Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 53. Bayaran Untuk Semuanya.


__ADS_3

Kedua orangtua Lidya saling pandang, mencoba untuk meyakinkan diri mereka tentang apa yang ingin disampaikan.


"Jadi Devan, apa, apa-"


Tring ...


Ayah Pian tidak dapat melanjutkan ucapannya saat ponsel Devan berdering, dengan cepat laki-laki itu mengangkat panggilan dari seseorang.


"halo, Niki?"


"Kakak di mana?"


Tenyata Niki lah yang sedang menelponnya, terdengar suara panik dari wanita itu membuat Devan jadi gelisah.


"ada apa? Apa terjadi sesuatu di kafe?"


"Ada, ada Nona Amora dan Tuan Justin di sini, Kak!"


Tut, Devan langsung mematikan panggilan telpon itu saat mendengar kalau Amora dan Justin ada di tempat itu. Dia segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobilnya.


"maaf Ibu, Ayah! Aku harus segera pergi!"


"Baiklah Nak, hati-hati!"


Devan menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari rumah, dia langsung ke dalam mobil dan melajukannya ke jalan raya.


Pada saat yang sama, Amora dan Justin sedang duduk di salah satu kursi untuk pengunjung. Biasanya mereka akan masuk ke dalam ruangan Devan, tapi entah kenapa saat ini lain dari pada biasanya.


"Maaf Nona, apa Nona butuh sesuatu?"


Niki memberanikan diri untuk bertanya pada Amora, walaupun tatapan Justin terasa menusuk seluruh tubuhnya.


"Tidak!"


Hanya satu kata itulah yang Amora ucapkan, tatapan yang selalu dingin terlihat semakin dingin dan menyeramkan dimata orang lain.


Semua karyawan Devan sudah tau kalau Amora lah pemilik dari kafe itu sekarang, jadi tidak heran kalau wanita itu sering datang ke tempat mereka bekerja.


"Kau tunggu apa lagi?"


Tubuh Niki terjingkat kaget saat mendengar suara Justin. "Ke-kenapa Tuan? Apa Tuan butuh sesuatu?" Glek, Niki menelan salivenya saat tatapan Justin sangat-sangat menakutkan.


"pergi!"


"Hah? Ba-baik Tuan!"

__ADS_1


Niki langsung berbalik dan berjalan ke arah meja kasir, sumpah demi apapun dia tidak akan lagi menanyai laki-laki menyeramkan itu.


Di tengah keadaan yang sangat mencekam itu, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang dengan santainya berjalan masuk ke dalam kafe.


"Hello, everybody! Apa kabar kalian semua?"


Semua mata langsung melihat ke arah lelaki itu, termasuk Amora dan Justin yang memandangnya dengan penuh tanda tanya.


"Kak Valdo?"


"Hay Sayangku, aku merindukanmu!"


Valdo langsung saja memeluk Niki membuat wanita itu sangat terkejut, sementara para pelanggan dan karyawan kafe bersiul meriah melihat momen yang sangat romantis itu.


Namun, semua itu tentu tidak mengubah tatapan dua orang yang ada di sudut ruangan. Terutama Justin, kedua matanya bahkan hampir melompat keluar dari kepalanya melihat apa yang Niki lakukan dengan seorang laki-laki.


"Lepaskan aku, Kak!"


Niki memberontak dalam pelukan Valdo, tentu saja laki-laki itu tidak peduli dan malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku merindukanmu, Sayang! Kenapa kau tidak mengerti?"


Valdo melepaskan pelukannya saat tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, sontak semua orang langsung terkejut saat melihat siapa yang melakukan semua itu.


"Jangan buat keributan yang bisa menganggu kenyaman pelanggan, dan kau!"


Glek, Niki terus menelan salivenya dengan takut. "Ba-baik Tuan, saat ini saya juga sedang kerja menerima pelanggan!"


Justin mengeraskan rahangnya saat mendengar ucapan Niki, dan entah kenapa rasa kesalnya semakin bertambah karna ucapan wanita itu. Lebih anehnya lagi, kenapa dia melakukan semua ini.


"Tunggu sebentar, sebenarnya siapa kau?"


Valdo yang sejak tadi diam memilih angkat bicara, dia berdiri tegak di hadapan Justin dengan tatapan tak kalah tajam darinya.


"itu bukan urusan anda!"


"Apa?"


Justin langsung berbalik dan kembali bersama Amora yang sejak tadi memperhatikannya, wanita itu bingung dengan apa yang Justin lakukan padahal dia tidak menyuruh apapun. Apalagi saat melihat interaksi antara Justin dan laki-laki itu, terlihat jelas mereka sedang mengibarkan bendera perang.


"Kakak baik-baik saja?" tanyanya setelah Justin kembali duduk.


"Tentu saja, Nona! Maaf jika anda merasa tidak nyaman!"


Amora menggelangkan kepalanya, bukan dia yang merasa tidak nyaman sekarang, tetapi hatinya.

__ADS_1


Valdo yang keheranan melihat laki-laki itu langsung mencecar Niki dengan segudang pertanyaan, tetapi wanita itu tidak menjawab dan malah meninggalkannya untuk mengantar pesanan.


Diluar kafe, tampak Devan baru saja memarkirkan mobilnya. Dia segera turun dan masuk ke dalam kafe yang tampak lumayan ramai.


Senyum lebar terbit dibibir Devan saat melihat keberadaan Amora, dia segera berjalan cepat untuk menghampiri wanita itu.


"Devan!"


Belum sempat kaki Devan sampai di dekat Amora, sudah ada saja yang memanggilnya membuat dia terpaksa memalingkan wajah.


"Loh, Valdo? Tumben?"


Valdo melambaikan tangannya untuk meminta Devan mendekat, tetapi dia membuat gerakan tunggu karna ingin lebih dulu bicara pada Amora.


Amora dan Justin yang mendengar nama Devan langsung menatap laki-laki itu dengan tajam, sementara Devan sendiri tidak sadar dan berjalan cepat ke arah mereka.


"Amora, kau sudah dari tadi di sini?"


Amora menganggukkan kepalanya sambil memberi kode pada Justin untuk memberi sesuatu pada Devan, Devan sendiri ikut duduk di samping Amora dengan tenang.


"Amora, aku ingin mengucap-"


Devan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Justin meletakkan sebuah amplop di atas meja, tepat di hadapannya.


Dia lalu melihat ke arah Amora dengan heran, seolah-olah sedang bertanya apa yang ada dalam amplop itu.


"Buka, dan bacalah!"


Devan segera mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya, sontak dia langsung terkejut saat melihat sertifikat kepemilikan tanah dan kafe tempatnya bekerja.


"apa maksud semua ini, Amora?"


"Anggap itu sebagai bayaran atas apa yang sudah kau lakukan untukku, selama ini aku lupa membayarmu!"


Deg, jantung Devan terasa sakit saat mendengar ucapan Amora. "Ba-bayaran? Bayaran apa maksudmu?"


Amora langsung berdiri membuat Justin dan Devan ikut berdiri, dari kejauhan Valdo juga memperhatikan apa yang mereka lakukan.


"bayaran karna kau sudah menjadi anak buahku, juga bayaran karna kau sudah menciumku dan membuatku suka!"


"A-apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2