Salah Masuk Kamar Pengantin

Salah Masuk Kamar Pengantin
Bab. 45. Hancurkan Tempat ini!


__ADS_3

Amora terus menenggak minuman dengan kesal, dadanya panas membara melihat apa yang Devan lakukan sementara Devan memasang wajah bingung melihat tingkah Amora saat ini.


"Apa yang kau lakukan dengan alat perekam tadi?"


Tiba-tiba Justin bertanya membuat Devan memalingkan wajahnya dari Amora. "Oh iya, saya memasangkannya di bawah meja Lucas!"


Justin melihat dengan tidak percaya, dia lalu mengambil ponselnya untuk memeriksa apakah yang dikatakan laki-laki itu benar atau tidak.


"Benar!"


Justin melirik ke arah Devan yang tersenyum bangga, sepertinya laki-laki itu sedang menyombongkan diri atas apa yang sudah berhasil dia lakukan.


Kemudian Justin beranjak mendekati Amora dan duduk di samping gadis itu. "Nona, tolong dengarkan rekaman ini!"


Amora melihat sekilas, lalu mengambil earphone yang Justin beri padanya dan meletakkan earphone itu ditelinganya.


"jadi, kau gagal membunuh pemilik klub baru itu?"


"Maaf, Tuan! Saya tidak tau kalau dia ternyata sangat hebat, bahkan semua orang-orang suruhan saya mati ditangannya!"


Amora fokus mendengar percakapakan yang berasal dari earphone itu, dia yakin kalau ini adalah suara Lucas.


"siapa dia?"


"dia seorang wanita, Tuan! Dia berasal dari Kota sebelah, dan waktu itu orang-orang suruhan saya menyerangnya di pemakaman!"


"Kenapa di sana? Bukannya kau sendiri yang bilang tidak tau identitasnya?"


Amora dapat mendengar dari nada bicara Lucas kalau laki-laki itu sedang marah saat ini, tetapi kemudian dia panik kalau sampai Roberto memberitahu tentang dia pada laki-laki itu.


"Saya memang tidak tau identitasnya, tapi mata-mata saya mengatakan kalau orangtua wanita itu dimakamkan di tempat itu!"


Amora langsung berdiri membuat Justin dan Devan melihatnya dengan bingung. "Perintahkan semua anggota untuk menghancurkan klub ini!"


Jelas saja perintah Amora membuat kedua lelaki itu sangat terkejut, padahal sebelumnya Amora tidak memperbolehkan adanya penyerangan.


"Nona?"


"Lakukan sekarang juga, kita tidak punya waktu!"


Amora menatap Justin dan Devan dengan tajam membuat kedua lelaki itu terpaksa menganggukkan kepala. Kemudian mereka beranjak keluar dari tempat itu untuk menjalankan semua perintah dari gadis tersebut.


Amora sendiri sedang memperhatikan kesemua penjuru klub, dia harus membuat keributan di tempat itu agar Lucas dan Roberto menyudahi obrolan mereka.


"Siapa? Siapa nama orangtuanya?"


Deg, Amora menegang saat mendengar Lucas menanyakan nama orangtuanya pada Roberto. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung berjalan ke tengah lantai dansa sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya agar anak buah Roberto tidak curiga.


Mata Amora memperhatikan semua cctv yang ada diklub itu, tetapi dia akan membereskan semua itu nanti. Sekarang dia harus melakukan sesuatu dulu, dengan cepat dia menyelinapkan diri dan mengambil sebuah pistol yang ada di saku celananya.


Dor!

__ADS_1


Satu tembakan berhasil menggema di tempat itu bersamaan dengan tumbangnya salah satu tubuh anak buah Roberto, sontak semua orang langsung panik dan berteriak ke sana kemari.


Amora segera berguling ke bawah meja DJ, sebelum dipijak oleh orang-orang yang berlarian ke sana kemari. Kemudian dia kembali menghunuskan pistolnya ke arah anak buah Roberto.


Dor


Dor


Dor


Lucas dan Roberto yang ada di dalam ruangan jelas mendengar semua tembakan itu, mereka beranjak dari tempat itu untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Banyaknya pengunjung yang berlarian tentu membuat mereka berdua tidak bisa bergerak, sementara semua anak buah Roberto langsung bergerak untuk mencari dalang dari keributan itu.


Amora tersenyum sinis melihat Lucas dan Roberto dari bawah meja, dia lalu keluar dari sana dan meloncat ke atas tangga untuk mengamankan cctv.


Pada saat yang sama, Justin dan Devan berpencar untuk menyerang dari segala arah dengan ditemani 3 orang anak buah yang masing-masing ikut dengan mereka.


Mendengar suara tembakan dari dalam klub, Justin langsung memerintahkan semuanya untuk menyerang. Dia tau kalau tembakan itu berasal dari pistol Amora, dan dia harus segera mengamankan tempat ini sebelum polisi datang.


Devan juga tidak tinggal diam, dia segera menyerang dari arah belakang tempat di mana para pekerja klub berlarian.


Dor


Dor


Dor


Amora yang sudah berada di ruang kendali cctv bergegas untuk merusak semua bukti keberadaannya, dan semua anggota agar mereka tetap tidak dikenali.


"Bagus, sebentar lagi!"


Hanya tinggal menunggu 20% lagi maka semua pekerjaannya akan berhasil, tetapi siapa sangka seorang lelaki masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menodongkan pistol padanya.


"Siapa kau?"


Amora terdiam saat ada seseorang yang menodongkan pistol di sampingnya, matanya melirik ke layar monitor yang menampakkan 15% lagi berhasil.


"Si*al!"


Dia langsung berbalik dan melempar kursi tepat mengenai tangan lelaki itu, membuat pistol yang ada ditangannya terjatuh.


Dengan cepat Amora menendang tubuh lelaki itu yang akan kembali mengambil pistol sampai tersungkur di atas lantai.


Brak!


Amora segera mengambil pistolnya dan menodongkan tepat ke tubuh laki-laki itu.


Dor


Dor

__ADS_1


Darah segar mengucur deras bersamaan dengan hilangnya nyawa orang tersebut, sementara Amora bergegas keluar dari sana untuk melihat situasi.


"Tembak dia!"


Begitu Amora keluar, semua anak buah Roberto langsung menembakinya membuat dia langsung menghindar dan kembali menutup pintu.


"Si*al, ini tidak bisa dikunci!"


Amora segera berbalik dan berlari ke arah jendela, dia melihat ke arah bawah dan bersiap untuk melompat.


"Tangkap dia!"


Bruk!


Tanpa pikir panjang lagi, Amora melompat dari jendela yang ada di lantai 2 sampai tubuhnya berguling ke rerumputan.


Dor


Dor


Dia segera bangun karna mereka kembali menembakinya dari atas, Amora meloncat ke atas sebuah gazebo dan kembali meloncat ke arah belakang.


"Hah, hah, hah!"


Napasnya tersengal-sengal dengan rasa sakit yang terasa meremukkan tulang-tulangnya, dari kejauhan dia bisa melihat keberadaan Justin yang sedang melakukan serangan.


Amora segera menyelinap dan membidik semua musuh-musuhnya, dia lalu mengambil 2 buah pistol yang tergeletak di atas tanah.


Dor


Dor


Dor


Dor


Justin melihat ke arah samping dan tersenyum saat melihat Amora, sementara lawan mereka sudah tumbang semua terkena tembakan wanita itu.


Tanpa Amora sadari, dari belakang Roberto sedang membidikkan senjatanya tepat ke kepala wanita itu membuat Justin membulatkan matanya.


"Nona!"


Dor!





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2