Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 76. Kebenaran yang Harus Diketahui.


__ADS_3

Lucas dan Amora langsung melihat ke arah sumber suara, tampaklah Samy dan Devan yang sedang berlari ke arah mereka.


"Berhenti!"


Lucas menghentikan anak buahnya yang ingin menyerang Samy dan juga Devan, dia lalu menghempaskan tubuh Amora yang langsung ditangkap oleh Devan.


"Amora, kau, kau tidak apa-apa?" Tangan Devan bergetar saat melihat keadaan Amora.


Amora tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia berusaha untuk bangun walaupun tubuhnya terasa sangat lemas.


Samy sendiri sedang menatap Lucas dengan tajam, kedua tangannya terkepal erat saat melihat keadaan Amora dan Justin saat ini.


"Sudah ku katakan untuk tidak menyakiti mereka, tapi apa yang kau lakukan?"


Semua orang tersentak kaget saat mendengar bentakan Samy, terutama Amora yang khawatir dengan keadaan kakaknya itu.


"Devan, tolong lindungi kakakku! Aku tidak mau Lucas menyakitinya!"


Devan memandang Amora dengan sendu, dia lalu memeluk tubuh wanita itu dengan meneteskan air mata. "Dia pasti baik-baik saja, Amora! Kakakmu akan baik-baik saja!"


"Tidak, Lucas pasti akan menyakitinya! Aku harus segera menolongnya!" Amora berusaha untuk bangun dengan menahan sakit diseluruh tubuhnya, tetapi Devan malah terus memeluknya hingga dia tidak bisa bergerak.


"lepaskan aku, Devan! Aku harus bersama dengan Kakakku!"


"Percayalah kalau dia akan baik-baik saja, Lucas tidak akan menyakitinya!"


Amora terdiam mendengar ucapan Devan, dia bingung kenapa laki-laki itu sangat yakin sekali jika Samy akan baik-baik saja.


"Kenapa kau diam? Kau sudah berjanji untuk tidak menyakiti adikku!"


Semua orang kembali melihat ke arah Samy, tidak berselang lama datanglah Justin yang langsung berdiri di hadapan Samy untuk melindunginya.


"Justin, kau-"

__ADS_1


"Tetap di belakang saya, Tuan!" Justin akan melindungi Samy dari Lucas walaupun harus mengorbankan nyawanya.


Samy menatap Justin dan Amora dengan sendu, keadaan ini terlalu menyakitkan untuknya.


"Aku melakukan itu supaya mata adikmu terbuka, agar kepalanya bisa digunakan untuk berpikir mana yang benar dan mana yang salah!"


Samy tau betul apa yang coba Lucas lakukan. "Tapi bukan seperti ini caranya, bagaimana mungkin kau menyerang adikku sampai dia terluka seperti itu?"


Lucas terdiam mendengar teriakan Samy, anaknya itu tidak tau bahwa hatinya jauh lebih sakit dari luka yang sedang Amora rasakan saat ini.


"Jangan pernah lagi muncul di hadapanku atau di hadapan Amora, karna aku tidak akan lagi membiarkannya!" Samy menunjuk tepat ke arah Lucas dengan amarah yang menyelimuti hatinya.


Amora dan Justin melihat semua itu dengan bingung, kenapa Lucas hanya diam mendengarkan segala amarah Samy? Bahkan laki-laki itu tidak menyerang Samy, dan membiarkan Samy terus meluapkan amarahnya.


"Apa yang terjadi? Sejak kapan Samy berani berkata seperti itu pada Lucas? Bukankah mereka tidak pernah bertemu?" Berbagai pertanyaan terus berputar-putar dalam kepala Amora, sungguh dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini.


Samy segera mendekati Amora yang sedang melihatnya dengan tajam. "Amora, kau tidak apa-apa?" Matanya berkaca-kaca menatap sang adik yang sudah babak belur karna perbuatan Papanya.


"Aku, aku tidak apa-apa! Tapi, apa yang terjadi? Ke-kenapa kau bicara seperti itu padanya?"


"Kita harus segera ke rumah sakit, Amora!" Samy berusaha untuk mengangkat tubuh Amora, tetapi adiknya itu malah menolak apa yang ingin dia lakukan.


"tidak, aku tidak bisa pergi sebelum membunuh Lucas!" tolak Amora dengan tajam.


Lucas langsung tertawa saat mendengar ucapan Amora. "Kau lihat? Adikmu itu sangat keras kepala, jadi biarkan aku yang memberi pelajaran padanya!"


"diam! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu, cukup. Sudah cukup, hentikan semua ini!"


"Seharusnya kau mengatakan itu pada adikmu, Samy! Karna dia yang terus saja ingin membalas dendam untuk Ayahnya. Untuk Simon sih brengs*ek itu!"


Amora mengepalkan kedua tangannya saat mendengar apa yang Lucas katakan, matanya kembali berkilat marah dan ingin sekali membunuh laki-laki itu.


"Ceritakan semua itu padanya, Samy! Katakan sekejam apa perbuatan yang sudah ayahnya lakukan padaku, pada ibumu, dan juga pada kita berdua!"

__ADS_1


Deg. Amora dan Justin langsung melihat ke arah Samy saat mendengar apa yang Lucas katakan, sementara Samy sendiri memandang Papanya itu dengan penuh emosi.


"ceritakan bagaimana Ayahnya merebut ibumu dariku, juga merenggut kebahagiaanmu dengan-"


"Cukup! Hentikan semua ocehan Papa itu!"


Deg. Jantung Amora dan Justin terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum saat mendengar panggilan Samy pada Lucas.


"Apa Papa belum puas dengan semua ini, hah? Kalian yang membuat masalah di masa lalu, tapi kenapa kami yang harus menanggungnya?"


Devan langsung mencengkram lengan Samy untuk menyadarkan laki-laki itu bahwa saat ini dia sedang menyebut Lucas dengan sebutan Papa, sementara Samy tidak sadar dengan apa yang sedang dia ucapkan.


"Papa? Kau memanggilnya Papa?"


Deg. Samy langsung tegang saat mendengar ucapan Amora, dia baru sadar kalau tadi kelepasan memanggil Lucas dengan sebutan Papa.


"Benar, dia memanggilku papa karna aku adalah ayah kandungnya!"


Tubuh Amora langsung terhuyung ke belakang saat mendengar ucapan Lucas, untung saja tangan Devan sigap menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah.


"tidak, itu tidak mungkin!"


"Amora, dengarkan ka-!"


"itulah kenyataannya!" potong Lucas. "Samy adalah putraku, putraku bersama dengan Alice. Tapi ayahmu itu merebut Alice dariku, dia merusak segalanya. Dia bahkan menjebakku dengan wanita yang tidak aku kenal!"


"Cukup, sudah cukup!" Amora menutup kedua telinganya karna tidak mau lagi mendengar ucapan Lucas.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2