Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 73. Kekhawatiran Membelenggu Jiwa.


__ADS_3

Semua persiapan untuk melawan Lucas sudah selesai, saat ini Amora dan Justin sudah berada di markas karna hanya tinggal hitungan 1 jam saja untuk menyambut kedatangan laki-laki paruh baya itu.


Devan yang masih berada di kafe merasa sangat gelisah, entah apa yang sedang terjadi hingga perasaannya menjadi tidak nyaman seperti ini.


"Lebih baik aku telpon Amora saja!" Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi wanita itu, sampai tiga kali menelpon barulah Amora mengangkat panggilannya.


"apa kau sedang sibuk, Amora?" tanya Devan.


"tidak, ada apa?"


"Tidak ada, aku hanya merindukanmu saja!"


Amora yang ada disebrang telpon tersenyum cerah, dia juga ingin bertemu dengan Devan tetapi ada hal lain yang lebih penting dari perasaannya.


"Kenapa kau diam? Pasti kau merasa senang kan, mendengarnya?" Dia yang bertanya, tapi dia juga lah yang sedang senyam-senyum sekarang.


"tentu saja, aku senang karna kau merindukanku!"


"Baiklah, sekarang aku akan ke rumahmu!" Devan berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruangannya.


"Besok saja!"


Langkah Devan terhenti saat mendengar ucapan Amora. "Besok? Kenapa?"


Amora yang ada disebrang telpon terdiam, dia tidak ingin Devan ikut campur dalam permasalahannya dengan Lucas. Dia takut kalau laki-laki itu akan terluka, karna dia sendiri belum tentu bisa menyelamatkan diri.


"Malam ini aku ada pekerjaan penting!"


Devan mengernyitkan keningnya, dia tau kalau pekerjaan penting yang Amora maksud pasti tentang perkelahian. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Aku akan segera ke sana, kirim lokasinya sekarang juga!"


"Ini hanya masalah kecil, cuma butuh waktu 1 jam saja untuk menyelesaikannya!"


Kali ini Devan merasa curiga, sebelumnya Amora pasti akan selalu mengajaknya untuk melawan musuh-musuh wanita itu. Baik yang lemah dan yang kuat, dia selalu ikut bersamanya.


Namun, kenapa sekarang wanita itu seperti sedang melarangnya? "Katakan padaku kau di mana, Amora? Dan siapa yang kau lawan?"


"aku tutup telponnya!"

__ADS_1


"Tidak, A-"


Tut. Panggilan itu terputus begitu saja membuat Devan merasa kesal, dia yakin kalau Amora sedang menyambunyikan hal besar darinya.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus mencarinya ke mana?" Dia merasa bingung sekarang, lalu dia memutuskan untuk menelpon Justin berharap kalau laki-laki itu mau mengatakan semuanya.


"halo?"


"Tuan, tolong katakan di mana anda saat ini!"


Justin yang ada di samping Amora melirik ke arah wanita itu, dia tau kalau Amora tidak mau Devan berada dalam bahaya. "Jika Nona saja tidak mau mengatakannya, bagaimana bisa aku mengatakannya padamu?"


"Aku mohon, aku ingin bersama kalian! Apa kalian tidak percaya dengan kemampuanku? Aku sudah banyak berlatih, aku juga sudah berjanji untuk melindungi Amora. Tolong!"


Justin terdiam, dia lalu meloadspeakerkan ponselnya agar Amora bisa mendengar suara Devan. "Aku tidak bisa membantah perintah Nonaku!"


"Aku mohon, aku sangat mencintai Amora! Aku tidak bisa membiarkannya sendirian seperti itu, tolonglah katakan padaku kalian di mana! Aku mohon!" Devan terus memohon agar Justin mau mengatakannya.


Justin yang masih berada di samping Amora melirik ke arah Nonanya. "Nona, saya rasa Devan-"


"Tidak, aku tidak mau dia berada dalam bahaya!"


Amora tetap teguh pendirian untuk tidak mengatakan sedang di mana dia saat ini, dan Devan juga tidak bisa melacak keberadaan orang lain seperti Justin.


"Apa kau akan bertarung dengan Lucas?"


Amora dan Justin saling pandang saat mendengar suara Devan, dengan cepat Amora mematikan panggilan itu dan mengatakan agar Justin tidak perlu mengangkat panggilan dari laki-laki itu.


Devan yang masih berada di kafe langsung membanting ponselnya saat panggilan itu dimatikan, tanpa dia sadari kalau saat ini Samy melihat apa yang sedang dia lakukan.


"Devan!"


Tubuh Devan terjingkat kaget saat mendengar suara Samy. "Ka-kak? Apa yang kakak lakukan di sini?"


Samy tersenyum sambil mendekati Devan yang tampak sangat terkejut saat melihatnya. "Kakak tidak sengaja lewat sini, jadi sekalian mampir!"


Devan menganggukkan kepalanya lalu mengajak Samy untuk masuk ke dalam ruangannya, dia lalu menyuruh Niki untuk membawa makanan dan minuman untuk laki-laki itu.

__ADS_1


"ada apa, Devan? Kenapa kau membanting ponselmu?" tanya Samy yang sempat melihat laki-laki itu membanting ponselnya.


Devan menghela napas frustasi. "Aku sedang mencari Amora, tapi dia tidak mau memberitahukan keberadaannya padaku!" Dia lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


"kenapa? Bukankah biasanya kau selalu ikut dengannya?"


"Itu masalahnya, Kak! Kenapa saat ini aku tidak boleh ikut? Padahal dia sedang melawan seseorang sekarang!"


Samy mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dia pasti tidak mau melihatmu dalam bahaya, itu sebabnya dia tidak mengizinkanmu ikut!"


"Ck, ucapan Kakak sama persis dengan apa yang dia bilang! Padahal aku bisa melindungi diri sendiri, aku juga ingin melindunginya!" Dia kembali menghela napas berat.


"Adikku itu wanita yang sangat kuat, kau tidak perlu khawatir padanya. Aku juga tidak pernah diizinkan untuk ikut saat dia sedang bertarung, entah karna dia khawatir, atau memang tidak mau kalau aku mengganggunya!" Samy tersenyum, tapi hatinya terasa sakit saat mengingat sikap dingin Amora padanya.


Devan yang mengerti perasaan Samy langsung menepuk bahu laki-laki itu. "Dia sangat menyayangi Kakak, Kakak harus tau itu!"


Samy menganggukkan kepalanya dengan terkekeh pelan. "Aku tau, Devan! Itu sebabnya aku merasa sangat khawatir!" Dia khawatir bagaimana reaksi Amora saat mengetahui kebenaran tentangnya.


"Tapi, apa Kakak tidak tau dia sedang ada di mana? Aku benar-benar merasa khawatir!"


Samy menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, tapi kalau mau. Aku bisa mencaritau untukmu!"


"benarkah?"


"Ya, aku akan menyuruh sekretarisku untuk-"


Tiba-tiba ucapan Samy terhenti saat mendengar dering ponselnya, dia lalu mengambil benda pipih itu dan mengangkat panggilan dari sekretarisnya.


"halo?"


"halo, Tuan! Ini gawat Tuan, Nona Amora dan Tuan Lucas sedang bertemu saat ini!"


"Apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2