk menyeretmu?" ucap Justin dengan tajam
"Brengs*ek! Kau lihat saja nanti!"
Melano segera berbalik dan berjalan ke arah mobilnya, sementara Lidya yang melihat kepergian laki-laki itu segera mengukutinya.
__ADS_1
"Hah!"
Bruk! Tubuh Niki langsung merosot jatuh ke atas tanah, dia merasa lemas dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Tapi siapa laki-laki itu, kenapa Kak Lidya memanggilnya dengan panggilan Sayang?" Dia merasa sangat bingung saat ini.
"Apa kau akan tetap duduk di bawah situ?"
Niki terjingkat kaget saat mendengar suara baritone seseorang, dia segera bangun dan membersihkan celananya yang sedikit kotor.
"ma-maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud-"
"Ikut aku!"
Justin kembali masuk ke dalam kafe dan langsung menuju ruangan Devan, sementara Niki masih terdiam di tempatnya berdiri.
"Kenapa dia menyuruhku ikut dengannya? Apa dia ingin memukulku juga?"
Niki menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak mau ikut bersama laki-laki menyeramkan itu. Lalu, dia terpikirkan sesuatu hal dan langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celana.
Dia segera mengirim pesan pada Devan kalau hari ini cuma bekerja setengah hari saja, setelahnya dia akan pulang ke rumah.
Tanpa menunggu apapun lagi, Niki segera pergi dari kafe itu. Tanpa dia sadari, saat ini Justin sedang melihatnya dengan tajam dari balik jendela ruangan Devan.
"Beraninya gadis itu ... Awas saja kau!"
Sementara itu, ditempat lain Devan sedang meniimati makan malamnya dengan Amora. Tiba-tiba dia tersedak saat membaca sebuah pesan yang Niki kirim padanya, membuat Amora melihatnya dengan tajam.
"Kak, aku sedang sekarat dan harus segera pulang. Aku cuma bisa kerja setengah hari aja, setelah itu aku akan istirahat dan ponselku tidak akan aktif sampai malam!"
Devan langsung meneguk air yang ada dihadapannya, dia tidak habis pikir dengan apa yang Niki kirim dan berniat untuk menelpon gadis itu.
"Siapa?"
Suara Amora menghentikan tangannya yang sudah akan menekan panggilan. "Niki, Nona! Dia bilang dia sedang sekarat, aneh-aneh saja!" Devan berdecak kesal.
"kalau sekarat ke rumah sakit, bukannya mengirim pesan pada kekasihku!"
"Hah?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.