Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 94. Sebuah Pengakuan.


__ADS_3

"Maafkan aku jika sudah membuat kesalahan pada Anda. Tolong, tolong jangan benci aku."


Justin terdiam saat mendengar apa yang Niki katakan, dia menatap wanita itu dengan tajam sambil berpikir apa yang sedang Niki lakukan saat ini.


Niki sendiri menundukkan kepalanya dengan menahan tangis. Entah kenapa hatinya terasa sangat perih saat Justin sengaja menghindar darinya, bahkan laki-laki itu sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya.


Air mata yang sejak tadi ditahan kini jatuh juga membuat Niki terisak, tentu saja suaranya itu mengagetkan Justin.


"Kenapa kau menangis?" Justin bingung sendiri jadinya.


"Kenapa, kenapa Anda menjauhiku, Tuan? Anda terus saja menghindariku, bahkan Anda tidak pernah menganggap aku ada."


Justin mengepalkan kedua tangannya, kenapa pula wanita itu berkata seperti ini? Apa dia tidak sadar, kalau laki-laki lain akan marah jika mereka berdekatan? Lalu, bagaimana dengan perasaannya sendiri?


"Anda bicara pada semua orang, tapi sekali pun tidak melihat ke arahku. Apa-"


"Cukup, Niki!"


Niki terpaksa menghentikan ucapannya saat mendengar suara Justin. "Tutup mulutmu dan jangan lagi menggangguku." Justin segera berbalik dan hendak pergi dari tempat itu.


"Kenapa? Memangnya apa salahku sampai anda melakukan ini padaku?" teriak Niki membuat Justin menghela napas kasar.


"Kenapa hanya aku yang kau benci, kenapa? Kenapa kau tidak bisa memperlakukan aku dengan baik? Padahal kan, aku, aku-" Niki tidak dapat melanjutkan ucapannya membuat Justin kembali menoleh ke arahnya.


Untuk beberapa saat mata mereka saling bertatapan, sampai akhirnya Justin memalingkan wajahnya karena teringat dengan Valdo. "Hiduplah dengan bahagia bersamanya, dan jangan lagi menggangguku."


"Hah, apa?" Niki terkejut dengan apa yang Justin ucapkan, sementara laki-laki itu sudah berlalu pergi ke mobilnya.


"Tunggu, kenapa dia mengatakan hal seperti itu?" Nika mengusap air matanya dan segera berlari untuk menyusul Justin yang sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Begitu mobil dinyalakan, Justin tidak bisa melajukannya karena tiba-tiba Niki berdiri tepat di depan mobil tersebut.


"Minggir!" teriak Justin, tetapi Niki merasa tidak peduli dan tetap berada di sana.


Justin merasa benar-benar kesal saat ini. Dia lalu membuka pintu mobilnya dengan kasar dan kembali turun menemui wanita itu.


"Sebenarnya apa maumu, hah? Kenapa kau terus saja menggangguku?" teriak Justin dengan suara tertahan,  wajahnya merah padam menahan rasa kesal dan sakit hati yang sedang dia rasakan.


Niki terdiam sambil menatap wajah Justin, dia juga memikirkan apa yang tadi laki-laki itu ucapkan.


Justin menghela napas kasar sambil berusaha untuk mengendalikan diri. "Cukup sampai di sini, Niki. Aku tidak mau lagi-"


Cup.


Ucapan Justin langsung terhenti saat tiba-tiba bibir Niki mendarat tepat di bibirnya.


"Aku tidak tau apa yang terjadi padamu, Tuan. Tapi, tapi yang aku tau adalah bahwa aku menyukaimu. Dan, dan tidak ada laki-laki yang lain," ucap Niki dengan terbata-bata. Wajahnya merah padam karena menahan malu dengan kepala tertunduk.


Niki semakin menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Justin. "Dasar gila. Kenapa aku melakukan ini sih?" Dia merutuki kebod*ohannya yang telah mencium bahkan mengakui perasaannya pada laki-laki itu.


Justin terus memperhatikan wajah Niki yang semakin memerah, lalu sebuah senyuman terbit di bibir laki-laki itu. "Apa kau benar-benar menyukaiku?"


Tubuh Niki menegang saat tangan Justin berada dipingging, dan menarik tubuhnya hingga menempel ditubuh laki-laki itu.


"Katakan sekali lagi." Justin memaksa Niki agar melihat ke arahnya.


"A-apa? Aku, aku-"


"Kau benar-benar menyukaiku?"

__ADS_1


Niki benar-benar kesal karena Justin terus saja mengulang-ngulang pertanyaan itu. Apa pernyatannya tadi belum jelas?


"Katakan, Niki. Apa kau-"


"Ya. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Apa kau puas?" ucap Niki dengan kesal, lalu sesaat kemudian dia menundukkan kepalanya karena rasa malu kembali menghantam.


Untuk pertama kalinya jantung Justin berdegup kencang karena ucapan Niki. Dia bahkan merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang menari-nari di dalam perutnya. "Tunggu, bagaimana dengan Valdo?"


"Bukannya kau menyukai Valdo?"


"Hah? Kak Valdo?" Niki mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Justin yang langsung mendapat anggukan dari laki-laki itu. "Aku tidak menyukainya, dan kami hanya sebatas adik kakak saja."


"Benarkah?" tanya Justin yang dijawab dengan anggukan kepala Niki.


Justin merasa benar-benar senang dengan apa yang Niki lakukan, dia tidak menyangka kalau perasaannya akan sangat bahagia seperti ini. "Ternyata aku benar-benar jatuh cinta denganmu, Niki. Sungguh luar biasa sekali." Dia tidak pernah membayangkan sebelumnya.


"Baiklah, aku harus segera pergi." Justin langsung melepaskan tangannya dari pinggang Niki membuat wanita itu menatap heran.


"A-Anda sudah mau pergi?"


"Ya. Ada banyak hal yang harus aku siapkan." Dia lalu kembali masuk ke dalam mobil dan menyuruh Niki untuk minggir.


Niki menuruti ucapan Justin, lalu laki-laki itu melambaikan tangannya dan berlalu pergi begitu saja meninggalkannya yang menatap dengan cengo.


"Tunggu, apa-apaan dia itu? Kenapa dia main pergi saja setelah mendengar pengakuan cintaku? Apa dia pikir, aku hanya ingin mengungkapkannya tanpa meminta balasan, hah?" Niki menjadi kesal dengan apa yang Justin lakukan. "Tau begini, aku tidak akan mengatakannya. Aaagggh!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2